Sejarah Undak Usuk Bahasa dan Menak Sunda

Menak menurut kamus bahasa Sunda Danadibrata berarti ngeunah-ngeunah. Kata tersebut berasal dari bahasa Kawi, mainak, dan diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi enak. Arti lain adalah orang yang mempunyai pangkat tinggi pada jaman kolonial. Namanya juga jaman kolonial setiap pegawai pemerintah dianggap menak, serendah apapun itu. Kemana pergi pasti dihormat, apalagi kalau turun ke desa-desa. Mereka biasa disebut Ambtenaar. Mungkin saking terkenalnya, bisa jadi kata tenar asalnya dari ambtenaar itu. Pendapat menjadi pegawai pemerintah itu enak, nampaknya masih melekat sampai sekarang.

Menjadi pegawai pemerintah dalam hal ini pegawai negeri sipil (PNS) itu bukan saja enak, melainkan juga mulia. Coba saja simak teks sumpah atau janji yang diucapkan oleh seseorang yang diangkat menjadi PNS. Bagi yang beragama Islam dimulai dengan kata-kata “Demi Allah saya bersumpah”. Itu adalah setinggi-tingginya sumpah. Bila melanggar sumpah itu, dia harus siap menerima laknat.

Pasti setiap PNS hafal diluar kepala akan sumpahnya, mereka bukan saja hafal tetapi betul-betul melaksanakannya dalam keseharian. Umpamanya setia kepada negara, menjungjung tinggi kehormatan negara, bekerja jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan negara.

Hanya orang mulialah yang bisa melaksanakan sumpah atau janji semacam itu. Kemuliaan lain adalah karena tugasnya memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan.

Sekarang setelah 68 tahun Indonesia merdeka, rakyatlah yang harus dilayani oleh PNS, sebagai pengabdian dengan ketulusan hati. Itulah kemuliaan. Mulia menurut kamus bahasa Indonesia berarti tinggi kedudukan atau martabatnya, luhur budinya dan bermutu tinggi.

Jumlah PNS pada tahun 2014 sekitar 4,5 juta orang. Mereka memberikan pelayanan kepada seluruh penduduk Indonesia yang jumlahnya sekitar 250 juta orang. Itu pekerjaan yang tidak bisa dianggap enteng. Coba bayangkan apabila semua PNS sakit secara serentak dan bersamaan selama seminggu, sehingga tidak bisa memberikan pelayanan, pasti negara ini akan kalang kabut.

Karena begitu mulianya, setiap PNS diberi penghargaan naik pangkat reguler setiap 4 tahun, asal dinilai baik (yang disebut orang mulia mana ada yang tidak baik). Pintar tidak pintar atau rajin tidak rajin tetap naik pangkat.

Untuk mendapatkan nilai baik, dengan guyon, muncul istilah filsafat tangan. Pertama cium tangan. Artinya memberi penghormatan kepada yang lebih senior atau atasan. Kedua buah tangan. Jangan disebut upeti karena jelek tetapi lebih kepada rasa penghargaan dan kekerabatan. Ketiga campur tangan. Keberhasilan meniti jenjang karir tidak lepas dari campur tangan beberapa pihak. Keempat tanda tangan. Sebagai pengesahan keberhasilan. Kelima garis tangan. Ini lebih kepada nasib. Keenam jabat tangan. Sebagai hasil akhir keberhasilan kedua pihak. Namum dalam meniti karir ada juga yang memakai filsafat ngojay gaya bangkong (berenang gaya kodok). Ka luhur sumuhun dawuh ka handap nincak ka rayat peupeuleukeuk, ke atasan asal bapak senang, ke bawahan menginjak ke rakyat tidak hormat.

Munculnya Undak Usuk Bahasa Sunda

Mayoritas ulama bahasa Sunda memandang bahwa bahasa Sunda yang asli, tidak mengenal undak usuk. Terdapatnya Undak Usuk Bahasa Sunda (UUBS) bersumber dari bahasa Jawa yang bermula dari imperialisme yang dilakukan Mataram terhadap kerajaan Sunda.

Menurut (mayoritas) ulama bahasa Sunda [Anda berhak untuk mengganti dan atau menghilangkan kata di dalam kurung berikut tanda kurung buka dan kurung tutupnya!], Undak Usuk Bahasa Sunda (UUBS) itu merupakan pengaruh bahasa Jawa. Mosok gak yakin kata-kata Kiayi. Guru, ratu, wongatua karo! Lha, guru itu kan kudu digugu lan ditiru! Lagian, al-‘Ulamau’ warasatil-anbiya, kan?”

Ya, dahulunya, hingga pada awal abad ke-17, bahasa Sunda itu tidak mengenal undak-susuk. Runtuhnya Kerajaan Sunda (1579/1580), dijajahnya Kerajaan Galuh (1595) serta Kerajaan Sumedanglarang (1620) oleh Mataram-lah yang kemudian menjadi jalan akan lahirnya UUBS. Anda tentu tahu Mataram. Ya, ialah Jawa. Mataramlah yang kemudian dapat menguasai wilayah-wilayah yang sekarang dikenal dengan Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Bandung, Sukabumi dan Cianjur.

Pada masa itu, timbul kontak budaya yang begitu dekat antara Sunda dan Jawa. Tidak sedikit kebudayaan Jawa yang masuk (atau bahkan dimasuk-masukkan oleh golongan tertentu dari orang Sunda sendiri) ke dalam budaya Sunda, termasuk dalam hal aksara, bahasa, berikut undak-usuknya, tentunya. Ya, bahasa Jawa-lah yang terlebih dahulu mengenal undak-usuk . Itu terpengaruhi oleh kebudayaan Hindu yang membagi golongan sosial masyakat ke dalam beberapa kasta. Kasta Brahma, Satria, Waisya, Paria dan Sudra, memang masing-masingnya memiliki bangunan bahasanya sendiri-sendiri.

Yang menjadi bukti bahwa UUBS itu berasal dari bahasa Jawa, misalnya, ditemukan berdasarkan hasil penelitian salah seorang ahli Belanda, Sierk Coolsma. Ia sempat mengadakan penelitian, berbentuk kamus, dengan cara membuat perbandingan 400 kosakata halus dan 400 kosakata kasar antara bahasa Sunda dengan Jawa. Hasilnya, 300 kosakata halus dan 275 kosakata kasar dalam bahasa Sunda berasal dari bahasa Jawa. Tapi dalam hal pemakaiannya acapkali mereka bersebelahan.

Misalnya saja, baik orang Sunda maupun Jawa tentu mengenal kata-kata semacam “abot”, “impén”, “anom”, “bobot”, “lali”, “pungkur”, “sasih”, “tunggang”, dsb. Nah, kata-kata itu, kalau di dalam bahasa Sunda termasuk kosakata halus, sedangkan dalam bahasa Jawa termasuk kasar. Sebaliknya, kata-kata semisal “béja”, “bulan”, “datang”, “pindah”, “suku”, “tumpak”, dll. Yang dalam bahasa Sunda tergolong kasar, dalam bahasa Jawa malah halus.

Bukti lainnya, jika Anda sempat membaca naskah-naskah Sunda kuno yang ditulis sebelum abad ke-17, Anda akan menemukannya di sana. Dalam naskah-naskah itu nampak bahwa sebelum adanya pengaruh Mataram, bahasa Sunda itu tidak mengenal UUBS.

Sadatangna sang apatih ka Galunggung, carék Batara Dangiang Guru, “Na naha béja siya, sang apatih?”. “Pun kami dititah ku Rahyang Sanjaya ménta piparintaheun adi Rahyang Purbasora.”

Dialog di atas penggalan dari orang atas penggalan naskah Carita Parahyangan yang ditulis pada abad ke-16. Jika dicermati, kata “carék” itu menurut ukuran UUBS sekarang termasuk bahasa kasar. Jika pada masa itu UUBS sudah ada, apa mungkin seorang penulis naskah menggunakan kata itu saat membicarakan Batara? Lalu, kata-kata “dititah”, “ménta”, dan “piparéntaheun”, menurut ukuran UUBS sekarang termasuk kata-kata kasar. Apa mungkin seorang Patih menggunakan kata-kata itu kepada Batara, jika memang UUBS itu sudah ada?

Lantas siapa yang memulai menggunakan atau mengajarkan UUBS itu? Merekalah para bupati dan ménak Sunda. Mengapa? Sebab pada masa kekuasaan Mataram, setiap tahunnya mereka wajib séba. Di samping itu, banyak ménak-ménak Sunda yang berhaji di Mataram untuk menerima perintah raja sambil mesantren dan belajar kabudayan Jawa, termasuk kabiasaan dalam hal menggunakan bahasa, tentunya.

Lebih jauh lagi, muncullah sebuah pandangan di kalangan para ménak Sunda yang menganggap bahwa bahasa Sunda itu merupakan bahasa kampungan, bahasa somah, bahasa cacah kuricakan, bahasa rakyat jelata; sungguh tidak pantas untuk dipergunakan di kalangan mereka. Ketika meraka melakukan surat-menyurat, misalnya, mereka senantiasa melakukannya dengan bahasa Jawa. Bahkan, jika menerima surat berbahasa Sunda, mereka menganggapnya sebagai sebuah penghinaan. Sebaliknya, bahasa Jawa adalah bahasa ningrat, bahasa keraton, bahasa yang sepatutnya mereka gunakan untuk memperkokoh kedudukannya.

Para ménak itu sungguh tertarik dengan undak-usuk yang terdapat dalam bahasa Jawa. Mereka kesengsrem dengan tatakrama bahasanya. Maka ketika mereka terpaksa harus menggunakan bahasa Sunda, mereka mengadopsi undak-usuk yang terdapat dalam bahasa Jawa itu. Menyebarkan dan mengajarkan serta menerapkannya ke dalam bahasa Sunda. Bahasa halus yang fungsinya untuk menghormati para ménak, pada masa itu sangat digembor-gemborkan!

“Yeuh, aing ménak. Lo jangan ngomong sembarangan sama gue! Lo kudu punya tatakrama! Mulai sekarang, ngomong sama gue harus dibedain dengan ngomong sama binatang! Ngerti?”

Dari sinilah rasanya awal munculnya jurang pemisah dan pengkotak-kotakan golongan pada masyarakat Sunda. Kok, saya malah merasa bahwa sebelum itu, tidak nampak pembedaan status sosial yang dicerminkan dengan cara berbahasa. Ya, sebab itu tadi. Awalnya kan bahasa Sunda tidak mengenal undak-usuk atau tingkatan-tingkatan itu. Ia adalah bahasa yang egaliter dan demokratis. Mau ngomong sama ménak ke, mau sama cacah ke, kalau pake bahasa Sunda, ya udah bahasa Sunda aja! Ngapain dibeda-bedain! Harus halus lah! Harus sedang lah! Lha, semua manusia itu kan sama. Inna akramakun ‘inda Allah-i atqakum. Cuman itu kan yang membedakan. Coba lihat bahasa Qur’an, kata “anta” atinya anda, pengganti nama orang kedua tunggal kepada Allah kadang-kadang menggunakan kata Anta begitu pula kepada Nabi dan sahabat lainnya.

Begitulah, setibanya Belanda ke Tatar Sunda, jurang pemisah derajat sosial itu bukannya hilang. Ia malah kian menganga. Dan, ini terus berlangsung hingga munculnya revolusi nasional yang disudahi dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Barulah pada Konferensi Bahasa Sunda 1953 di Bandung, fungsi bahasa halus yang asalnya digunakan khusus untuk berbicara kepada para menak menjadi digunakan kepada siapa saja yang layak dihormati, terutama kepada yang usia dan atau kedudukannya lebih tinggi.

Kita lanjutkan cerita tentang UUBS. UUBS itu berasal dari bahasa Jawa. Banyak juga kosakata Sunda yang berasal dari bahasa Jawa. Coba saja, tanpa membaca penelitian Coolsma pun, jika Anda kebetulan orang Jawa, lalu Anda mendengar percakapan atau membaca tulisan Sunda yang menggunakan bahasa halus, banyak kan yang Anda mengertii dari kata-katanya itu?

Maka tak heranlah kalau pada awal kedatangan Belanda ke Pulau Jawa, mereka menganggap bahasa Sunda itu sebagai salah satu dialek bahasa Jawa (bergjavaans, Jawa Gunung). Lalu dianggapnya sebagai varian dari bahasa Jawa. Orang Sundanya sendiri dianggap sebagai keturunan orang Jawa yang mendiami pegunungan. Hahahaha… memang enya, urang Sunda mah urang gunung. Gawéna gé ngahuma jeung nyawah! Sok geura, urang Jawa mah sakitu agréngna bisa nyieun Candi Borobudur. Urang Sunda mah paling banter gé nyieun ranggon atawa saung kebon anu hateupna maké daun eurih atawa jarami garing, bari jeung saungna téh réyod deuih.

Kendatipun kemudian Thomas Stamford Raffles lewat bukuna The History of Java (1817), John Crawfurd dalam History of The Indian Archipelago (1820), atau kemudian Andreas de Wilde pada 1829 sudah memisahkan orang Sunda dari Jawa, namun mereka masih menganggap bahasa Sunda itu sebagai varian dari bahasa Jawa, yang oleh Crawfurd disebutnya sebagai minor language of the archipelago. Baru pada 1841-lah bahasa Sunda dianggap sebagai bahasa tersendiri dengan terbitnya Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek karya Taco Roorda.

Heueuh, bener tah anu nyebutkeun Sunda “dicipta” Belanda. Atau menurut saya “dibangunkan” Belanda. Itu pun jika Anda sepakat bahwa orang Sunda pernah tidak melek alias tertidur.

Jadi inget kana tatarucingan: “Beunghar mana urang Jawa jeung urang Sunda?” Cenah téh, “Sok wé bandingkeun ku sorangan, urang Jawa mah bogaeun pulo (pulo Jawa), ari urang Sunda mah ukur bogaeun selat (selat Sunda).”

Tapi nu jelas mah euy, urang téh apal pan dina palajaran geografi aya nu disebut “Sunda Islands” nyaéta island group of the Malay Archipelago between the South China Sea and the Indian Ocean. It consists of two groups, the Greater Sunda Islands, which include Sumatra, Java and Borneo (Kalimantan), and the Lesser Sunda Islands, which include Bali and Timor. Tuh, jelas pan, Jawa gé asup ka pulo Sunda. Jadi salah mun nyebutkeun Sunda aya di pulo Jawa.

Ceuk ahli antropologi urang bulé mah, aya siah “Java man”, early human skeleton: a fossil human being found in Java and elsewhere in Indonesia, assumed to be from the Paleolithic Age. Aya teu “Sunda man”? Tah “Java man” téh cenah, “The body and limbs are very similar to those of Homo Sapiens, but the brain and skull are smaller.

Tapi bener loh, “sunda” itu asalnya untuk menunjuk kepulauan nusantara. Nih dengerin: Kata sunda itu asalnya dari Arab. “sin”, “nun”, “dal” jadi “sanadun”. Coba tanya sama orang yang ngerti bahasa Arab. Apa itu “sanadun”? Ialah “tempat kembali yang kaya akan hasil bumi/pertanian”. Lho, kok dari bahasa Arab sih? Gak salah tuh? Lha emang. Yang ngasih namanya kan orang Arab. Itu tuh, sekitar masa berkuasanya Bani Umayah dan Abbasiyah lah. Tau kan? Lha, orang Islam itu jauh lebih dulu mengenal dunia. Kan mereka dapet petunjuk dari Alqur’an. Sedang yang mempopulerkannya itu para penjelajah kemudian, seperti bangsa Inggris, Portugis, dan Belanda.

Nah, kepulauan Nusantara itu kan banyak menghasilkan hasil pertanian. Ya, semacam rempah-rempah itu. Pokoknya kehijauan deh. Makanya ia disebut “sanadun”. Sebenarnya bukan kepulauan Nusantara saja sih. Banyak juga tempat-tempat lainnya yang disebut demikian. Mereka menyebutnya karena memang sangat jauh berbeda kalau dibandingkan dengan tanah Arab. Cuman, kata “sanadun” ini berbeda pelafalannya. Orang Belanda menyebutnya menjadi “sunda” (itulah Sunda Island). Inggris menyebutnya menjadi “shindu” (untuk India) dan “sudan” untuk yang di Afrika itu. Begitchu!

Sumber: http://angade.my.id/sejarah-undak-usuk-bahasa-sunda/

About pamulihan

Editor

Posted on 21/12/2014, in Paguneman. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: