Orang Sunda dan ACFTA

Oleh : USEP ROMLI HM

Terkait dengan heboh soal kawasan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA), mayoritas urang Sunda di pedesaan tenang-tenang saja. Mereka tidak mengerti teori ekonomi, dumping (banting harga), embargo (boikot), dan sejenisnya. Mereka juga tidak tahu apa itu Sertifikat Nasional Indonesia yang konon menjadi salah satu cara agar produk nasional tidak habis dilindas produk China.

Mereka hanya tahu bagaimana kerja menghasilkan upah atau keuntungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Cukup sahuap sakopeun dan koreh-koreh cok. Mayoritas urang Sunda, sadar atau dipaksa keadaan, sejak lama menganut prinsip teu naon-naon ku naon-naon, tidak terpengaruh apa pun.

Hal itu bukan karena urang Sunda apatis, melainkan karena terbiasa menghadapi kenyataan sehari-hari hidup mandiri sehingga dalam kondisi apa pun tetap bertahan. Mereka tahan banting dalam menghadapi goncangan berskala lokal, regional, bahkan internasional.

Jampe hirup urang Sunda yang masih terpelihara di tengah gempuran globalisasi adalah tertib, cermat, waspada, dan menerima apa adanya. Ka hareup ngala sajeujeuh ka tukang ngala salengkah. Mereka memandang masa depan tidak terlalu muluk sekaligus tidak terlalu miris, biasa-biasa saja sesuai dengan situasi dan kondisi, karena akan terlampaui juga.

Manusia Hanya Ikhtiar

Melihat ke belakang, urang Sunda tidak mengenang berlebihan. Mereka tidak nineung, tidak tibelat, biasa-biasa saja. Sebab, semua yang telah lewat hanyalah pengingat. Hal itu dirumuskan dalam peribahasa yang cukup populer, tata titi duduga peryoga, yang menggambarkan ketenangan jiwa dan perilaku sambil tetap berjaga-jaga atas segala sesuatu.

Prinsip rejeki teu pahili-hili, bagja teu paala-ala juga tetap dipertahankan. Sebab, manusia sekadar bisa berikhtiar, bukan penentu keberhasilan atau kegagalan.

Maka, wajar jika para perajin sangkar burung di pelosok-pelosok kampung Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, tak berhenti berkreasi. Kebutuhan mereka terhadap bambu sebagai bahan baku menjadi pendorong pelestarian tanaman bambu di bukit-bukit sekitar desa.

Rekan-rekan mereka di desa-desa yang berdekatan, sesama perajin bambu, dengan membuat tolombong (bakul), telebug (bakul besar), giribig (alas penjemur gabah), boboko (bakul nasi), dan hihid (kipas nasi), masih tekun pula berproduksi dan memasarkannya. Mereka memikul benda-benda tersebut dari kampung ke kampung yang sedang panen dengan berjalan kaki.

Demikian pula perajin tembikar di Desa Surabaya, Kecamatan Balubur Limbangan, Garut, mereka terus mencetak gumpalan-gumpalan tanah merah menjadi coet (cobek), pariuk (periuk), dan alat-alat rumah tangga sederhana lain yang kembali naik daun setelah di mana-mana bermunculan restoran yang menawarkan menu nasi liwet dan sambal.

Yang agak rawan adalah para perajin yang produknya bersentuhan dengan produk modern. Contohnya adalah barang-barang dari karet untuk onderdil mobil, motor, pompa air, dan sejenisnya atau barang-barang terbuat dari plastik untuk pelapis kaki kursi, penutup tabung gas, dan sejenisnya. Para pengrajin barang ini, yang sebagian besar berada di Kampung Ciawikepuh, Desa Majasari, Kecamatan Cibiuk, Garut, itu mulai agak kelimpungan.

Kualitas rendah

Produk mereka yang terbuat dari karet atau plastik kualitas rendah yang telah berusia 20-30 tahun memiliki pasar tersendiri, misalnya di pusat-pusat perdagangan onderdil di Bandung, Jakarta, Cirebon, dan Semarang, nyaris tidak dilirik lagi karena kehadiran barang sejenis buatan China yang lebih bagus dan murah. Harga jual produk “kampung” Rp 40-Rp 50 per buah sulit bersaing dengan produk China berbahan sintetis yang lebih bagus tetapi lebih murah, hanya Rp 30-Rp 35 per buah.

Padahal, untuk terjun ke bidang usaha pembuatan alat-alat karet dan plastik, penduduk setempat terpaksa meninggalkan usaha para leluhur menggarap tanah sawah atau kebun. Membuat serta menjual produk karet dan plastik lebih menguntungkan berlipat ganda daripada mencangkul atau menanam padi dan palawija.

Inilah salah satu penyebab ribuan hektar tanah pertanian basah (sawah, kolam) dan kering (ladang) di kawasan utara Garut telantar. Karena itu, diperlukan reorientasi agar tanah-tanah tersebut berfungsi kembali sebagai penyedia pangan berkelanjutan.

Dalam kata lain, urang Sunda yang sudah mengenal kental produk China, mulai dari tahu, tempe, kecap, tauge, bakso, bakpao, capcai, dan lain-lain jenis kuliner; encit, pangsi, koko, dan lain-lain jenis pakaian; serta jenis-jenis lain di bidang perumahan, pertanian, dan bilangan tenang-tenang saja menghadapi serbuan ACFTA. Tinggal sikap pemerintah setempat, siapkah menyediakan sarana dan prasarana agar mereka lebih kokoh dalam persaingan sengit yang terbuka itu?

Apakah pemerintah menghargai mereka sebagai pionir dan pejuang ekonomi kerakyatan yang tahan banting, yang teu naon-naon ku naon-naon alias punya pribadi mandiri dan mampu menghadapi setiap perubahan zaman sejak dulu hingga kini?

USEP ROMLI HM Sastrawan dan Budayawan Sunda; Penggiat LPM Raksa Sarakan di Pedesaan Cibiuk, Kabupaten Garut

About pamulihan

Editor

Posted on 18/11/2011, in Paguneman. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: