Akses Jalan Cipasung Menuju Kecamatan Subang Rusak Parah

jalan01Bagi warga Subang, Selajambe, dan Cilebak, keberadaan Taman Kota, Taman Cirendang, Taman Winduhaji, dan Taman Windusangkan merupakan sebuah ironi. Ketika taman itu dibuat dengan biaya mahal, warga di tiga kecamatan tersebut tidak menikmati sepenuhnya keindahan Kuningan Kota.

Lebih ironis lagi ketika pemerintah dengan mudah mengeluarkan dana untuk pembuatan taman. Namun ketika jalan rusak, untuk memperbaikinya sangat sulit.

“Saya terkadang sedih, taman kota mewah dibangun dan manfaatnya kurang. Tapi ini, akses jalan ke Subang dan Selajambe rusak parah, dibiarkan,” ucap Didi Rohendi, warga Subang kepada Radar, kemarin (7/3).

Jalan yang rusak, kata dia, dari mulai Cipasung, Selajambe hingga Subang dengan jarak lebih dari 45 kilometer. Kondisi jalan parah sudah terjadi sejak lama dan kalau diperbaiki hanya ditambal saja.

Jalan rusak membuat warga menderita karena perjalanan terganggu. Kendaraan pun cepat rusak. Banyak warga yang frustrasi dengan kondisi ini.

“Kalau melihat jalan rusak, kami merasa dianaktirikan. Bagi kami, jalan adalah hal yang penting daripada membuat taman. Menurut warga, dengan membuat taman hanya menghasilkan generasi muda yang suka nongkrong. Ketika ada Hutan Kota Bungkrit dan Mayasih pun, digunakan untuk pacaran, hingga bolos sekolah,” ucap Didi lagi.

Supendi, warga Subang lainnya meminta pemerintah untuk tanggap dengan masalah ini. Menurut dia, jangan bedakan antara jalan kota dan jalan desa. Sebab, dalam hal membayar pajak, semua memiliki kewajiban yang sama.

Sejumlah warga Kuningan Selatan meminta pemerintah memberikan sikap tegas terhadap kondisi pengerjaan jalan di daerah Kecamatan Selajambe-Subang-Cilebak. Pasalnya, pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas umum ini terlihat asal jadi saja.

Pengerjaan Jalan Diduga Asal-asalan

“Seharusnya dalam pembangunan bersumber dana pemerintah ada petugas lapangan. Maksudnya, untuk menindak tegas pelaksanaan kerja agar maksimal,” kata Maman (29) salah seorang pengendara yang mengaku warga Kecamatan Subang, Rabu (28/04).

Menurutnya, pelaksanaan pembangunan jalan di wilayah Kuningan Selatan ini memang setiap tahunnya mendapat perbaikan. Sehingga tidak menutup kemungkinan, daerah ini menjadi budaya penyerapan anggaran pemerintah untuk sarana prasarana umum.

“Sebetulnya kami bosan dengan pelaksanaan pembangunan di jalan ini. Habisnya, tak ada satupun pekerjaannya yang mantap dan bagus. Kami jamin setelah selesai satu bulan pasti ambrol lagi,” katanya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa, Jeje mengatakan, baiknya pemerintah itu berani mendatangkan pengembang yang handal. Sebab, pelaksanaan kerja pembangunan yang dilakukan seperti saat ini, sepertinya tak paham teknis. “Masa musim hujan seperti ini dipaksakan membangun jalan. Apalagi dalam pengecorannya itu kurang bermutu. Ya, lihat saja kang, semuanya mengandalkan manual,” ucap mahasiswa yang sepekan sekali pasti melewati jalan ini.

Pantauan di lokasi, dalam pengerjaan proyek pembangunan jalan tidak disertai dengan tertib administrasi lainnya. Misalnya papan informasi pelaksanaan kerja dan gundang sebagai syarat bahwa adanya pekerjaan di lahan tersebut. (Ipay)

Sumber: http://www.cirebontrust.com/

About pamulihan

Editor

Posted on 30/04/2015, in Paguneman. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: