Asal Usul Istilah Sunda

Penggunaan istilah Sunda saat ini diidentifikan dengan istilah Jawa Barat, padahal secara histori memiliki sejarah yang berbeda. Kedua istilah tersebut mengalami perubahan pengertian dan penafsiran, sehingga sering terjadi kekeliruan dan keragu-raguan dalam penggunaannya, terutama ketika istilah Sunda hanya dikonotasikan politis, dianggap sukuisme, sehingga terpaksa istilah Sunda dalam pergaulan sosial dan budaya harus diganti dengan sebutan Jawa Barat.

Istilah Sunda dalam catatan masa lalu diterapkan untuk menyebutkan suatu kawasan, atau gugusan kepulauan yang terletak di wilayah Lautan Hindia sebelah barat (Sunda besar dan Sunda kecil), bahkan istilah Sunda digunakan untuk menunjukkan gugusan kepulauan tersebut didalam peta dunia, kecuali di Indonesia. Istilah Sunda ditemukan pula di dalam prasasti dan naskah sejarah, digunakan untuk menyebutkan batas budaya dan kerajaan, bahkan bukan hanya terbatas di dalam yuridiksi penerintahan Jawa Barat saat ini, melainkan jauh ke wilayah Jawa Tengah, di dalam catatan Bujangga Manik (abad ke-16) disebut Tungtung Sunda.

Menurut Edi S. Ekadjati dalam pidato pengukuhan jabatan guru besarnya yang berjudul SUNDA, NUSANTARA, DAN INDONESIA SUATU TINJAUAN SEJARAH (1995:3–4) memaparkan bahwa: Secara historis, Ptolemaeus, ahli ilmu bumi bangsa Yunani, merupakan orang pertama yang menyebut Sunda sebagai nama tempat. Dalam buku karangannya yang ditulis sekitar ta hun 150 Masehi ia menyebutkan bahwa ada tiga pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India (Atmamihardja, 1958: 8). Kiranya berdasarkan informasi dari Ptolemaeus inilah, ahli-ahli ilmu bumi Eropa kemudian menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau yang terletak di sebelah timur India. Hal yang sama diungkapkan oleh seorang ahli geologi Belanda R.W. van Bemmelen menjelaskan bahwa Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai suatu daratan bagian barat laut India Timur, sedangkan dataran bagian tenggaranya dinamai Sahul.

DATARAN- KEPULAUAN SUNDA Bagi masyarakat yang mengenyam pendidikan pada medio 1960-an, istilah Sunda masih ditemukan di dalam mata ajar Ilmu Bumi, suatu istilah yang menunjukan gugusan kepulauan yang disebut Sunda Besar dan Sunda Kecil.

DATARAN SUNDA dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (CIRCUM-SUNDA MOUNTAIN SYSTEM) yang panjangnya sekitar 7000 km. Dataran Sunda itu terdiri dari dua bagian utama, yaitu (1) bagian utara yang meliputi kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Pasifik bagian barat dan (2) bagian selatan yang terbentang dari barat ke timur sejak Lembah Brahmaputera di Assam (India) hingga Maluku bagian selatan. Dataran Sunda itu bersambung dengan kawasan sistem Gunung Himalaya di barat dan dataran Sahul di timur (Bemmelen, 1949: 2-3).

Selanjutnya, sejumlah pulau yang kemudian terbentuk di dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda pula, yakni KEPULAUAN SUNDA BESAR dan KEPULAUAN SUNDA KECIL. Kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau yang berukuran besar yang terdiri atas pulau-pulau: Sumatera, Jawa, Madura, dan Kalimantan. Adapun Kepulauan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau-pulau: Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor (Bemmelen, 1949: 15-16). Namun kemudian istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil tidak dipakai lagi dalam percaturan ilmu bumi Indonesia.

Pendapat di atas tentunya mendekati paradigma masyarakat saat ini yang sedang mencari jejak Benua Antlantis, seperti Stephen Oppenheimer, seorang Profesor dari Universitas Oxford dan Arysio Santios, Profesor dari Brazil. Konon berdasarkan penemuan para ahli Amerika dan Jepang, yang mengacu pada ciri-ciri kehidupan dan genetika manusianya, benua tersebut berada di wilayah yang saat ini disebut dataran Sunda. Di daerah ini pun ditemukan jejak arkeolog peninggalan prasejarah, seperti Situs Gunung Padang yang berada di beberapa tempat, seperti Cianjur dan Ciwidey. Belum lagi penemuan di Bukit Dago dan Gunung Masigit. Terakhir di gunung lalakon.

Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya berjudul ‘Eden in The East’ di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis 28 Oktober 2010, menyebutkan, bahwa : Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan Sundaland atau Indonesia. Apa buktinya? “Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia. Dalam perjalanan yang dilakukannya, Oppenheimer dimulai dengan komentar tanpa sengaja di sebuah desa zaman batu di Papua Nugini. Dari situ dia mendapati kisah pe ngusiran petani dan pelaut di pantai Asia Tenggara, yang diikuti serangkaian banjir pasca-sungai es hingga mengarah pada perkembangan budaya di seluruh Eurasia. Oppenhei mer meyakini temuan-temuannya itu, dan menyimpulkan bahwa benih dari budaya maju, ada di Indonesia. Buku ini mengubah secara radikal pandangan tentang pra sejarah.

Pada akhir Zaman Es, banjir besar yang diceritakan dalam kitab suci berbagai agama benar-benar terjadi dan meneng gelamkan paparan benua Asia Tenggara untuk selamanya. Hal itu yang menyebabkan penyebaran populasi dan tumbuh suburnya berbagai budaya Neolitikum di Cina, India, Meso potamia, Mesir dan Mediterania Timur. Akar permasalahan dari pemekaran besar peradaban di wilayah subur di Timur Dekat Kuno, berada di garis-garis pantai Asia Tenggara yang terbenam. “Indonesia telah melakukan aktivitas pelayaran, memancing, menanam jauh sebelum orang lain melakukannya.” Oppenheimer mengungkapkan bahwa orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) tidak datang dari Cina, tapi dari pulau-pulau Asia Tenggara. Sementara penanaman beras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu.

Pendapat ini tentunya menuai tanggapan dari berbagai pihak dari yang mendukung sampai dengan yang tidak percaya, bahkan banyak pula para ahli Indonesia maupun para Indonesianis menyangkal pendapatnya. Persoalannya sekarang mampukah kita menemukan jawaban atas pencarian tersebut, atau hanya ‘bakutet’ seperti “monyet ngagugulung kalapa?”. Jika kelak kemudian hari pertanyaan tersebut terjawabkan, tentunya akan mampu merubah peta kesejarahan dunia.

BEBERAPA PENGERTIAN SUNDA Rouffaer (1905: 16) menyebutkan, bahwa kata Sunda berasal dari pinjaman kata asing berkebudayaan Hindu, kemungkinan dari akar kata SUND atau kata SUDDHA dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murbi, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).

Menurut Gonda (1973: 345-346), pada mulanya kata SUD-DHA dalam bahasa Sansekerta digunakan untuk menyebut kan sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa, dari jauh tampak putih bercahaya karena tertutup oleh abu yang berasal dari letusan gunung tersebut. Gunung Sunda itu terletak di sebelah barat Gunung Tangkuban Parahu. Kemudian nama tersebut diterapkan pula pada wilayah tempat gunung itu berada dan penduduknya. Mungkin sekali pemberian nama Sunda bagi wilayah bagian barat Pulau Jawa terinspirasi oleh nama sebuah kota dan atau kerajaan di India yang terletak di pesisir barat India antara kota pelabuhan Goa dan Karwar (ENI, IV, 1921: 14-15). Selanjutnya, Sunda dijadikan nama kerajaan di bagian barat Pulau Jawa yang beribukota di Pakuan Pajajaran, sekitar Kota Bogor sekarang. Kerajaan Sunda ini telah diketahui berdiri pada abad ke-7 Masehi dan berakhir pada tahun 1579 Masehi (Danasas mita dkk, 1984: 1-27; Danasasmita dkk, IV, 1984; Djajadi niningrat, 1913: 75).

  1. Mamun Atmamihardja, dalam bukunya Sejarah Sunda I (1956) mencatat beberapa arti yang didasarkan pada berbagai kamus bahasa, yaitu :

SANKSAKERTA : – Sopan, bersinar, terang, putih;

– Nama Dewa Wisnu;- Ksatriya Buta (daitya) dalam cerita Upa Sunda dan Ni Sunda

– Ksatriya Wanara dalam cerita Ramayana

– Nama Gunung di Bandung Utara

KAWI : – Air, tumpukan, pangkat, waspada

J A W A : – Bersatu; penyusun; dua (nama chandrasang kala)

– Unda – naik;

 Unda – terbang.

SUNDA : – Saunda atau Saundana Lumbung Padi

– Sonda – bagus; indah; menyenangkan;

– Sonda – terkenal

– Sonda – laki laki tampan

– Sundara – nama Dewa Kamajaya

– Sundari – perempuan cantik

DI DALAM PRASASTI DAN NASKAH KUNO Di bidang sejarah menurut Ekadjati (hal.2): istilah Sunda yang menunjukkan pengertian wilayah di bagian barat Pulau Jawa dengan segala akitivitas kehidupan manusia di dalamnya, muncul untuk pertama kalinya pada abad ke-9 Masehi. Istilah tersebut tercatat dalam prasasti yang ditemukan di Kebon Kopi, Bogor beraksara Jawa Kuna dan berbahasa Melayu Kuna. Bahwa terjadi peristiwa untuk mengembalikan kekuasaan prahajian Sunda pada tahun 854 Masehi. Pada waktu itu sudah diketahui adanya suatu wilayah yang memiliki penguasa yang diberi nama Prahajian Sunda. Ada juga yang menyebutkan istilah ini telah dimuat dalam Prasasti Kabantenan. Prasasti tersebut menjelaskan tentang suatu daerah yang disebut Sundasembawa.

Data lain yang menyebutkan tentang istilah Sunda ditemukan pula, dengan penjelasan: “pemerintahan Suryawarman meninggalkan sebuah prasasti batu yang ditemukan di kampung Pasir Muara (Cibungbulang) di tepi sawah kira-kira 1 kilometer dari prasasti telapak gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti ini berisi inskripsi sebanyak 4 baris. Bacaannya (menurut Bosch) ;

  • Ini sabdakalanda juru pangambat i kawihaji panyca pasagi marsandeca barpulihkan haji sunda. (Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pangambat dalam [tahun Saka] 458 [bahwa] pemerintahan daerah dipulihkan kepada Raja Sunda”.

Suryawarman di dalam sejarah tatar Pasundan tercatat sebagai raja Tarumanagara ketujuh. Diperkirakan memerintah pada tahun 457 sampai dengan tahun 483 Saka, bertepatan dengan tahun 536 sampai dengan tahun 561 masehi, sedang kan tahun 458 Saka bertepatan dengan 536 masehi atau abad ke enam masehi. Sampai saat ini tidak kurang dari 20 buah jumlah prasasti yang ditemukan di wilayah Jawa Barat sekarang.

Prasasti dimaksud menurut waktunya dapat dikelompokan menjadi :

(1) prasasti Tarumanagara

(2) Sunda

(3) Rumantak

(4) Kawali

(5) Pakuan Pajajaran.

Nama-nama raja yang tertulis dalam prasasti tersebut yakni :

(1) Rajadiraja Guru

(2) Purnawarman

(3) Haji (raja) Sunda

(4) Sri Jayabupati

(5) Batari Hyang

(6) Prabu Raja Wastu – Niskala Wastu Kencana

(7) Ningrat Kencana (Dewa Niskala)

(8) Prabu Guru Dewataprana (Sri Baduga Maharaja).

Kisah yang dimaksudkan Ekadjati tersebut sama dengan yang dimaksud Pleyte (1914), kisah berdirinya kerajaan Sunda terdapat dalam naskah Kuno dan berbahasa Sunda Kuna. Pendiri dari kerajaan Sunda adalah Terusbawa. Sedangkan eksistensinya ditemukan dalam naskah Nagarakretabhumi (sumber sekunder), yang menjelaskan Terusbawa memerintah pada tahun 591 sampai dengan 645 Saka, bertepatan dengan tahun 669/670 sampai dengan 723/724 Masehi.

Kisah berdirinya Sunda sebagai nama kerajaan di dalam Pustaka Jawadwipa I sarga 3 dikisahkan, sebagai berikut :

  • Telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning rajya Taruma. Tekwan ring usana kangken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran purwapras tawa saking Bharatanagari.
  • (Sesungguhnya dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama (kota) Sundapura. Nama ini berasal dari negeri India).

Prasasti tersebut menunjukan bahwa pada masa Tarumanagara pun kerajaan Sunda sudah ada, sekalipun mungkin hanya sebagai negara bagian dari Tarumanagara, atau wilayah tersendiri, mengingat Tarumanagara didirikan oleh kaum pendatang dari India.

Generasi muda sekarang lebih memahami batas sunda bagian timur adalah Cirebon. Penafsiran demikian tidak dapat disalahkan, mengingat pada masa Belanda yuridiksi Propinsi Jawa Barat dibatasi hanya sampai Cirebon. Ekadjati dalam tuli sannya tentang Sajarah Sunda mengemukakan, bahwa :

  • Tanah Sunda perenahna di beulah kulon hiji pulo anu ayeuna jenenganana Pulo Jawa. Ku kituna eta weweng kon disebut oge Jawa Kulon. Ceuk urang Walanda mah West Java. Sacara formal istilah West Java digunakeun timimiti taun 1925, nalika pamarentah kolonial ngadegkeun pamarentah daerah anu statusna otonom sarta make ngaran Provincie West Java. Timimiti zaman Republik Indonesia (1945) eta ngaran propinsi anu make basa Walanda teh diganti ku basa Indonesia jadi Propinsi Jawa Barat’.

Wilayah Tarumanagara pada masa Purnawarman membawahi 46 kerajaan daerah. Jika dibentangkan dalam peta daerah tersebut meliputi jawa bagian barat (Banten hingga Kali Serayu dan Kali Brebes Jawa Tengah). Paska pemisahan Galuh secara praktis kerajaan Sunda terbagi dua, sebelah barat Sungai Citarum dikuasai Sunda (Terusbawa) dan sebelah Sungai Citarum bagian timur dikuasai Galuh (Wretikandayun). Penyatuan kembali Sunda dengan Galuh dimasa lalu terjadi beberapa kali, seperti pada masa Sanjaya, Manarah, Niskala Wastu Kancana dan Sri Baduga Maharaja.

Untuk menyelusuri batas budaya, ada beberapa versi yang dapat diacu: Pertama, berdasarkan Naskah Bujangga Manik, yang mencatatkan perjalanannya pada abad ke-16, mengun jungi tempat-tempat suci di Pulau Jawa dan Bali, naskah tersebut diakui sebagai naskah primer, saat ini disimpan di Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (kali Brebes) dan sungai Ciserayu (Kali Serayu) Jawa Tengah. Dalam catatan Bujangga Manik disebutkan dengan isitilah Tungtung Sunda, bahkan menurut Wangsakerta, : wilayah kerajaan Sunda mencakup beberapa daerah Lampung. Hal ini terjadi pasca pernikahan antara keluarga kerajaan Sunda dan Lampung. Hanya saja Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda. Di sisi lainnya. Sunda memang tidak membentuk kerajaannya sebagai kerajaan Maritim.

Kedua, menurut Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, yang kemudian dibukukan dalam suatu judul Summa Oriental, menyebutkan batas wilayah kerajaan Sunda: ada juga yang menegaskan, kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa kerajaan Sunda mencakup sepertiga pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Keliling pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Cimanuk

KERAJAAN SUNDA Di dalam buku Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat (RPMSJB), uraian tentang kerajaan sunda nampak nya dibatasi sejak Maharaja Terusbawa sampai dengan Citraganda, atau sejak tahun 669 M sampai dengan tahun 1311 M. Hal ini dapat dipahami mengingat pembahasan kerajaan-kerajaan yang ada di tatar Sunda diuraikan tersendiri, seperti Sunda, Galuh, Kawali dan Pajajaran.

Pembahasan kesejarahan ini jauh lebih luas dibandingkan dengan paradigma masyarakat tradisional yang selalu mengaitkan Sunda dengan simbol-simbol Pajajaran, atau kerajaan Sunda terakhir. Jika budaya Sunda hanya dipahami hanya sebatas Pajajaran, dengan satu-satunya raja yang terkenal, yakni Prabu Silihwangi, maka masyarakat di tatar Sunda akan berpotensi untuk makin kehilangan jejak kesejarahannya. Masalahnya adalah, mampukah masyarakat Sunda merubah paradigmanya untuk melemparkan kemasa yang lebih jauh kebelakang melebihi jejak Pajajaran dan Siliwanginya?.

Sebutan Sunda untuk nama kerajaan di Tatar Sunda yang mengambil dari garis keturunan Terusbawa agak kurang tepat jika dikaitkan dengan kesejarahan Sunda yang sebenarnya. Istilah Sunda sudah dikenal sebelum digunakan oleh Terus bawa, bahkan prasasti Pasir Muara yang menunjukan tahun 458 Saka (536 M) telah menyebutkan adanya raja Sunda. Secara logika sangat wajar jika ditafsirkan bahwa istilah Sunda sudah digunakan sebelum tahun tersebut, karena prasasti dimaksud tentunya tidak dibuat langsung bertepatan dengan istilah Sunda ditemukan. Dan prasasti tersebut tidak menandakan dimulainya entitas Sunda, namun hanya menerangkan, bahwa memang telah ada penguasa Sunda yang berkuasa pada waktu itu.

Istilah Tarumanagara dimungkinkan diterapkan untuk nama kerajaan Sunda yang berada di tepi kali Citarum. Menurut beberapa versi, istilah Sunda digunakan ketika Ibukota Tarumanagara dipindahkan ke wilayah Bogor. Jika saja ada kaitannya antara Tarumanagara dengan Salakanagara, kemungkinan besar istilah Sunda juga sudah digunakan untuk nama kerajaan daerah atau jejak budaya manusia yang ada di dataran Sunda.

Istilah Sunda (Sundapura) sebelumnya pernah digunakan oleh Purnawarman sebagai pusat pemerintahan. Tarumana gara berakhir pasca wafatnya Linggawarman (669 M). Terusbawa adalah menantu Linggawarman menikah dengan Dewi Manasih, putrinya. Tarusbawa dinobatkan dengan nama MA HARAJA TARUSBAWA DARMAWASKITA MANUNGGALAJAYA SUNDA SEMBAWA. Dari sini para penulis sejarah Sunda pada umumnya mencatat dimulainya penggunaan nama kerajaan Sunda

Instilah Sunda (Sundapura atau Sundasembawa) sebelumnya pernah digunakan oleh Purnawarman sebagai pusat pemerintahan. Sundapura adalah salah satu kota yang terletak di wilayah Tarumanagara. Dari Sundapura Purnawarman me merintah dan mengendalikan Tarumanagara, dan di Sundapura Tarumanagara mencapai masa keemasanya. Tarumana gara berakhir pasca wafatnya Linggawarman (669 M) digantikan oleh Terusbawa, menantunya, menikah dengan putri Linggawarman, Dewi Manasih. Tarusbawa dinobatkan dengan nama Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manunggalajaya Sundasembawa. Dari sinilah para penulis sejarah mencatat dimulainya kerajaan Sunda.

LETAK SUNDAPURA Tentang letak Sundapura jika dikaitkan dengan prasasti Kampung Muara dan Prasasti Kebantenan menimbulkan pertanyaan. Karena bisa ditafsirkan, perpindahan ibukota Taruma dari Sundapura telah terjadi sejak masa Suryawarman. Prasasti tersebut menurut Saleh Danasasmita dibuat pada tahun 584, masa Tarumanagara, namun menurut para ahli lainnya dibuat tahun 854, menunjukkan pada masa Kerajaan Sunda. Letak prasasti Muara dahulu termasuk berada di wilayah kerajaan Pasir Muara, raja daerah bawahan Tarumanagara. Pasir Muara kemudian berada di bawah daulat kerajaan Sunda. Namun suatu hal yang paling mungkin prasasti tersebut peninggalan masa Tarumanagara.

Di dalam Pustaka Jawadwipa diterangkan mengenai lokasi Sundapura,: telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning tajyua Taruma. Tekwan ring usana kang ken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran purwa prasta wa saking Bratanagari. (dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan Tarumanaga. Pada masa lalu diberi nama Sundapura. Nama ini berasal dari negeri Bharata).

MENJADI SUNDA Istilah Sunda di dalam alur cerita kesejarahan resmi sejak Tarusbawa memindahkan pusat pemerintahan ke Sundapura, pada tahun 669 M atau tahun 591 Caka Sunda. Pada masa itu kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta Linggawarman pada tahun 669 M kepada Tarusbawa. Berita ini disampaikan kesegenap negara sahabat dan bawahan Tarumanagara. Demikian juga terhadap negara, seperti Cina, Terusbawa mengirimkan utusan bahwa ia pengganti Linggawarman. Sehingga pada tahun 669 M dianggap sebagai lahirnya Kerajaan Sunda.

Perpindahan dan pembangunan istana Sunda dikisahkan oleh penulis Fragmen Carita Parahyangan, sebagai berikut: Diinyana urut Kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Kadat wan Bima–Punta– Narayana–Madura–Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarus bawa denung Bujangga Sedamanah. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima-Punta – Narayana – Madura – Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maha raja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah.).

Berita yang layak dijadikan bahan kajian tentang pembangunan istana yang dilakukan Tarusbawa juga tercantum di dalam Pustaka Nusantara II/3 halaman 204/205, isinya :”Hana pwanung mangadegakna Pakwan Pajajaran lawan Kadtwan Sang Bima-Punta-Narayanan-Madura-Suradipatiyata Sang Prabu Tarusbawa”. (Adapun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima–Punta–Narayana–Madura-Suradipati adalah Maha raja Tarusbawa)

Istana sebagai pusat pemerintahan terus digunakan oleh raja-raja Sunda Pajajaran atau Pakuan Pajajaran. Istilah Pakuan Pajajaran menurut Purbatjaraka (1921) berarti istana yang berjajar Nama istana tersebut cukup panjang, tetapi berdiri masing-masing, dengan namanya sendiri, secara berurutan disebut Bima–Punta–Narayana-Madura-Suradipati (bangunan keraton). Bangunan Keraton tersebut sama dengan yang dilaporkan oleh Gubernur Jendral Camphuijs, tanggal 23 Desember 1687 kepada atasannya di Amsterdam. Laporan di atas mendasarkan pada penemuan Sersan Scipio, pada tanggal 1 September 1697, tentang penemuan pusat Kerajaan Pajajaran pasca dihancurkan pasukan gabungan Banten dan Cirebon.

Laporan Scipio menyebutkan :“Dat hetselve paleijs specialijck de verhaven zitplaets van den Javaense Coning Padzia Dziarum nu nog gedui zig door een groot getal tiigers bewaakt en bewaart wort”. (bahwa istana tersebut,  dan terutama tempat duduk yang ditinggikan–sitinggil–kepunyaan raja “Jawa” Pajajaran, sekarang ini masih dikerumuni dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau).

Istilah Pakuan Pajajaran, atau Pakuan atau Pajajaran saja ditemukan pula di dalam Prasasti tembaga di Bekasi. Urang Sunda kemudian terbiasa dengan menyebut nama Pakuan untuk ibukota Kerajaan dan nama Pajajaran untuk negaranya. Sama dengan istilah Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang nama-nama keraton tersebut kemudian digunakan untuk nama ibukota dan wilayahnya.

PERPINDAHAN IBUKOTA Pemindahan pusat pemerintahan ke Sundapura memiliki alasan, bukan karena Sundapura adalah daerah asal Terusbawa, melainkan erat kaitannya dengan masalah pemerintahan. Terusbawa menginginkan kembalinya kejayaan Tarumanagara sebagai mana pada masa Purnawarman, yang memindahkan ibukota Tarumanagara ke Sundapura. Namun tidak memperhitungkan akibat politis dari pemindahan ibukota.

Pada saat itu kondisi Tarumanagara sudah tidak sekuat masa lalu. Tarumanagara pasca meninggalnya Purnawarman pamornya sudah mulai turun di mata raja-raja daerah, terutama pasca kekacauan yang terjadi diintern istana. Banyak raja-raja daerah yang melakukan pembangkangan, terutama yang berada di wilayah sebelah timur Citarum. Di sisi lain nama Sriwijaya dan Kalingga sudah mulai naik pamornya sebagai pesaing Tarumanagara. Dengan pertimbangan ini Wretikandayun menyatakan Galuh membebaskan diri dari Sunda. Sejak saat itu di tatar Sunda muncul dua kerajaan kembar, yakni Sunda dan Galuh.

Perbedaan Sunda dengan Galuh bukan hanya menyangkut masalah pemerintahan, bahkan budayanya. Menurut Saleh Danasasmita, Sunda dengan Galuh memiliki entitas yang mandiri dan ada perbedaan tradisi yang mendasar. Hal yang sama dikemukakan Prof. Anwas Adiwilaga, menurutnya Urang Galuh adalah Urang Cai sedangkan Urang Sunda disebut sebagai Urang Gunung. Mayat Urang Galuh ditereb atau dilarung, sedangkan mayat Urang Sunda dikurebkeun. Penyatuan tradisi tersebut diperkirakan baru tercapai pada abad ke-13, dengan mengistilahkan penduduk di bagian barat dan timur Citarum (citarum=batas alam Sunda dan Galuh) dengan sebutan “Urang Sunda”. Sebutan tersebut bukan hasil kesepakatan para penguasanya, melainkan muncul dengan sendirinya.

Pasca ditemukannya Prasasti Kawali 1, para ahli sejarah Sunda Kuno pada umumnya berpendapat, bahwa: “Dengan demikian pengertian Galuh dan Sunda antara 1333-1482 Masehi harus dihubungkan dengan Kawali (ibukota Sunda dengan Galuh pasca bergabung kembali) walaupun di Pakuan ada penguasa daerah. Keraton Galuh sudah ditinggalkan atau fungsinya sebagai tempat kedudukan pemerintah pusat sudah berakhir. Sedangkan Kerajaan Sunda Pra Kawali disebut-sebut hingga masa pemerintahan Citraganda.

MENJADI JAWA BARAT Sebutan Jawa Barat berasal dari pemerintah Hindia Belanda, terjemaahan dari istilah West Java, muali muncul pada abad ke-19, tatkala Pulau Jawa telah dikuasai penuh oleh Belanda. Untuk keperluan administrasi dan militer Belanda perlu membagi Pulau Jawa kedalam beberapa bagian. Pada akhirnya Belanda membagi tiga daerah militer, yaitu Daerah Militer West Java, Daerah Militer II Midden Java, dan Daerah Militer III Oost Java.

Penggunaan istilah West Java secara resmi digunakan pada tahun 1925, ketika itu dibentuk Province West Java, sedang kan Province Midden Jawa dan Oost Java dilakukan pada tahun 1926. Dari sejarah masa lalu orang Sunda menginginkan menggunakan istilah Sunda untuk provinsi yang berada di Jawa Barat (Ekadjati, 2005, hal.11). Upaya tersebut nampak dimasa lalu. Pertama, menyosialisasikan kepada masyarakat Pasundan tentang konsekwensi dibentuknya provinsi itu, secara lisan maupun diwartakan di massmedia. Kedua, mengajukan permohonan kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda, agar nama provinsi ini disebut Pasundan, beribu kota di Bandung. Permohonan tersebut dipenuhi dan dikeluarkan penetapan tentang pembentukan provinsi Pasundan, sebagaimana dimuat dalam Sttatsblad no. 25 dan 378 tahun 1925). Isi staatsblad tersebut menyatakan, bahwa ….. West Java, in inheemsche talen aan te duiden als Pasoendan ….” (Jawa Barat, dalam bahasa orang pribumi (bahasa Sunda) me nunjuk sebagai Pasundan. Namun mengenai ibukotanya masih tetap menunjuk Provincie West Java beribukota di Bata via. Pada saat mewujudkan konsep negara federal di Indo nesia (1948-1949), nama negara bagian yang telah di persiapkan bernama Pasundan, sekalipun pada saat persiapannya bernama Jawa Barat. Ketiga, Kongres Pemuda Sunda (1956) mengeluarkan pernyataan (proklamasi), bahwa nama Jawa Barat diganti dengan nama Sunda. Sebagai konsekwensinya nama Jawa Tengah menjadi nama Jawa Barat, sedangkan nama Pulau Jawa diganti dengan nama Nusa Selatan.

Berdasarkan undang-undang yang berlaku, sejak tahun 1925 dan pasca Kemerdekaan, nama Provinsi Jawa Barat masih tetap digunakan untuk wilayah Pulau Jawa Bagian Barat, akan tetapi lama kelamaan perkembangan di masyarakat dan karya-karya tulisan juga menggunakan istilah nama Jawa Barat, sehingga menjadi nama resmi. Istilah Sunda pada akhirnya hanya digunakan untuk menunjukan orang dan budaya yang ada di Pulau Jawa Bagian Barat. Jika saja nama Sunda digunakan untuk menunjuk wilayah, maka hanya ditujukan untuk kondisi wilayah di masa lalu, atau batas budaya.

Istilah Sunda dalam catatan masa lalu diterapkan untuk menyebutkan suatu kawasan, yakni Sunda besar dan Sunda kecil, sedangkan di dalam prasasti dan naskah sejarah digunakan untuk menyebutkan batas budaya dan kerajaannya. Batas wilayah Sunda (Pasundan) di dalam Catatan Bujangga Manik (abad 16) disebut PAMANNA SUNDA ATAU TUNGTUNG SUNDA. Batas yang melampaui yuridiksi Jawa Barat sekarang, yakni di timur sampai dengan Cipamali. (***)

Sumber: http://masihtisumedang.blogspot.com/

Akses Jalan Cipasung Menuju Kecamatan Subang Rusak Parah

jalan01Bagi warga Subang, Selajambe, dan Cilebak, keberadaan Taman Kota, Taman Cirendang, Taman Winduhaji, dan Taman Windusangkan merupakan sebuah ironi. Ketika taman itu dibuat dengan biaya mahal, warga di tiga kecamatan tersebut tidak menikmati sepenuhnya keindahan Kuningan Kota.

Lebih ironis lagi ketika pemerintah dengan mudah mengeluarkan dana untuk pembuatan taman. Namun ketika jalan rusak, untuk memperbaikinya sangat sulit.

“Saya terkadang sedih, taman kota mewah dibangun dan manfaatnya kurang. Tapi ini, akses jalan ke Subang dan Selajambe rusak parah, dibiarkan,” ucap Didi Rohendi, warga Subang kepada Radar, kemarin (7/3).

Jalan yang rusak, kata dia, dari mulai Cipasung, Selajambe hingga Subang dengan jarak lebih dari 45 kilometer. Kondisi jalan parah sudah terjadi sejak lama dan kalau diperbaiki hanya ditambal saja.

Jalan rusak membuat warga menderita karena perjalanan terganggu. Kendaraan pun cepat rusak. Banyak warga yang frustrasi dengan kondisi ini.

“Kalau melihat jalan rusak, kami merasa dianaktirikan. Bagi kami, jalan adalah hal yang penting daripada membuat taman. Menurut warga, dengan membuat taman hanya menghasilkan generasi muda yang suka nongkrong. Ketika ada Hutan Kota Bungkrit dan Mayasih pun, digunakan untuk pacaran, hingga bolos sekolah,” ucap Didi lagi.

Supendi, warga Subang lainnya meminta pemerintah untuk tanggap dengan masalah ini. Menurut dia, jangan bedakan antara jalan kota dan jalan desa. Sebab, dalam hal membayar pajak, semua memiliki kewajiban yang sama.

Sejumlah warga Kuningan Selatan meminta pemerintah memberikan sikap tegas terhadap kondisi pengerjaan jalan di daerah Kecamatan Selajambe-Subang-Cilebak. Pasalnya, pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas umum ini terlihat asal jadi saja.

Pengerjaan Jalan Diduga Asal-asalan

“Seharusnya dalam pembangunan bersumber dana pemerintah ada petugas lapangan. Maksudnya, untuk menindak tegas pelaksanaan kerja agar maksimal,” kata Maman (29) salah seorang pengendara yang mengaku warga Kecamatan Subang, Rabu (28/04).

Menurutnya, pelaksanaan pembangunan jalan di wilayah Kuningan Selatan ini memang setiap tahunnya mendapat perbaikan. Sehingga tidak menutup kemungkinan, daerah ini menjadi budaya penyerapan anggaran pemerintah untuk sarana prasarana umum.

“Sebetulnya kami bosan dengan pelaksanaan pembangunan di jalan ini. Habisnya, tak ada satupun pekerjaannya yang mantap dan bagus. Kami jamin setelah selesai satu bulan pasti ambrol lagi,” katanya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa, Jeje mengatakan, baiknya pemerintah itu berani mendatangkan pengembang yang handal. Sebab, pelaksanaan kerja pembangunan yang dilakukan seperti saat ini, sepertinya tak paham teknis. “Masa musim hujan seperti ini dipaksakan membangun jalan. Apalagi dalam pengecorannya itu kurang bermutu. Ya, lihat saja kang, semuanya mengandalkan manual,” ucap mahasiswa yang sepekan sekali pasti melewati jalan ini.

Pantauan di lokasi, dalam pengerjaan proyek pembangunan jalan tidak disertai dengan tertib administrasi lainnya. Misalnya papan informasi pelaksanaan kerja dan gundang sebagai syarat bahwa adanya pekerjaan di lahan tersebut. (Ipay)

Sumber: http://www.cirebontrust.com/

Peluang Usaha Budidaya Penggemukan Sapi

Sapi-potongTernak sapi merupakan sebuah kegiatan wirausaha yang mungkin saat ini menjanjikan. Harga daging dan ternak sapi relatif masih tinggi dan akan tetap stabil jika pemerintah bisa menstabilkan harga. Cara menstabilkan harga ini bisa dilakukan dengan meningkatkan tata kelola beternak sapi. Memperbaiki tata kelola beternak sapi jauh lebih penting dan baik dari pada mengimpor sapi.

Saat ini untuk menstabilakan harga daging dan ternak sapi, pemerintah memilih jalan impor daging dan ternak sapi siap potong. Jika hal ini terus menerus dilakukan, peternak yang akan mendapatkan masalahnya. Harga daging sapi akan cenderung turun karena banyak daging dan sapi siap konsumsi sehingga ada persaingan harga dengan peternak lokal.

Jika mau melihat kembali perhitungan yang muncul dari usaha peternakan jelas peternak akan mendapatkan keuntungan yang cukup signifikan. Akan tetapi memang perlu peningkatan kapasitas dalam beternak. Jika melihat kondisi saat ini peternak belum memandang soal produksi. Sebagian masyarakat kita masih ada yang berpendapat bahwa beternak masih bersifat hiburan saja.

Centras LPPM IPB dalam dua tahun terakhir ini telah menemukan beberapa hasil yang dapat mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Hasil-hasil penelitian terdahulu, yaitu produk probiotik unggul. Produk ini mampu meningkatkan palatabilitas ransum 16,9 persen, meningkatkan kecernaan serat 12,8 persen dan protein 17,9 persen, meningkatkan pertambahan bobot badan dari 1,17 kg/ekor/hari menjadi 1,39 kg/ekor/hari dan menurunkan emisi gas pencemaran pada feses terutama gas amonia dan H2S berkurang 8,8 persen dan 3,5 persen.

Selain itu, Centras telah mengembangkan probiotik yang mampu menekan toksisitas aflatoksin pada susu sapi perah (Solta, et al., 2013) dan mengikat aflatoxin di rumen sapi.

Selanjutnya, produk KP, yaitu bahan yang dicampurkan dengan pakan yang memberikan efek menguntungkan.

KP terdiri atas campuran asam dan garam-garam serta antioksidan dan anti jamur. KP produk CENTRAS LPPM-IPB terbukti mampu meningkatkan palatabilitas pakan fermentasi, meningkatkan daya simpan pakan, dan mempercepat proses fermentasi.

Penelitian tindak lanjut yang akan dilakukan adalah aplikasi penggunaan kedua produk tersebut (kombinasi) dalam proses fermentasi hijauan pakan ternak serta menentukan bentuk kemasan yang mudah diterapkan oleh masyarakat, serta memungkinkan untuk dikomersialkan sehingga dapat menjadi andalan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Dengan keunggulan KP tersebut, akan memudahkan proses pembuatan Hi-fer dan penggunaan probiotik akan dapat mempercepat proses pengawetan sehingga pada akhirnya biaya pengolahan, penyimpanan, dan transportasi pakan tersebut menjadi lebih mudah dan murah.

Selain itu karena menyangkut inovasi baru dalam teknologi tepat guna, akan dirumuskan model introduksi teknologi tersebut dengan sistem produksi massal oleh masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi masyarakat setempat.

Berikut ini adalah gambaran usaha beternak sapi potong yang mungkin berguna bagi para peternak sapi di pedesaan yang hendak meningkatkan pendapatannya. Lahan yang digunakan untuk beternak sapi kalau bisa merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya. Sapi bakalan yang dipelihara sebanyak 10 ekor dengan harga awal Rp. 7.500.000/ekor dengan berat badan awal sekitar 250 kg/ekor. Sapi dipelihara selama satu periode atau 5 bulan dengan penambahan berat badan sekitar 0,8-1,2 kg/ekor dengan biaya Rp.400.000/bulan.

Penyusutan kandang 20 %/tahun dengan demikian penyusutan untuk satu periode. 10 ekor sapi membutuhkan obat-obatan sebesar Rp. 50.000/ekor/periode. Tenaga kerja 1 orang dengan gaji Rp. 750.000/bulan. Peralatan kandang yang dibutuhkan sebesar Rp. 250.000/periode. Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 6.000 kg yang bisa dijual lagi dengan harga Rp. 200/kg.

Pakan yang diperlukan untuk satu periode adalah :

HMT 20 kg x 10 x 150 xRp.500

Konsentrat 3 kg x 10 x 150 x Rp. 1.500

Pakan tambahan 3 kg x 10 x 150 x Rp. 500

Modal Usaha :

  1. Pembuatan kandang 30 meter x Rp. 400.000 –> Rp. 12.000.000
  2. Peralatan kandang –> Rp. 500.000

Biaya Variabel :

  1. Sapi bakalan 10 x 250 kg x Rp. 30.000 –> Rp. 75.000.000
  2. HMT (pakan) –> Rp. 10.000.000
  3. Konsentrat (pakan) –> Rp. 6.750.000
  4. Pakan Tambahan –> Rp. 2.250.000

Total Biaya Variabel –> Rp. 93.000.000

Biaya Tetap :

  1. Tenaga Kerja 1 orang x 5 x Rp. 750.000 –> Rp. 3.750.000
  2. Penyusustan kandang 10 % x Rp. 12.000.000 –> Rp. 1.200.000
  3. Penyusutan peralatan –> Rp. 250.000

Total Modal Tetap –> Rp. 5.200.000

Total biaya untuk usaha = Rp. 93.000.000 + Rp. 5.200.000 = Rp. 98.200.000

Penerimaan

Penerimaan didapat dari penjualan sapi dan kotoran. Penambahan berat badan sapi 1 kg x 150 = 150 kg/ekor/periode dan berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 400 kg. Berat keseluruhan sapi adalah 10 x 400 kg = 4.000 kg dengan harga daging sapi Rp. 30.000/kg. Sehingga penerimaan yang didapat dari penjualan daging adalah Rp. 120.000.000. Sedangkan penerimaan yang didapat dari penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000

Total penerimaan adalah Rp. 120.000.000 + Rp. 1.200.000 = Rp. 121.000.000. Keuntunganya adalah Rp. 121.000.000 (penerimaan)– Rp. 98.200.000 (pengeluaran)= Rp. 22.800.000

B/C Ratio = Rp. 121.000.000 : Rp. 22.800.000 = 5,3

Meskipun usaha penggemukan sapi memiliki peluang cukup besar namun bukan berarti tanpa ada kendala. Ada sejumlah kendala-kendala yang umum terjadi pada peternak sapi seperti modal besar di awal pemeliharaan, sulit untuk memperoleh pakan sapi berkualitas, harga daging sapi potong yang tidak sebanding dengan biaya pakan, kenaikan bobot badan sapi yang tidak optimal karena serangan penyakit, dan pemasaran sapi potong bagi peternak pemula.

Sumber: http://www.republika.co.id/

Sejarah Undak Usuk Bahasa dan Menak Sunda

Menak menurut kamus bahasa Sunda Danadibrata berarti ngeunah-ngeunah. Kata tersebut berasal dari bahasa Kawi, mainak, dan diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi enak. Arti lain adalah orang yang mempunyai pangkat tinggi pada jaman kolonial. Namanya juga jaman kolonial setiap pegawai pemerintah dianggap menak, serendah apapun itu. Kemana pergi pasti dihormat, apalagi kalau turun ke desa-desa. Mereka biasa disebut Ambtenaar. Mungkin saking terkenalnya, bisa jadi kata tenar asalnya dari ambtenaar itu. Pendapat menjadi pegawai pemerintah itu enak, nampaknya masih melekat sampai sekarang.

Menjadi pegawai pemerintah dalam hal ini pegawai negeri sipil (PNS) itu bukan saja enak, melainkan juga mulia. Coba saja simak teks sumpah atau janji yang diucapkan oleh seseorang yang diangkat menjadi PNS. Bagi yang beragama Islam dimulai dengan kata-kata “Demi Allah saya bersumpah”. Itu adalah setinggi-tingginya sumpah. Bila melanggar sumpah itu, dia harus siap menerima laknat.

Pasti setiap PNS hafal diluar kepala akan sumpahnya, mereka bukan saja hafal tetapi betul-betul melaksanakannya dalam keseharian. Umpamanya setia kepada negara, menjungjung tinggi kehormatan negara, bekerja jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan negara.

Hanya orang mulialah yang bisa melaksanakan sumpah atau janji semacam itu. Kemuliaan lain adalah karena tugasnya memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan.

Sekarang setelah 68 tahun Indonesia merdeka, rakyatlah yang harus dilayani oleh PNS, sebagai pengabdian dengan ketulusan hati. Itulah kemuliaan. Mulia menurut kamus bahasa Indonesia berarti tinggi kedudukan atau martabatnya, luhur budinya dan bermutu tinggi.

Jumlah PNS pada tahun 2014 sekitar 4,5 juta orang. Mereka memberikan pelayanan kepada seluruh penduduk Indonesia yang jumlahnya sekitar 250 juta orang. Itu pekerjaan yang tidak bisa dianggap enteng. Coba bayangkan apabila semua PNS sakit secara serentak dan bersamaan selama seminggu, sehingga tidak bisa memberikan pelayanan, pasti negara ini akan kalang kabut.

Karena begitu mulianya, setiap PNS diberi penghargaan naik pangkat reguler setiap 4 tahun, asal dinilai baik (yang disebut orang mulia mana ada yang tidak baik). Pintar tidak pintar atau rajin tidak rajin tetap naik pangkat.

Untuk mendapatkan nilai baik, dengan guyon, muncul istilah filsafat tangan. Pertama cium tangan. Artinya memberi penghormatan kepada yang lebih senior atau atasan. Kedua buah tangan. Jangan disebut upeti karena jelek tetapi lebih kepada rasa penghargaan dan kekerabatan. Ketiga campur tangan. Keberhasilan meniti jenjang karir tidak lepas dari campur tangan beberapa pihak. Keempat tanda tangan. Sebagai pengesahan keberhasilan. Kelima garis tangan. Ini lebih kepada nasib. Keenam jabat tangan. Sebagai hasil akhir keberhasilan kedua pihak. Namum dalam meniti karir ada juga yang memakai filsafat ngojay gaya bangkong (berenang gaya kodok). Ka luhur sumuhun dawuh ka handap nincak ka rayat peupeuleukeuk, ke atasan asal bapak senang, ke bawahan menginjak ke rakyat tidak hormat.

Munculnya Undak Usuk Bahasa Sunda

Mayoritas ulama bahasa Sunda memandang bahwa bahasa Sunda yang asli, tidak mengenal undak usuk. Terdapatnya Undak Usuk Bahasa Sunda (UUBS) bersumber dari bahasa Jawa yang bermula dari imperialisme yang dilakukan Mataram terhadap kerajaan Sunda.

Menurut (mayoritas) ulama bahasa Sunda [Anda berhak untuk mengganti dan atau menghilangkan kata di dalam kurung berikut tanda kurung buka dan kurung tutupnya!], Undak Usuk Bahasa Sunda (UUBS) itu merupakan pengaruh bahasa Jawa. Mosok gak yakin kata-kata Kiayi. Guru, ratu, wongatua karo! Lha, guru itu kan kudu digugu lan ditiru! Lagian, al-‘Ulamau’ warasatil-anbiya, kan?”

Ya, dahulunya, hingga pada awal abad ke-17, bahasa Sunda itu tidak mengenal undak-susuk. Runtuhnya Kerajaan Sunda (1579/1580), dijajahnya Kerajaan Galuh (1595) serta Kerajaan Sumedanglarang (1620) oleh Mataram-lah yang kemudian menjadi jalan akan lahirnya UUBS. Anda tentu tahu Mataram. Ya, ialah Jawa. Mataramlah yang kemudian dapat menguasai wilayah-wilayah yang sekarang dikenal dengan Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Bandung, Sukabumi dan Cianjur.

Pada masa itu, timbul kontak budaya yang begitu dekat antara Sunda dan Jawa. Tidak sedikit kebudayaan Jawa yang masuk (atau bahkan dimasuk-masukkan oleh golongan tertentu dari orang Sunda sendiri) ke dalam budaya Sunda, termasuk dalam hal aksara, bahasa, berikut undak-usuknya, tentunya. Ya, bahasa Jawa-lah yang terlebih dahulu mengenal undak-usuk . Itu terpengaruhi oleh kebudayaan Hindu yang membagi golongan sosial masyakat ke dalam beberapa kasta. Kasta Brahma, Satria, Waisya, Paria dan Sudra, memang masing-masingnya memiliki bangunan bahasanya sendiri-sendiri.

Yang menjadi bukti bahwa UUBS itu berasal dari bahasa Jawa, misalnya, ditemukan berdasarkan hasil penelitian salah seorang ahli Belanda, Sierk Coolsma. Ia sempat mengadakan penelitian, berbentuk kamus, dengan cara membuat perbandingan 400 kosakata halus dan 400 kosakata kasar antara bahasa Sunda dengan Jawa. Hasilnya, 300 kosakata halus dan 275 kosakata kasar dalam bahasa Sunda berasal dari bahasa Jawa. Tapi dalam hal pemakaiannya acapkali mereka bersebelahan.

Misalnya saja, baik orang Sunda maupun Jawa tentu mengenal kata-kata semacam “abot”, “impén”, “anom”, “bobot”, “lali”, “pungkur”, “sasih”, “tunggang”, dsb. Nah, kata-kata itu, kalau di dalam bahasa Sunda termasuk kosakata halus, sedangkan dalam bahasa Jawa termasuk kasar. Sebaliknya, kata-kata semisal “béja”, “bulan”, “datang”, “pindah”, “suku”, “tumpak”, dll. Yang dalam bahasa Sunda tergolong kasar, dalam bahasa Jawa malah halus.

Bukti lainnya, jika Anda sempat membaca naskah-naskah Sunda kuno yang ditulis sebelum abad ke-17, Anda akan menemukannya di sana. Dalam naskah-naskah itu nampak bahwa sebelum adanya pengaruh Mataram, bahasa Sunda itu tidak mengenal UUBS.

Sadatangna sang apatih ka Galunggung, carék Batara Dangiang Guru, “Na naha béja siya, sang apatih?”. “Pun kami dititah ku Rahyang Sanjaya ménta piparintaheun adi Rahyang Purbasora.”

Dialog di atas penggalan dari orang atas penggalan naskah Carita Parahyangan yang ditulis pada abad ke-16. Jika dicermati, kata “carék” itu menurut ukuran UUBS sekarang termasuk bahasa kasar. Jika pada masa itu UUBS sudah ada, apa mungkin seorang penulis naskah menggunakan kata itu saat membicarakan Batara? Lalu, kata-kata “dititah”, “ménta”, dan “piparéntaheun”, menurut ukuran UUBS sekarang termasuk kata-kata kasar. Apa mungkin seorang Patih menggunakan kata-kata itu kepada Batara, jika memang UUBS itu sudah ada?

Lantas siapa yang memulai menggunakan atau mengajarkan UUBS itu? Merekalah para bupati dan ménak Sunda. Mengapa? Sebab pada masa kekuasaan Mataram, setiap tahunnya mereka wajib séba. Di samping itu, banyak ménak-ménak Sunda yang berhaji di Mataram untuk menerima perintah raja sambil mesantren dan belajar kabudayan Jawa, termasuk kabiasaan dalam hal menggunakan bahasa, tentunya.

Lebih jauh lagi, muncullah sebuah pandangan di kalangan para ménak Sunda yang menganggap bahwa bahasa Sunda itu merupakan bahasa kampungan, bahasa somah, bahasa cacah kuricakan, bahasa rakyat jelata; sungguh tidak pantas untuk dipergunakan di kalangan mereka. Ketika meraka melakukan surat-menyurat, misalnya, mereka senantiasa melakukannya dengan bahasa Jawa. Bahkan, jika menerima surat berbahasa Sunda, mereka menganggapnya sebagai sebuah penghinaan. Sebaliknya, bahasa Jawa adalah bahasa ningrat, bahasa keraton, bahasa yang sepatutnya mereka gunakan untuk memperkokoh kedudukannya.

Para ménak itu sungguh tertarik dengan undak-usuk yang terdapat dalam bahasa Jawa. Mereka kesengsrem dengan tatakrama bahasanya. Maka ketika mereka terpaksa harus menggunakan bahasa Sunda, mereka mengadopsi undak-usuk yang terdapat dalam bahasa Jawa itu. Menyebarkan dan mengajarkan serta menerapkannya ke dalam bahasa Sunda. Bahasa halus yang fungsinya untuk menghormati para ménak, pada masa itu sangat digembor-gemborkan!

“Yeuh, aing ménak. Lo jangan ngomong sembarangan sama gue! Lo kudu punya tatakrama! Mulai sekarang, ngomong sama gue harus dibedain dengan ngomong sama binatang! Ngerti?”

Dari sinilah rasanya awal munculnya jurang pemisah dan pengkotak-kotakan golongan pada masyarakat Sunda. Kok, saya malah merasa bahwa sebelum itu, tidak nampak pembedaan status sosial yang dicerminkan dengan cara berbahasa. Ya, sebab itu tadi. Awalnya kan bahasa Sunda tidak mengenal undak-usuk atau tingkatan-tingkatan itu. Ia adalah bahasa yang egaliter dan demokratis. Mau ngomong sama ménak ke, mau sama cacah ke, kalau pake bahasa Sunda, ya udah bahasa Sunda aja! Ngapain dibeda-bedain! Harus halus lah! Harus sedang lah! Lha, semua manusia itu kan sama. Inna akramakun ‘inda Allah-i atqakum. Cuman itu kan yang membedakan. Coba lihat bahasa Qur’an, kata “anta” atinya anda, pengganti nama orang kedua tunggal kepada Allah kadang-kadang menggunakan kata Anta begitu pula kepada Nabi dan sahabat lainnya.

Begitulah, setibanya Belanda ke Tatar Sunda, jurang pemisah derajat sosial itu bukannya hilang. Ia malah kian menganga. Dan, ini terus berlangsung hingga munculnya revolusi nasional yang disudahi dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Barulah pada Konferensi Bahasa Sunda 1953 di Bandung, fungsi bahasa halus yang asalnya digunakan khusus untuk berbicara kepada para menak menjadi digunakan kepada siapa saja yang layak dihormati, terutama kepada yang usia dan atau kedudukannya lebih tinggi.

Kita lanjutkan cerita tentang UUBS. UUBS itu berasal dari bahasa Jawa. Banyak juga kosakata Sunda yang berasal dari bahasa Jawa. Coba saja, tanpa membaca penelitian Coolsma pun, jika Anda kebetulan orang Jawa, lalu Anda mendengar percakapan atau membaca tulisan Sunda yang menggunakan bahasa halus, banyak kan yang Anda mengertii dari kata-katanya itu?

Maka tak heranlah kalau pada awal kedatangan Belanda ke Pulau Jawa, mereka menganggap bahasa Sunda itu sebagai salah satu dialek bahasa Jawa (bergjavaans, Jawa Gunung). Lalu dianggapnya sebagai varian dari bahasa Jawa. Orang Sundanya sendiri dianggap sebagai keturunan orang Jawa yang mendiami pegunungan. Hahahaha… memang enya, urang Sunda mah urang gunung. Gawéna gé ngahuma jeung nyawah! Sok geura, urang Jawa mah sakitu agréngna bisa nyieun Candi Borobudur. Urang Sunda mah paling banter gé nyieun ranggon atawa saung kebon anu hateupna maké daun eurih atawa jarami garing, bari jeung saungna téh réyod deuih.

Kendatipun kemudian Thomas Stamford Raffles lewat bukuna The History of Java (1817), John Crawfurd dalam History of The Indian Archipelago (1820), atau kemudian Andreas de Wilde pada 1829 sudah memisahkan orang Sunda dari Jawa, namun mereka masih menganggap bahasa Sunda itu sebagai varian dari bahasa Jawa, yang oleh Crawfurd disebutnya sebagai minor language of the archipelago. Baru pada 1841-lah bahasa Sunda dianggap sebagai bahasa tersendiri dengan terbitnya Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek karya Taco Roorda.

Heueuh, bener tah anu nyebutkeun Sunda “dicipta” Belanda. Atau menurut saya “dibangunkan” Belanda. Itu pun jika Anda sepakat bahwa orang Sunda pernah tidak melek alias tertidur.

Jadi inget kana tatarucingan: “Beunghar mana urang Jawa jeung urang Sunda?” Cenah téh, “Sok wé bandingkeun ku sorangan, urang Jawa mah bogaeun pulo (pulo Jawa), ari urang Sunda mah ukur bogaeun selat (selat Sunda).”

Tapi nu jelas mah euy, urang téh apal pan dina palajaran geografi aya nu disebut “Sunda Islands” nyaéta island group of the Malay Archipelago between the South China Sea and the Indian Ocean. It consists of two groups, the Greater Sunda Islands, which include Sumatra, Java and Borneo (Kalimantan), and the Lesser Sunda Islands, which include Bali and Timor. Tuh, jelas pan, Jawa gé asup ka pulo Sunda. Jadi salah mun nyebutkeun Sunda aya di pulo Jawa.

Ceuk ahli antropologi urang bulé mah, aya siah “Java man”, early human skeleton: a fossil human being found in Java and elsewhere in Indonesia, assumed to be from the Paleolithic Age. Aya teu “Sunda man”? Tah “Java man” téh cenah, “The body and limbs are very similar to those of Homo Sapiens, but the brain and skull are smaller.

Tapi bener loh, “sunda” itu asalnya untuk menunjuk kepulauan nusantara. Nih dengerin: Kata sunda itu asalnya dari Arab. “sin”, “nun”, “dal” jadi “sanadun”. Coba tanya sama orang yang ngerti bahasa Arab. Apa itu “sanadun”? Ialah “tempat kembali yang kaya akan hasil bumi/pertanian”. Lho, kok dari bahasa Arab sih? Gak salah tuh? Lha emang. Yang ngasih namanya kan orang Arab. Itu tuh, sekitar masa berkuasanya Bani Umayah dan Abbasiyah lah. Tau kan? Lha, orang Islam itu jauh lebih dulu mengenal dunia. Kan mereka dapet petunjuk dari Alqur’an. Sedang yang mempopulerkannya itu para penjelajah kemudian, seperti bangsa Inggris, Portugis, dan Belanda.

Nah, kepulauan Nusantara itu kan banyak menghasilkan hasil pertanian. Ya, semacam rempah-rempah itu. Pokoknya kehijauan deh. Makanya ia disebut “sanadun”. Sebenarnya bukan kepulauan Nusantara saja sih. Banyak juga tempat-tempat lainnya yang disebut demikian. Mereka menyebutnya karena memang sangat jauh berbeda kalau dibandingkan dengan tanah Arab. Cuman, kata “sanadun” ini berbeda pelafalannya. Orang Belanda menyebutnya menjadi “sunda” (itulah Sunda Island). Inggris menyebutnya menjadi “shindu” (untuk India) dan “sudan” untuk yang di Afrika itu. Begitchu!

Sumber: http://angade.my.id/sejarah-undak-usuk-bahasa-sunda/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,667 other followers