Sejarah Lahirnya Desa Pamulihan

BAB I
KEDALEMAN KETUG

Untuk membahas hal-hal yang berhubungan dengan Sejarah Lahirnya Desa Pamulihan, penyusun berpendapat perlu adanya penjelasan terlebih dahulu tentang keadaan pemerintahan di daerah itu sebelum lahirnya Desa Pamulihan. Karena menurut penuturan para sesepuh sebelum Desa Pamulihan berdiri di tempat itu telah ada pemerintahan setingkat desa yang bernama Kedaleman Ketug.

1. Wilayah Kerja Kedaleman Ketug
Kedaleman Ketug wilayahnya mencakup daerah Kecamatan Subang dan Kecamatan Cilebak sekarang. Kedaleman Ketug itu sendiri termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan /Kesultanan Mataram, yang pada masa itu diperintah oleh Sultan Agung.

Di daerah pegunungan dan perbukitan itu, pada masa itu belum dikenal nama pemukiman yang disebut Desa Pamulihan, Desa Jatisari, Desa Mandapa Jaya, Desa Legokherang, Desa Cilebak, Desa Bungur Beres, Desa Patala, Desa Situ Gede, Desa Gunung Aci, Desa Subang, Desa Bangun Jaya dan Desa Tangkolo, apalagi nama Kecamatan Subang dan Kecamatan Cilebak. Yang dikenal pada masa itu baru wilayah pemukiman yang bernama Kedaleman Ketug.

Jika dibandingkan dengan pemerintahan saat ini mungkin Kedaleman Ketug itu setingkat dengan desa, namun wilayah kerjanya cukup luas mecakup Wilayah Kecamatan Subang dan Kecamatan Cilebak sekarang.

Kedaleman Ketug merupakan cikal bakal bentuk pemerintahan desa tertua yang berada di wilayah Kecamatan Subang dan Kecamatan Cilebak, yang dilewati oleh tiga sumber mata air dan diapit oleh perbukitan, dengan pusat pemerintahannya di Ketug yang sekarang dikenal dengan nama Ciketug.

Wilayah Kedaleman ini dipimpin oleh seorang Dalem yang bernama Jabasraga. Tempat tinggal Dalem Ketug itu sendiri diperkirakan berada di sekitar Kampung Ciketug Desa Pamulihan sekarang.

Sisa-sisa peninggalan Kedaleman Ketug yang masih ada dan masih bisa kita jumpai, antara lain:

a. Makam Wangsapraya, putra sulung Dalem Ketug, yang disebut Pasarean Dalem, diperkirakan berada di Kampung Babakan Ciketug Desa Pamulihan.

b. Makam Wangsareka putra kedua Dalem Ketug, yang disebut makam Buyut, terdapat di Kampung Cirahayu Desa Subang.

c. Leuweung Gedogan, berupa hutan kecil yang sekarang sudah berubah menjadi areal pertanian rakyat. Leuweung Gedogan ini diperkirakan sudah ada sebelum pemerintahan Jabasraga, dulunya bekas kandang kuda, letaknya dibukit Nagog dekat kampung Ciketug Desa Pamulihan.

d. Leuweung Sangar (hutan angker, hutan larangan, tempat inipun diperkirakan sudah ada sebelum pemerintahan Jabasraga) merupakan bekas pintu gerbang masuk ke komplek pusat pemerintahan Kedaleman Ketug yang selalu dijaga ketat oleh petugas keamanan, yang berada di pinggir jalan menuju Sarangkole dan merupakan awal memasuki Bukit Nagog dari sebelah Tenggara.

e. Embak Aryani adalah tempat pemandian, airnya sangat jernih dan pada musim kemarau pun airnya tidak pernah kering. Letaknya berada di lereng Bukit Nagog bagian Tenggara, dekat dengan Leuweung Sangar. Tempat inipun diperkirakan sudah ada sebelum pemerintahan Jabasraga.

f. Kampung Ciketug sekarang, merupakan tempat pemukiman penduduk Kedaleman Ketug yang tidak ikut pindah dengan Wirananggapati ke tempat baru di Cibabangsalan.

Menurut penuturan para sesepuh yang disebut makam Dalem itu bukanlah makam Jabasraga, melainkan makam putra sulungnya yang bernama Wangsapraya. Beliau merupakan Dalem Ketug yang kedua yang tidak mempunyai wilayah kerja. Wangsapraya satu-satunya putra Jabasraga yang menetap di Ciketug hingga wafatnya dan istrinya bernama Putri Dewi. Oleh masyarakat setempat makam itu disebut sebagai Makam Dalem dan lebih dikenal dengan nama Pasarean.
Menurut keterangan masyarakat setempat rumah Jabasraga pun lokasinya tidak jauh dari makam Wangsapraya atau Makam Dalem tersebut.

Jabatan kepala pemerintahan wilayah Ketug pada waktu itu disebut dalem. Padahal sebutan dalem biasanya dipergunakan sebagai panggilan kehormatan kepada pejabat yang berpangkat setingkat bupati.

Dalam menjalankan tugasnya Jabasraga mendapat perintah dan arahan langsung dari Sultan Mataram, yang pada masa itu dipimpin oleh Sultan Agung. Sebagai tanda bakti setia yang wajib dilakukan oleh setiap kepala daerah kepada pemerintah pusat di Mataram, mereka setiap tahun harus datang langsung menghadap Sultan Mataram sambil menyerahkan upeti berupa hasil pertanian dari hasil usaha tani masyarakat di daerahnya masing-masing. Di samping menyerahkan upeti sebagai tanda bakti setia, mereka pun berkumpul untuk menghadiri seba (rapat kerja tahunan) di Kesultanan. Acara seba itu biasa juga disebut dengan Seba Tahunan, karena acara seba itu hanya diadakan setahun sekali.

Banyaknya upeti yang harus diserahkan kepada Sultan Mataram oleh setiap desa ditentukan berdasarkan luas dan suburnya areal pertanian yang dikelola oleh masyarakat di desanya masing-masing. Upeti tersebut biasanya dibawa oleh rombongan pengantar yang dipimpin langsung oleh kepala desa. Karena perjalanan yang dilalui cukup jauh dan sulit, maka untuk sampai di Mataram itu diperlukan waktu berminggu-minggu bahkan bisa sampai berbulan-bulan. Upeti tersebut biasanya diangkut dengan menggunakan tenaga pemikul, kuda beban ataupun pedati yang ditarik beberapa ekor sapi jantan atau kerbau jantan yang besar dan kuat tenaganya. Sedangkan kepala desa sebagai pimpinan rombongan biasanya menaiki kuda tunggang.

Pada acara seba tahunan tersebut, Sultan di samping menerima upeti sebagai tanda bakti setia, juga menerima laporan dari setiap kepala desa mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan pemerintahan dan keadaan masyarakat di daerahnya masing-masing. Pada kesempatan itu pula Sultan memberikan arahan dan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan para kepala desa untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di desanya masing-masing.

Masyarakat Kedaleman Ketug pada umumnya hidup sebagai petani. Mereka bercocok tanam di ladang, di bawah pengawasan dan petunjuk dari Jabasraga sebagai Dalem atau Kepala Pemerintahan setingkat desa. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai Dalem Ketug, Jabasraga dibantu oleh kedua orang putranya yang bernama Wangsapraya dan Wangsareka. Sedangkan Rincik Manik membantu berbagai kegiatan ibunya.

Jabasraga sebagai Dalem Ketug merupakan tokoh yang disegani, patuh, cerdas, dan gigih dalam membina masyarakat tani yang berada di wilayahnya. Dalam membina hubungan dengan Kesultanan Mataram, Jabasraga selalu hadir dalam setiap acara “Seba Tahunan” di Kesultanan Mataram. Begitu pula dalam melaksanakan tugasnya Jabasraga senantiasa mendapat petunjuk dan arahan langsung dari Sultan Mataram, yang diterimanya pada waktu mengikuti acara Seba Tahunan.

Kerja keras Jabasraga dalam memimpin masyarakat di Kedaleman Ketug dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Kedaleman Ketug. Masyarakat Kedaleman Ketug hidup dalam keadaan aman, tentram, subur makmur, kerta raharja.

2. Pertemuan Dalem Ketug dengan Wirananggapati

Mengenai keluarga Jabasraga, ada beberapa versi yang berbeda. Sebagaimana telah diuraikan di atas Jabasraga mempunyai dua orang putra dan seorang putri, yaitu: Wangsapraya, Wangsareka dan Rincik Manik. Namun ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa Jabasraga mempunyai tiga orang putra dan seorang putri, yang bernama Danaraga, Wangsapraya, Wangsareka dan Rincik Manik. Di samping itu masih ada pula versi lain lagi yang menyebutkan bahwa Jabasraga mempunyai tiga orang putra dan seorang putri, yaitu yang bernama Wangsapraya, Wangsareka, Wangsalaya dan Rincik Manik.

Dalam mengolah tanah pertanian semua anggota keluarga Jabasraga ikut berperan aktif, terutama kedua orang putranya. Namun Rincik Manik pun tidak mau ketinggalan, walaupun dia seorang perempuan, dia dengan menunggang kuda pergi ke ladang mengantar makanan untuk para pekerja yang sedang bekerja di ladang. Dalam mengolah tanah pertanian, keluarga Jabasraga biasanya dibantu oleh anggota masyarakat secara bergotong-royong.

Pada suatu hari seperti biasanya Rincik Manik dengan menunggang kuda pergi ke ladang. Setelah turun dari kudanya Rincik Manik pun langsung menuju dangau (saung) untuk menyimpan makanan yang dibawanya. Namun ketika dia membuka pintu dangau, alangkah kagetnya, karena di dalam dangau itu ada seorang pemuda yang belum pernah dikenalnya sedang tertidur dengan lelapnya.

Rincik Manik tidak jadi masuk, dia mundur lagi, terus naik kuda dan langsung kembali lagi ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia langsung melaporkan kepada ayahnya tentang keberadaan seorang pemuda yang berada di dalam dangaunya. Rincik manik menjelaskan kondisi pemuda itu, badannya yang kurus kering seperti sedang menderita sakit, pakaiannya pun kumal dan compang-camping.

Setelah mendapat laporan dari putrinya, Jabasraga pun segera memerintahkan beberapa orang kepercayaannya untuk mendampingi putrinya kembali ke ladang, untuk menyelidiki kebenaran cerita putrinya. Apabila laporan itu benar adanya, Jabasraga memerintahkan untuk segera membawa pemuda itu menghadapnya di Balai Pertemuan Kedaleman Ketug.

Sesampainya rombongan Rincik Manik di dangau, mereka langsung memeriksa dangau itu. Mereka menjumpai pemuda itu masih tertidur lelap. Selanjutnya pemuda itu pun dibangunkan dan dibawa menghadap Jabasraga di Balai Pertemuan Kedaleman Ketug.

Di balai pertemuan tersebut Rincik Manik bersama para pengawalnya melaporkan bahwa pemuda yang dibawanya menghadap adalah pemuda yang dijumpainya sedang tertidur di dalam dangau.

Jabasraga mempersilakan pemuda itu duduk di hadapannya. Jabasraga mengamati pemuda itu dengan cermat, arif dan bijaksana mulai dari fisiknya, sikap dan penampilan pemuda itu.

Pada kesempatan itu Dalem Ketug memperkenalkan dirinya kepada pemuda itu, bahwa dirinya adalah kepala pemerintahan di Kedaleman Ketug, yang termasuk ke dalam wilayah Kesultanan Mataram. Beliau menjelaskan bahwa dangau yang digunakan untuk tidur itu adalah miliknya. Selanjutnya beliau memeriksa pemuda itu. Dalam pemeriksaan itu beliau bertanya, “Siapa namanya, dari mana dan hendak ke mana, membawa apa dan mengapa bisa sampai ke dangau yang ada di ladangnya?”

Pemuda itu pun dengan penuh hormat dan tutur kata yang lemah lembut serta dengan penampilan yang menggambarkan kesederhanaan, dia menyatakan permohonan maaf atas kesalahannya, karena sudah berani masuk ke dangau yang ada di ladang itu serta tidur di dalamnya tanpa minta izin terlebih dahulu kepada pemilik dangau itu.

Sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan Dalem Ketug, dia menuturkan kisah perjalanannya sejak keberangkatannya meninggalkan rumahnya sampai dia masuk ke dalam dangau itu sebagai berikut:
“Nama saya Wirananggapati, Saya datang dari arah timur wilayah Kedaleman Ketug dan masih termasuk ke dalam wilayah Kesultanan Mataram. Berangkat dari rumah saya bertiga dengan kedua adik laki-laki seayah dan seibu. Ayah saya telah meninggal dunia ketika kami masih anak-anak.

Kami meninggalkan rumah karena ditugaskan oleh Ibunda untuk mencari ilmu dan pengalaman sebagai bekal hidup kelak. Kamipun dipesan oleh ibu agar senantiasa ramah dan menjaga sopan santun kepada setiap orang yang dijumpai dalam perjalanan, serta kami harus selalu dekat dengan masyarakat di mana pun kami berada. Kami pun dipesan pula agar kami selalu berada di wilayah kekuasaan Mataram, kami tidak boleh melewati batas wilayah karena akan membahayakan keselamatan kami.

Menurut pesan ibu kami bertiga harus berjalan menuju ke arah barat menuju ibukota Kerajaan Sumedang Larang, karena di Kerajaan Sumedang Larang sebagian masyarakatnya sudah menganut agama Islam. Akan tetapi apabila dalam perjalanan kesasar, kami harus berjalan menuju ke arah matahari terbenam. Dalam amanatnya, ibu pun berpesan agar kami bertiga tidak boleh melewati sungai besar pertama yang dijumpai.

Tanda-tanda sungai besar yang disampaikan ayah kami kepada ibu, yaitu sungai itu dari hulu ke hilir membujur dari Utara ke Selatan dan berbelok sedikit ke arah timur seperti melingkar dan akhirnya sungai itu bermuara di laut Selatan yang bernama Segara Anakan. Wilayah yang ada di seberang sungai itu tidak boleh kami injak karena daerah itu merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran. Mengenai hal ini ibu kami berpesan sungguh-sungguh agar kami tidak menyeberangi sungai itu karena keselamatan kami bisa terancam.

Kepada kami bertiga ibu pun berpesan, apabila kami medapat kesulitan, kami boleh meminta bantuan kepada masyarakat setempat. Namun ini hanya boleh dilakukan apabila kami betul-betul dalam keadaan terpaksa, tidak ada jalan lain lagi yang dapat kami lakukan. Menurut ibu masyarakat di sepanjang perjalanan akan selalu membantu dengan sukarela asalkan kami selalu bersikap baik dan sopan santun senantiasa dijaga, dan apabila keadaan benar-benar memaksa katakan saja bahwa kami berasal dari wilayah Timur Kesultanan Mataram.

Pesan ibu yang lain yang diberikan kepada kami yaitu jika kami telah menemukan suatu daerah yang baik untuk tempat tinggal, dan kami merasa cocok dengan tatacara kehidupan masyarakat setempat serta masyarakatnya dapat menerima kami, maka kami harus tinggal di sana dan tidak usah kembali lagi ke kampung halaman. Kami pun diperintahkan untuk turut berperan serta dalam membina masyarakat, kami harus memberikan suri teladan dan berusaha menjadi pemimpin yang baik bagi masyarakat pedesaan, sehingga kami dapat diterima hidup di tengah-tengah mereka.

Menurut ibu mengapa kami harus meninggalkan kampung halaman, karena kalau kami bertiga tetap berada di kampung bersama ibu, hidup kami akan susah, kami hanya akan menjadi rakyat biasa, tidak ada harapan sama sekali untuk dapat berubah ke arah yang lebih baik. Apalagi jika berharap ingin menjadi pemimpin, menjadi orang terhormat, karena sudah ada aturan yang sudah berlangsung turun-temurun di kampung kami, bahwa yang boleh menjadi pemimpin hanya mereka yang berasal dari orang keturunan ningrat. Itupun dipilih dari salah seorang putra terbaik di antara mereka. Sedangkan kami hanya rakyat biasa, sehingga tidak ada celah sedikit pun yang dapat kami lalui untuk bisa beranjak naik derajat, apalagi menjadi pemimpin.

Ketika kami akan berangkat meninggalkan rumah, ibu membekali kami dengan dua buah benda, yaitu sebilah keris dan sehelai kain cinde/selendang. Kedua benda itu tidak boleh hilang atau diberikan kepada orang lain. Apabila dalam perjalanan mendapat gangguan keamanan yang mengamcam jiwa kami, maka kedua benda itu boleh digunakan sebagai senjata untuk membela diri. Dan mungkin pula pada suatu saat kami bertemu lagi dengan ibu atau anggota keluarga yang lain, namun karena tenggang waktu yang cukup lama sehingga di antara kami sudah tidak saling mengenal lagi, maka kedua benda itulah sebagai salah satu bukti bahwa siapa pun yang memegang benda itu adalah anggota keluarganya.

Dalam perjalanan mencari Ibukota Kerajaan Sumedang Larang, setelah berjalan kaki naik turun gunung, masuk hutan ke luar hutan, berjalan kaki berbulan-bulan, bahkan kami sudah meninggalkan ibu dan kampung halaman bertahun-tahun lamanya. Berbagai musibah silih berganti menimpa kami. Ketika kami sampai di daerah Gunung Jawa adik saya yang bernama Saraya terserang sakit keras. Walau pun sudah diupayakan diobati dengan dibantu masyarakat setempat, namun jiwanya tidak tertolong. Dia akhirnya meninggal dan dimakamkan di Gunung Jawa Kecamatan Karang Kancana sekarang.

Kami tinggal berdua, kami berdua tidak putus asa, kami pun melanjutkan perjalanan menuju arah matahari terbenam. Namun lagi-lagi musibah pun menimpa kami. Adik saya yang bernama Pesir pun menderita sakit keras dan akhirnya meninggal dunia di Cirukem Kecamatan Ciniru, dan jasadnya dimakamkan di sana. Sehingga yang tadinya kami berangkat bertiga, kini saya tinggal sebatang kara, hidup berselimut duka.”

Begitu selesai Wirananggapati menguraikan kisah perjalannya, Dalem Ketug pun bertanya lagi, “Bagaimana kejadiannya kamu bisa sampai di ladang dan masuk ke dangau kami?”

“Sebagaimana telah saya uraikan tadi, setelah kedua adik saya meninggal, dan dalam keadaan yang hampir putus asa, saya tetap harus mencoba melanjutkan perjalanan sesuai dengan pesan ibu walaupun hanya seorang diri, sebab saya mempunyai keyakinan bahwa pesan yang disampaikan ibu merupakan amanat yang harus dipegang dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Memang pesan yang disampaikan ibu kadang-kadang terasa pahit dan sangat menyakitkan, karena beliau berpesan kepada saya untuk tidak kembali lagi pulang ke kampung halaman. Ibu sepertinya orang yang telah membuang anaknya. Tetapi saya yakin di balik itu semua ibu mempunyai niat baik untuk masa depan anak-anaknya. Sehingga dengan keyakinan itu saya tidak boleh tidak akan terus mencari tempat yang diidam-idamkan. Saya harus menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal di wilayah Kesultanan Mataram bagian barat.

Dalam perjalanan selanjutnya, pada suatu pagi sampailah saya di tepi sungai besar dan airnya mengalir deras. Rupanya sungai itu adalah anak sungai Citanduy, yang sekarang dikenal dengan nama Sungai Cijolang. Tempat itu lokasinya diperkirakan berada di daerah Cimenga. Dengan berpedoman kepada arah matahari terbit, saya berkeyakinan sungai itu membujur dari utara ke selatan. Firasat saya mengatakan bahwa sungai itulah yang menjadi batas akhir perjalanan saya. Saya tidak boleh menyeberangi sungai itu sebagaimana yang diamanatkan ibu kepada kami ketika akan berangkat serta nasehat para sesepuh di Cirukem yang mengatakan bahwa di wilayah barat belum sepenuhnya menganut Agama Islam dan masih banyak gangguan keamanan.

Di tempat itu saya lama duduk termenung memikirkan ke arah mana saya harus melanjutkan perjalanan. Untuk kembali lagi ke arah semula dengan menempuh jalan yang sudah saya lalui, rasanya sudah tidak sanggup lagi, karena berarti saya harus naik turun gunung dan keluar masuk hutan belantara. Sungguh suatu perjalanan yang sangat melelahkan. Namun yang pasti saya harus balik arah menuju ke arah saya tadi datang. Saya tidak boleh menyeberangi sungai itu, karena sungai itu merupakan batas wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram, dan kalau saya memaksakan diri menyeberanginya itu berarti melanggar pesan ibu dan keselamatan saya pun terancam.

Saya mencari tempat yang letaknya agak tinggi, dan dari sana saya dapat memperhatikan dengan cermat ke arah mana sungai itu mengalir. Ternyata sungai itu berbelok ke arah timur dan mengalir ke arah saya tadi datang. Saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke arah semula dengan melalui aliran sungai. Dengan berpatokan kepada sungai besar yang saya hadapi, saya berkeyakinan tidak akan kesasar menyeberang ke wilayah lain.

Dengan menggunakan peralatan seadanya yang saya bawa, saya pun membuat rakit dari batang pisang batu yang kebetulan banyak tumbuh di sana. Dengan penuh kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa dan dengan terus berdoa semoga rakit yang saya naiki dapat mengantarkan saya ke tempat yang selama ini saya harapkan, saya pun mengarungi sungai tersebut. Dan kalau ternyata saya harus mati dalam perjalanan ini saya serahkan semuanya kepada Allah SWT.

Rupanya tingkat kelelahan yang saya alami sudah mencapai puncaknya, sehingga saya pun tertidur di atas rakit yang sedang hanyut itu. Ketika saya bangun ternyata rakit yang saya naiki itu sudah berada di muara sungai, dan tersangkut akar pohon yang menjulur di pinggir sungai.

Badan saya sudah terasa segar kembali. Saya pun turun dari rakit menuju daratan yang ada di sekitar muara sungai itu. Waktu itu rupanya hari menjelang pagi, alam sekitar masih terlihat remang-remang, sebagian gelap sebagian lagi terang (carangcang tihang). Saya melaksanakan sholat Subuh di muara sungai sambil berdoa memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Hari makin siang benda-benda yang bertebaran letaknya mulai terlihat dengan jelas baranang. Tempat itu pun sampai sekarang bernama Leuwi Baranang Siang.

Saya perhatikan dari tempat saya berdiri, terutama ke arah sungai yang mengalir dari arah Timur dan bermuara di sana. Saya melihat seikat sapu padi yang masih utuh dan tampaknya masih baru bekas orang menumbuk padi. Saya berkeyakinan bahwa tidak jauh dari tempat itu ada tempat pemukiman, sebab kalau pemukiman itu letaknya masih jauh, tidak mungkin sapu padi yang saya jumpai masih bersih dan tampak baru bekas ditumbuk. Tidak jauh dari situ saya menemukan lagi seikat sapu padi yang sudah hangus terbakar sebagian, mungkin sapu itu bekas orang membawa api atau bekas obor orang yang berjalan di malam hari.

Berdasarkan penemuan dua ikat sapu padi itu, kemudian saya berjalan menelusuri ke arah hulu sungai, ternyata sungai itu merupakan celah di antara dua bukit yang curam. Kiri-kanan sungai itu berbentuk tebing-tebing batu yang tinggi dan terjal. Dari setiap celah dinding sungai yang berbatu-batu itu terdapat bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang merambat dan menjulur ke bawah, serta diselingi dengan pepohonan lain yang juga menempel di sana.

Saya melihat suatu keajaiban alam, meskipun tumbuhan itu hanya menempel di bebatuan, tetapi tumbuh subur seperti tumbuhan yang tumbuh di atas tanah. Setelah saya perhatikan dengan seksama ternyata dari celah-celah bebatuan itu mengeluarkan air yang menyebabkan suburnya tumbuh-tumbuhan di sana. Kedua belah dinding sungai yang terjal itu bagaikan lubang susuuban (rembesan) yaitu tempat keluarnya air yang merembes ke seluruh dinding batu yang akhirnya menyatu dan mengalir menjadi satu susuuban yang besar dan menjadi sungai (Sungai Cisubang sekarang).

Sambil berjalan menelusuri pinggir sungai saya terus berpikir, saya pun orang susuuban pasti bisa hidup dengan baik di sini, asalkan berbudi pekerti luhur, bisa menyesuaikan diri, dapat bergaul dengan baik di masyarakat, dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan alam di daerah itu walau pun tempat ini masih asing bagiku. Pemikiran seperti itu menambah semangat hidup saya, meskipun saya hidup sebatangkara, jauh dari orang tua dan sanak saudara.

Hari sudah semakin siang, saya terus berjalan menelusuri tepi sungai itu. Dari kejauhan terlihat asap mengepul di lereng bukit dan di bawahnya terlihat hamparan sawah yang menghijau. Dari sungai itu, saya berbelok ke kiri menelusuri anak sungai yang bernama Sungai Angsana, menuju hamparan sawah yang menghijau, tapi ternyata dugaan saya salah. Yang tadi saya kira sawah yang sedang menghijau itu ternyata bukan padi yang menghijau, melainkan hamparan pohon pisang kole. Dataran yang menghijau itu hanyalah serang pisang kole. (Tempat itu sekarang telah menjadi perkampungan, yang kita kenal dengan nama Kampung Sarangkole).

Dari sini saya menuju ke arah asap yang mengepul di perbukitan. Sesampainya di sana ternyata asap itu mengepul dari sebuah dangau yang terletak di ladang yang kebetulan padinya sedang menghijau. Lama saya duduk termenung di situ sambil memandang ke sekitarnya, menikmati pemandangan yang indah, dengan tumbuh-tumbuhan yang menghijau terhampar luas. Di sebelah timurnya terlihat gunung menjulang tinggi sambung-menyambung dengan gunung-gunung kecil dan perbukitan, dan di bawahnya sungai berliku-liku. Bagian hilir sungi inilah yang tadi pagi saya lalui. Walaupun saya merasa lelah, namun saya bergembira karena telah menemukan tempat yang selama ini saya harapkan. Tempat ini pun sesuai pula dengan cerita dan petunjuk yang disampaikan oleh ibu.

Tidak terasa waktu telah mulai gelap. Dengan penuh harap saya menuju sebuah dangau dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, mohon ijin untuk masuk ke dangau tersebut. Saya berkali-kali mengetuk pintu dan memberi salam namun sama sekali tak ada jawaban. Karena hari sudah semakin gelap dan semakin malam, dengan sangat terpaksa saya memberanikan diri masuk ke dalam dangau itu. Rupanya karena sangat lelah saya tergeletak dan tertidur di sana sampai akhirnya saya dibangunkan orang dan dibawa ke sini.”

Jabasraga sangat terkesan dengan uraian Wirananggapati yang sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan bertahun-tahun lamanya, serta kini hidup sebatang kara. Jabasraga merasa simpati kepadanya, dan ia pun menawarkan kepada Wirananggapati untuk tinggal bersamanya di Kedaleman Ketug.
Jabasraga membutuhkan penjaga ladang, terutama pada malam hari karena sering mendapat gangguan dari binatang liar, sehingga terpaksa harus menginap di dangau yang ada di ladangnya. Kalau mau dan sanggup, kepada Wirananggapati ditawarkan untuk mengurus ladang miliknya. Wirananggapati dengan senang hati menerima tawaran tugas tersebut.

Telah berbulan-bulan lamanya Wirananggapati menjalankan tugasnya menjaga ladang Jabasraga, dan ia tinggal di dangau. Setiap hari ia dikirimi makanan dari rumah Jabasraga yang diantar oleh pegawai kedaleman yang selalu didampingi oleh Rincik Manik putri Jabasraga. Sejak awal Rincik Manik telah meminta kepada ayahnya agar dia diijinkan menjadi pendamping pengantar makanan untuk Wirananggapati. Ayahnya pun tidak merasa keberatan atas permintaan putrinya itu.

Musim panen telah tiba, masyarakat di wilayah Kedaleman Ketug pun bergotong royong menuai padi di ladang. Begitu pula di ladang Jabasraga, mereka menuainya dan setelah kering langsung mengangkutnya ke lumbung. Pada waktu masyarakat bergotong-royong mengangkut padi ke lumbung Jabasraga, Wirananggapati pun tidak mau ketinggalan dan ternyata Wiranangggapati lebih kuat tenaganya daripada para pemuda yang ada di Kedaleman Ketug. Dia mampu mengangkut jauh lebih banyak daripada yang dibawa oleh para pemuda di sana.

Melihat hal itu Jabasraga sangat bergembira karena ternyata pegawainya memiliki tenaga yang kuat, dan selama menjaga ladang Wirananggapati pun selalu menjalankan tugasnya dengan baik, tidak pernah lalai, serta budi pekertinya sangat baik, ia selalu ramah kepada siapa pun, terutama kepada Jabasraga dan keluarganya.

Karena seringnya bertemu dengan Wirananggapati, putri Jabasraga pun makin mengenal pribadi dan ketampanan pemuda itu. Rincik Manik makin lama makin tertarik akan kepribadian dan ketampanan Wirananggapati, sehingga Rincik manik pun jatuh hati kepadanya. Oleh karena itu tidak aneh kalau Rincik Manik selalu meminta kepada ibunya agar dia diijinkan mendampingi pengantar makanan untuk Wirananggapati. Rupanya Rincik Manik tidak bertepuk sebelah tangan, sebab ternyata Wirananggapati pun mempunyai perasaan yang sama, ia pun menaruh hati kepada Rincik Manik.

Jabasraga dengan keluarganya belum begitu banyak mengenal perangai dan budi pekerti Wirananggapati yang sesungguhnya. Jabasraga baru mengenalnya sedikit, ketika pemuda itu dipanggil menghadapnya, dan selanjutnya Wirananggapati ditempatkan di dangau sebagai penjaga ladang.

Sebagai penjaga ladang, Wirananggapati selalu berada di ladang dan menginap di dangau yang ada di ladang itu, sedangkan Jabasraga sangat sibuk dengan tugasnya menjalankan roda pemerintahan di Kedaleman Ketug, sehingga semenjak pertemuannya di balai pertemuan itu Jabasraga tidak pernah berjumpa lagi dengan Wirananggapati.

Setelah musim panen usai, Jabasraga memperhatikan sikap dan gerak-gerik kedua anak muda itu, terutama tindak-tanduk Wirananggapati. Ternyata Wirananggapati seorang ksatria yang penuh kharismatik, berwibawa, cerdas, pemberani dan gigih dalam melaksanakan tugasnya, serta selalu menjaga sopan santun dan selalu ramah kepada siapa pun. Melihat hal itu Jabasraga sangat tertarik oleh Wirananggapati, maka akhirnya Jabasraga pun menawarkan kepada Wirananggapati untuk dinikahkan dengan putri tunggalnya yang bernama Rincik Manik. Wirananggapati menyambut baik tawaran Jabasraga itu dan akhirnya Wirananggapati pun menikah dengan Rincik Manik dan ia pun resmi menjadi menantu Dalem Ketug.

Setelah sekian lama Wirananggapati menjadi menantu Dalem ketug, Dalem Ketug pun usianya sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan, maka sebagai tugas dalem pun sering diwakilkan kepada menantunya. Ternyata Wirananggapati dapat menjalankan tugas-tugas tersebut dengan baik, sedangkan kedua putranya yang bernama Wangsapraya dan Wangsareka menurut penglihatan dan penilaian Jabasraga belum memiliki sifat-sifat kepemimpinan seperti yang dimiliki Wirananggapati, oleh karena itu Jabasraga merasa ragu untuk memberikan tugas-tugas berat yang berhubungan dengan kegiatan pemerintahan kepada kedua putranya.

Hal ini sangat terlihat dengan jelas ketika waktunya seba datang, yaitu mengantarkan upeti hasil pertanian dan sekaligus mengikuti pertemuan pejabat pemerintahan di seluruh wilayah kesultanan Mataram. Dalam pertemuan tersebut semua kepala desa wajib datang di Kesultanan Mataram, untuk melaporkan segala permasalahan yang terjadi di daerahnya masing-masing.

Dalem Ketug merasa sudah sangat tua dan sudah tidak sanggup lagi untuk menempuh perjalanan jauh dengan naik kuda selama berminggu-minggu, naik turun gunung, masuk hutan ke luar hutan untuk datang ke Mataram. Dalem Ketug memanggil kedua putranya yaitu Wangsapraya dan Wangsareka serta menantunya yang bernama Wirananggapati. Beliau meminta kesediaan mereka untuk mewakilinya mengikuti Seba di Mataram, serta melaporkan kepada Sultan bahwa dirinya tidak bisa datang karena sedang dalam keadaan sakit.

Kedua putra Dalem Ketug menyatakan tidak sanggup, karena mereka merasa belum mampu untuk berhadapan langsung dengan Sultan, dan belum punya pengalaman memimpin rombongan untuk mengantarkan upeti, sedangkan Wirananggapati menyatakan kesiapan dan kesanggupannya untuk mengemban tugas mewakili Dalem Ketug mengikuti Seba dan mengantarkan upeti ke Mataram.

3. Wirananggapti Mewakili Jabasraga/Dalem Ketug Menghadiri Seba di Mataram.

Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Dalem Ketug, Wirananggapati pun memimpin rombongan pengantar upeti dan mengikuti seba tahunan yang diselenggarakan di lapangan terbuka Kesultanan Mataram. Wirananggapati karena statusnya hanya sebagai wakil, dia tidak boleh duduk di barisan depan, maka ia pun duduk di barisan paling belakang. Meskipun demikian ia memilih tempat yang strategis untuk dapat melihat siapa Sultan yang akan memimpin seba tahunan tersebut. Wirananggapati ingin mengetahui apakah orang-orang Mataram, terutama Sultan Mataram masih mengenali dirinya saat itu, karena ia yakin yang menjadi Sultan Mataran saat itu masih saudaranya juga.

Ketika Sultan Mataram sudah berada di tengah arena paseban, setiap kepala pemerintahan melaporkan keadaan, serta berbagai permasalahan yang ada di wilayahnya masing-masing. Wirananggapati pun tidak luput, dia melaporkan bahwa dirinya adalah menantu Dalem Ketug. Ia ditugaskan mewakili Dalem Ketug menghadiri seba di Kesultanan, karena dalem Ketug sendiri tidak bisa datang karena sudah tua dan kebetulan sedang sakit. Sultan dapat menerima dan memahami segala permasalahan yang dilaporkan wakil Dalem Ketug.

Pada saat sedang menyampaikan laporan berbagai permasalahan yang ada di Kedaleman Ketug, Wirananggapati tidak yakin kalau Sultan Mataram sudah tidak lagi mengenali dirinya, karena jarak waktu antara keberangkatan dirinya meninggalkan ibu dan kampung halamannya dengan pertemuan saat itu belum begitu lama, begitu pula jarak antara dia dengan tempat Sultan dalam pertemuan itu tidak begitu jauh. Melihat perilaku Sultan Mataram saat itu yang berpura-pura sudah tidak mengenali lagi dirinya, hatinya benar-benar merasa sakit sekali dan Wirananggapati tidak bisa menerima perlakuan Sultan seperti itu.

Wirananggapati lama termenung, kerinduan kepada ibu dan kampung halaman yang telah bertahun-tahun lamanya ditinggalkan muncul kembali. Ia ingin memberitahukan kepada ibunya, bahwa kedua adiknya telah meninggal, dan ia pun ingin memberitahukan perlakuan Sultan Mataram terhadap dirinya. Terbayang kembali masa silam ketika dia masih tinggal di dalam istana, berkumpul dengan seluruh anggota keluarga, dan terbayang pula ketika dia harus meninggalkan ibu dan kampung halamannya. Terbayang dalam ingatannya ketika para pengawal yang selalu setia mendampinginya mengkhawatirkan dia dan kedua adiknya. Mereka melihat gelagat akan adanya perpecahan dalam keluarga istana dan mereka menganggap dirinya dengan kedua adiknya berada dalam keadaan bahaya, sehingga mereka berusaha untuk segera menyelamatkannya.

Mengingat itu semua hatinya menjerit, perasaannya tergugah dan bergejolak bagaikan air yang sedang mendidih karena tidak terima diperlakukan terlalu rendah oleh orang-orang kesultanan, terutama oleh Sultan Mataram sendiri. Rasa sakit hatinya kepada sultan telah menimbulkan keberanian yang datang secara tiba-tiba. Dia ingin menunjukkan kepada Sultan Mataram, siapa dirinya yang sebenarnya. Sultan harus diingatkan bahwa Wirananggapati punya kemampuan dan kekuatan. Dia berkeyakinan bahwa dirinya tidak serendah dan sehina itu, sehingga ia harus tersisih dari keluarga istana. Selama ini Wirananggapati selalu mengalah agar tidak menimbulkan kekacauan dalam keluarga dan pemerintahan, walaupun ia sama-sama keturunan Sultan Mataram.

Setelah acara seba selesai, pada waktu diselenggarakan acara hiburan, Wirananggapati ingin melampiaskan segala gejolak yang ada dalam dirinya. Pada saat itu dia menemukan akal yang sangat jitu, yaitu memasukkan seekor orong-orong (gaang) ke dalam telinga sapi jantan penarik pedati seorang kuwu peserta seba, yang diikatkan pada sebatang pohon di sekitar arena paseban. Akibat rasa geli dan sakit telinga yang dideritanya, sapi itu pun mengamuk, merusak segala yang dijumpainya di paseban. Sapi itu mengamuk bagaikan banteng liar. Baik pemilik pedati maupun para peserta seba dan laskar kesultanan tidak ada seorang pun yang berani dan sanggup menjinakkannya apalagi menangkapnya.

Sultan yang menyaksikan peristiwa itu sangat ketakutan, walaupun beliau berada di atas panggung kehormatan yang dipagar oleh pasukan ksatria kesultanan. Dari atas panggung kehormatan yang letaknya paling tinggi, Sultan melalui juru bicaranya mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat menangkap sapi yang sedang mengamuk, siapa pun orangnya, tidak akan pandang bulu, tidak mengenal tingkat jabatan dan derajatnya, akan diangkat menjadi prajurit ksatria Mataram dan akan diberi imbalan memimpin sebagian wilayah Mataram yang akan ditentukan luas dan batas wilayah yang menjadi daerah wewenangnya.

Dari seluruh yang hadir tidak ada seorang pun yang menyatakan kesanggupannya untuk menangkap sapi tersebut. Setelah berulang-ulang diumumkan dan tidak ada seorangpun yang menyatakan kesanggupannya, akhirnya salah seorang di antara peserta seba yang hadir, yaitu Wirananggapati mengangkat tangan dan menyatakan kesanggupannya untuk menangkap sapi tersebut.

Sultan Mataram yang gemetar ketakutan di atas panggung kehormatan, melalui juru bicaranya menyetujui dan langsung memerintahkan untuk segera bertindak. Namun bila gagal menangkap sapi tersebut akan dijatuhi hukuman berat setimpal dengan kebohongannya. Wirananggapati dengan tegas dan dengan penuh percaya diri menyatakan kesiapannya untuk menerima hukuman seberat apapun yang akan ditimpakan oleh Sultan kepadanya, apabila dia gagal menangkap sapi itu.

Seluruh peserta yang hadir dan menyaksikan peristiwa itu mendengar dengan jelas tentang ganjaran atas keberhasilan dan hukuman dari Sultan apabila mengalami kegagalan.

Wirananggapati ke luar dari tempat duduknya dan langsung menuju ke depan sapi yang sedang mengamuk itu dengan langkah yang tenang dan mantap. Sapi itu matanya merah, menandakan bahwa ia benar-benar dalam keadaan marah. Sapi itu mendengus-dengus, menggerak-gerakkan kedua kaki depannya sambil mengorek-ngorek tanah. Mula-mula sapi jantan yang besar dan gagah serta bertanduk lancip itu menatap ke arah Wirananggapati dengan sikap yang garang, memperlihatkan keganasan dan kebuasannya dalam keadaan siap menyerang Wirananggapati.

Keajaiban pun terjadi. Setelah Wirananggapati berhadapan dengan sapi yang mengamuk itu, tiba-tiba saja sapi itu terlihat dengan jelas seluruh badannya gemetar dan dengan perlahan-lahan gerakannya semakin melemah dan moncongnya tersungkur ke tanah karena melihat lambaian selendang cinde dari tangan Wirananggapati.

Wirananggapati dengan langkah yang mantap mendekati sapi yang sudah tersungkur itu. Kemudian dia mengelus-elus kepalanya dengan kain cinde, sambil mendekatkan mulutnya ke telinga sapi itu dan membisikkan sesuatu ke telinga sapi itu. Tangan kirinya memegang tanduknya yang lancip dan tangan kanannya mengelus-elus daun telinga sapi itu dalam rangka mengambil kembali orong-orong (gaang) yang tadi dimasukkannya ke dalam telinga sapi itu.

Sapi yang tadi mengamuk luar biasa itu, kini terdiam dan kemudian berdiri kembali seperti biasa dan menjilati tangan Wirananggapati. Sapi yang telah berhenti mengamuk itu, selanjutnya diikat lehernya dan ditambatkan kembali di tempat asalnya. Sorak-sorai pun membahana dari semua hadirin yang mengagumi keberanian dan kehebatan Wirananggapati yang telah berhasil menaklukan sapi itu.

4. Wirananggapati menghadap Sultan Mataram
Setelah selesai melumpuhkan sapi itu, Wirananggapati pun dipanggil oleh Sultan. Beliau sangat berterima kasih atas keberhasilannya melumpuhkan sapi tersebut, dan beliaupun bertanya, “Ilmu apa yang kaumiliki sehingga mampu menaklukan sapi itu?” Wirananggapati tidak bicara. Ia membuka kantongnya dan mengeluarkan isinya. Isi kantong itu pun kemudian disodorkan kepada sultan. Isi kantong itu berupa keris dan kain cinde.

Sultan Mataram dengan cermat mengamati satu persatu benda yang dosodorkan Wirananggapti. Sultan Mataram merasa kaget, badannya gemetar dan mukanya pucat melihat kedua benda tersebut. Beliau pun bertanya, “Hai, anak muda dari mana kamu mendapatkan kedua benda ini? Saya tidak ragu lagi kedua benda ini merupakan milik ahli waris keturunan Sultan Mataram. Bagaimana bisa terjadi kedua benda ini berada di tanganmu?”

Wirananggapati menjelaskan asal-usul kedua barang miliknya, “Kain cinde berasal dari ibuku, sedangkan keris berasal dari ayahku. Pada waktu saya akan meninggalkan rumah oleh ibuku kedua barang itu diserahkan kepadaku. Beliau berpesan agar kedua benda itu dijaga baik-baik dan tidak boleh diberikan kepada siapa pun. Itulah sebabnya kedua benda itu masih tetap berada di tanganku.”

Setelah mendengar pertanyaan Sultan Mataram yang demikian, ingatan Wirananggapati terus melayang ke masa silam dan menceritakannya, “Hari itu, pagi-pagi benar para pengantar kepercayaan ibu, mereka membawa kami keluar dari Kota Gede menuju ke wilayah Mataram yang berada jauh dari Ibukota Mataram. Salah satu tempat yang dianggap paling aman adalah Kerajaan Sumedang Larang yang berada di wilayah Barat Kesultanan Mataram yang berbatasan dengan Kerajaan Galuh. Pada waktu itu Kerajaan Sumedang Larang dipimpin oleh Adipati Aria Wiranata Kusumah, yang selama ini dianggap paling dekat dengan keluargaku.

Sebagai langkah pertama, aku dengan kedua adikku yang seibu seayah diungsikan ke kadipaten yang paling dekat di wilayah Barat, yairu Kadipaten Pasir Luhur yang pada waktu itu dipimpin oleh Dipati Danureja IV, orang yang dipandang sangat dekat dengan ibuku.

Di Kadipaten Pasir Luhur rombongan kami tidak tinggal terlalu lama. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke arah Sumedang Larang yang berada di wilayah Barat. Dari Pasir Luhur rombongan pengantar dipimpin oleh Adipati Pasir Luhur, yang ditunjuk oleh Dipati Danureja IV.

Beberapa waktu kemudian, rombongan kami sampailah di daerah perbukitan yang berada di wilayah Pasundan. Kami agak lama tinggal di sini untuk beristirahat karena ada anggota rombongan yang sakit, dan kami beranggapan daerah ini sudah cukup aman untuk tinggal sementara, karena daerah ini sudah jauh dari Ibukota Karajaan Mataram.

Beberapa waktu kemudian di daerah ini terjadi peristiwa yang memprihatinkan, antara lain:
a. Adik saya yang bernama Saraya terkena serangan penyakit. Dia menderita sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di perbukitan ini.

b. Tidak lama kemudian salah seorang pengantar juga sakit dan meninggal dunia. Dia pun dimakamkan di sini berdekatan dengan makamnya Saraya.

c. Adipati Pasir Luhur, pemimpin rombongan pengantar pun menderita sakit keras, dan akhirnya meninggal dunia. Beliau dimakamkan berdampingan dengan kedua orang yang telah meninggal terlebih dahulu.
Karena daerah perbukitan ini dihuni oleh orang-orang yang berasal dari Jawa, maka masyarakat sekitar menyebut tempat ini Gunung Jawa. Sekarang Kampung Gunung Jawa ini berada di wilayah Desa Karang Kancana, yang berada diwilayah Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan.

Menghadapi keadaan sulit seperti itu dan dikhawatirkan akan mengancam keselamatan kami berdua sebagai putra Sultan Mataram, salah seorang sesepuh rombongan yang bernama Pangeran Tumenggung Wiraguna mengusulkan kepada saya akan hal-hal sebagai berikut:

a. Saya bersama adik saya harus segera melanjutkan perjalanan menuju ke Kerajaan Sumedang Larang sesuai dengan rencana yang sudah disepakati bersama.

b. Pangeran Tumenggung Wiraguna bersama anggota rombongan yang masih tersisa merasa khawatir atas keselamatan kami, kalau mereka terus bersama kami. Mereka pun tidak berani lagi melanjutkan perjalanan karena takut tercium oleh Sultan Mataram.

c. Pangeran Tumenggung Wiraguna menyatakan tidak akan menemani kami untuk melanjutkan perjalanan. Mereka pun tidak akan kembali lagi ke Mataram. Mereka memilih akan tetap tinggal di Gunung Jawa, karena dia berkeyakinan bahwa kepergian mereka telah diketahui oleh Sultan Mataram.

Pangeran Tumenggung Wiraguna tinggal di Gunung Jawa sampai akhir hayatnya. Beliau tinggal di sini sampai beranak pinak, dan setelah meninggal beliau pun dimakamkan berdampingan dengan makam ketiga pendahulunya.

Setelah berpisah dengan seluruh anggota rombongan, saya berdua dengan adikku melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan selanjutnya, sampailah saya di Kampung Cirukem (Daerah tersebut sekarang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Ciniru). Di sini kami berdua tinggal agak lama untuk memulihkan tenaga kami yang sudah terkuras, namun adikku mendapat kecelakaan yang akhirnya merenggut jiwanya. Dia meninggal dan jenazahnya dimakamkan di Cirukem.
Perjalanan selanjutnya saya lakukan seorang diri. Namun demikian saya tidak putus asa, tekad saya sudah bulat, saya harus terus berjalan menuju ke arah Barat, menuju ke daerah Kerajaan Sumedang Larang.

Dalam perjalanan yang dilakukan seorang diri itu, pada suatu hari saya dicegat oleh para begal. Para begal itu biasanya merampas harta benda yang dibawa korbannya, dan apabila si korban berusaha melawan, para begal tersebut tidak segan-segan membunuh korbannya. Namun dalam peristiwa tersebut saya bersyukur karena saya selamat dari gangguan para penjahat tersebut. Dalam pertarungan itu terpaksa saya menggunakan senjata pusaka pemberian ibu.

Perjalanan yang saya lakukan seorang diri sering saya tempuh siang dan malam, bahkan kadang-kadang saya melakukannya tanpa kenal lelah dan tanpa beristirahat. Hal ini sering saya lakukan apabila sulit mencari tempat beristirahat terutama apabila saya berada di hutan belantara.”

Dengan cerita ini, Wirananggapati berharap Sultan Mataram dapat mengenali dirinya, namun ia menyadari bahwa aturan masa itu, seorang Kepala Desa tidak dapat bertemu langsung dengan sultan, apalagi dirinya hanya mewakili mertuanya yang menjadi Dalem Ketug, walaupun sebenarnya dirinya masih keturunan istana.

Sultan Mataram mula-mula menatap wajah Wirananggapti, kemudian dengan cermat memperhatikan seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Dengan penuh keharuan dan suara iba, Sultan berkata, “Kamu ini ternyata saudaraku. Kita berasal dari keturunan yang sama.”

Wirananggapati menuturkan kisah perjalanannya dari mulai dia meninggalkan rumah sampai sekarang berada di Kesultanan Mataram mewakili mertuanya yang menjadi dalem di Kedaleman Ketug. Wirananggapati pun menjelaskan, “Sebenarnya saya tahu persis kalau Sultan adalah saudaraku, tapi saya tidak berani mengatakannya karena Sultan kelihatannya sudah tidak mengenaliku lagi. Ketika saya melaporkan permasalahan yang ada di Kedaleman Ketug, saya sama sekali tidak melihat kalau Sultan masih mengenaliku. Namun akhirnya kesempatan itu pun datang untuk memperkenalkan diri siapa sebenarnya saya ini dengan mengikuti sayembara untuk menangkap sapi yang sedang mengamuk. Dengan mengikuti sayembara tersebut, saya berharap kalau saya jadi pemenangnya, saya akan dapat bertemu kembali dengan ibu dan sanak saudaraku, dan setelah bertemu dengan mereka saya tidak akan tinggal di sini lagi, saya akan segera kembali ke Kedaleman Ketug untuk melaporkan hasil seba ini. Saya akan terus menetap di sana dengan anak dan istriku, karena saya telah menikah dengan Rincik Manik putri Dalem Ketug, dan saya pun di sana telah mempunyai anak.

5. Silsilah Dalem Ketug

Dari narasumber yang kami terima, silsilah Jabasraga yang berkembang dalam masyarakat ada beberapa versi, diantaranya:

Versi I (Versi Pamulihan)
Dalem Ketug pertama yang bernama Jabasraga, mempunyai dua orang putra dan seorang putri yaitu:
a. Danaraga
b. Wangsareka
c. Rincik Manik.
Danaraga setelah wafat dimakamkan di Makam Tejanagara Pamulihan, Wangsareka setelah wafat dimakamkan di makam Cirahayu, sedangkan Rincik Manik yang menikah dengan Wirananggapati setelah wafat beliau dimakamkan di Makam Cibabangsalan, Subang.

Di dalam versi lain tidak menyebutkan bahwa Jabasraga mempunyai anak laki-laki yang bernama Danaraga.
Versi II (Versi Ciketug dan Cirahayu)
Dalem Ketug pertama yang bernama Jabasraga, mempunyai tiga orang putra dan seorang putri yaitu:
a. Wangsapraya,
b. Wangsareka,
c. Wangsalaya,
d. Rincik Manik.

Wangsapraya merupakan putra Jabasraga yang menetap di Ciketug sampai akhir hayatnya, dan setelah wafat dimakamkan di Makam Pasarean, Ciketug, Wangsareka menetap di Cicapar/Cirahayu dan setelah wafat dimakamkan di makam Cicapar/Cirahayu, Wangsalaya menetap di Buni sampai akhir hayatnya, dan setelah wafat dimakamkan di Buni, sedangkan Rincik Manik yang menikah dengan Wirananggapati, setelah wafat dimakamkan di Makam Cibabangsalan, Subang.

BAB II

WIRANANGGAPATI DIANGKAT MENJADI DALEM KETUG/KUWU TRISUBAN

Sesuai dengan janjinya dalam sayembara, Sultan Mataram pun mengumumkan pemberian penghargaan kepada orang yang telah berhasil memenangkan sayembara tersebut. Isi pengumuman itu adalah sebagai berikut:

Pertama : Sultan Mataram mengucapkan banyak terima kasih atas keberanian, kehebatan dan keberhasilan wakil Dalem Ketug yang telah berhasil melumpuhkan sapi yang sedang mengamuk, yang tidak mampu dilakukan oleh siapa pun yang hadir dalam pertemuan ini, termasuk para ponggawa, ksatria dan patih di Keraton Kesultanan Mataram.

Kedua : Bahwa Wirananggapati wakil dari Kedaleman Ketug, sebenarnya masih keturunan Sultan Mataram, yang dibuktikannya dengan Pusaka Mataram berupa sehelai kain cinde dan sebilah keris yang dimilikinya.

Ketiga : Hadiah yang telah dijanjikan semuanya akan dipenuhi, karena Wirananggapati telah memenuhi semua persyaratan, dia telah dapat melumpuhkan sapi yang tadi mengamuk. Untuk itu Wirananggapati diangkat menjadi Ksatria Kesultanan Mataram, dengan tugas menjaga daerah perbatasan di sebelah Barat dan sekaligus diangkat menjadi Kuwu Trisuban, yang wilayahnya berimpit dengan wilayah Kedaleman Ketug. Olah karena itu wilayah Kedaleman Ketug dihapuskan dan Jabasraga sebagai Dalem Ketug diberhentikan dengan hormat.

Pada Kesempatan itu pula dipesankan kepada Wirananggapati agar hal ini disampaikan kepada Jabasraga bahwa sejak saat seba ini Jabasraga diberhentikan dengan hormat dari jabatannya sebagai Dalem Ketug, dengan ucapan terima kasih dari Sultan Mataram atas pengabdian serta kesetiaannya yang telah diberikan kepada Kesultanan Mataram selama ini. Wirananggapati pun diminta untuk menyampaikan pesan bahwa dirinya telah diangkat menjadi Kuwu Trisuban dan wilayah Kedaleman Ketug dihapuskan karena berimpitan dengan wilayah Trisuban.

Setelah Sultan memberikan nasihat, petunjuk dan arahan kepada Wirananggapati sebagai Kuwu Trisuban, Wirananggapati pun mohon diri kepada Sultan untuk segera kembali ke Kedaleman Ketug karena akan melaporkan hasil pekerjaannya mengikuti seba, juga akan menyampaikan segala pesan Sultan Mataram kepada Dalem Ketug.

1. Dalem Ketug Menerima Laporan Hasil Seba.

Sekembalinya dari Mataram, Wirananggapati segera menghadap Dalem Ketug untuk melaporkan hasil seba tahunan di Mataram. Dalem Ketug merasa gembira karena Wirananggapati telah kembali dengan selamat. Untuk mendengarkan laporan Wirananggapati, Dalem Ketug memanggil Wangsapraya, Wangsareka, Rincik Manik dan juga istrinya. Selain itu Dalem Ketug pun memanggil para pembantunya yang selalu membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan. Setelah mereka berkumpul semua barulah Wirananggapati diminta untuk melaporkan hasil seba tersebut.

Dengan seijin mertuanya, di hadapan seluruh hadirin Wirananggapati pun melaporkan hasil seba tersebut, antara lain:
a. Perjalanan seba ke Mataram dengan seluruh rombongan pembawa upeti berjalan lancar sampai tujuan. Sejak berangkat sampai kembali lagi di Ketug semua rombongan selamat, tidak ada halangan suatu apapun.

b. Masalah ketidakhadiran Ayahanda mengikuti seba dan menunjuk saya sebagai penggantinya untuk menyerahkan upeti dan melaporkan semua kegiatan pemerintahan termasuk segala permasalahan yang dihadapi di Kedaleman Ketug, terutama masalah keamanan, dan pertanian sudah saya laporkan kepada Sultan. Sultan Mataram dapat memahami dan memaklumi ketidakhadiran Ayahanda dan beliau pun dapat menerima saya sebagai wakilnya.

c. Setelah acara seba selesai terjadi kegaduhan, karena ada sapi yang mengamuk di tengah paseban dan telah menghacur leburkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Karena tidak ada seorang pun yang sanggup menjinakkan dan melumpuhkan sapi tersebut maka Sultan mengadakan sayembara.

Isi sayembara itu ialah: “Barang siapa yang sanggup menangkap sapi tersebut akan diberi hadiah berupa pengangkatan menjadi prajurit ksatria Kesultanan dan diangkat menjadi pemimpin sebagian Wilayah Mataram, namun apabila gagal akan dijatuhi hukuman yang berat sesuai dengan kebohongan dan kesombongannya.

d. Dalam rangka mengangkat harkat dan martabat Ayahanda beserta masyarakat Kedaleman Ketug, saya sebagai wakil dari Kedaleman Ketug menawarkan diri untuk menangkap sapi tersebut dengan segala resikonya. Berkat doa semuanya alhamdulillah saya berhasil melumpuhkan sapi tersebut. Kejadian ini disaksikan sendiri oleh Sultan dan seluruh peserta seba serta seluruh rombongan pembawa upeti dari Kedaleman Ketug.

e. Keberhasilan saya dalam mengikuti sayembara tersebut, Sultan memenuhi segala janjinya. Beliau pun mengumumkan kepada seluruh peserta seba dan masyarakat Kesultanan Mataram yang hadir di tempat itu bahwa saya sebagai wakil Dalem Ketug ternyata masih keturunan Sultan Mataram yang dibuktikan dengan kepemilikan kain cinde dan sebilah keris yang merupakan pusaka Kesultanan Mataram.

f. Pada kesempatan itu, Sultan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ayahanda atas pengabdian dan kesetiaan Ayahanda kepada Kesultanan Mataram. Beliau pun berpesan mengingat usia ayahanda yang sudah tua dan sering sakit-sakitan, maka Sultan Mataram memutuskan memberhentikan dengan hormat ayahanda sebagai Dalem Ketug, dan sebagai penggantinya beliau mengangkat saya sebagai prajurit ksatria Mataram menjadi Kepala Desa Trisuban yang wilayahnya berimpitan dengan Kedaleman Ketug.

g. Kepada seluruh yang hadir saya sampaikan bahwa saya tidak pernah meminta apa-apa kepada Sultan, apalagi meminta jabatan Dalem Ketug agar dialihkan kepada saya. Apa yang telah saya laporkan, semuanya merupakan amanat dari Sultan yang harus disampaikan kepada Ayahanda dan seluruh masyarakat Kedaleman Ketug.

2. Dalem Ketug Merasa Kecewa
Setelah mendapat laporan secara lengkap hasil seba yang dilaporkan Wirananggapati, Dalem Ketug dan seluruh yang hadir merasa kaget, mereka tidak menduga sama sekali kalau Wirananggapati yang selama ini diperlakukan sebagai penjaga ladang dan sekarang sudah menjadi menantunya itu ternyata masih satu keluarga dengan Sultan Mataram.

Pada kesempatan itu pula Dalem Ketug menyatakan permintaan maaf atas perlakuannya terhadap Wirananggapati selama ini. Hal ini terjadi karena Wirananggapati selama berada di tengah lingkungan keluarga Dalem Ketug selalu tertutup, dan seolah-olah merahasiakan segala identitas dirinya dan keluarganya.

Dalem Ketug merasa bangga atas keberhasilan Wirananggapati dalam menjalankan tugasnya. Namun di samping rasa bangga atas keberhasilan menantunya itu Dalem Ketug pun merasa sangat kecewa terhadap beberapa hal, diantaranya:

a. Beliau merasa kecewa atas pemberhentian dirinya yang diputuskan secara sepihak oleh Sultan Mataram. Padahal ketidakhadirannya dalam acara seba tahunan tersebut karena dirinya sedang sakit, bukan karena pembangkangan menentang Sultan Mataram. Ia benar-benar merasa tidak bersalah, sebab kalau saja tidak sakit, beliau pun masih mampu melaksanakan tugas sebagai Dalem, termasuk menghadiri seba tahunan di Mataram.

b. Beliau merasa dirinya tidak berbuat hal-hal yang mengarah kepada pembangkangan atau pun berbuat lalai dalam melaksanakan tugas pemerintahan sebagai dalem. Dan kalau memang ada kesalahan atau kekeliruan dalam melaksanakan roda pemerintahan itu bukan kesengajaan, dan seharusnya Sultan memanggil dirinya terlebih dahulu untuk meminta penjelasan darinya.

c. Keamanan di seluruh wilayah Kedaleman Ketug pun cukup kondusip, tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang mengarah akan timbulnya kekacauan atau pemberontakan. Perekonomian rakyat, baik sandang maupun pangan juga cukup baik, kesejahteraan rakyat cukup meningkat. Tidak ada rakyat yang sengsara atau pun kelaparan. Hasil pertanian pada saat itu cukup baik. Rakyat di Kedaleman Ketug pun masih setia, patuh dan masih mencintai dirinya sebagai pemimpin di Kedaleman Ketug.

d. Pengangkatan Wirananggapati sebagai Kepala Desa Trisuban yang wilayahnya berimpitan dengan Kedaleman Ketug, yang sekaligus telah menggantikan kedudukannya sebagai Dalem Ketug, yang telah diputuskan oleh Sultan Mataram di luar kelaziman. Biasanya pergantian kepala pemerintahan itu dilimpahkan kepada anak laki-laki tertua dari kepala pemerintahan sebelumnya, kecuali kalau ada hal-hal yang dianggap luaruar biasa. Pengangkatan Wirananggapatisebagai pengganti dirinya, dia tidak berkeberatan karena Wirananggapati memang cukup pantas untuk memangku jabatan itu, dia cerdas dan berwibawa, namun yang disesalkan dan yang membuatnya kecewa adalah caranya Sultan Mataram mengangkat Wirananggapati dan memberhentikan dirinya yang dilakukan secara sepihak dan dilakukan dalam forum seba yang dihadiri seluruh perwakilan dari Kesultanan Mataram, termasuk rombongan rakyat Kedaleman Ketug pembawa upeti, yang kebetulan dirinya tidak dapat hadir dalam acara tersebut karena sedang sakit.

3. Dalem Ketug Meletakkan Jabatan
Dengan suara yang terbata-bata dan nada yang berat, dihadapan istri, anak dan menantunya, Jabasraga pun meletakkan jabatan dan menyerahkannya kepada Wirananggapati sebagai penggantinya yang sudah ditunjuk dan diputuskan oleh Sultan Mataram. Pada kesempatan itu pula beliau memberitahukan Wirananggapati, bahwa dirinya dengan seluruh keluarganya akan meninggalkan Ketug. Beliau akan menjalani kehidupan baru yang lebih tenang dan tentram, menghabiskan sisa hidupnya di kampung halaman leluhurnya di daerah Cijeruk Cilacap. Beliau berniat akan mendalami agama Islam, untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Keesokan harinya perwakilan rakyat dari seluruh perkampungan di wilayah Kedaleman Ketug dikumpulkan di balai pertemuan. Dalam pertemuan itu Jabasraga yang didampingi oleh istri dan seluruh anggota keluarganya menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

a. Pada hari ini saya menyatakan meletakkan jabatan, sebab dalam acara seba tahunan yang baru lalu, Sultan Mataram telah mencabut jabatan saya sebagai Dalem Ketug, Jabatan yang selama ini saya emban. Dan sebagai penggantinya Sultan Mataram pun telah mengangkat Wirananggapati sebagai Kepala Desa Trisuban yang wilayahnya berimpitan dengan wilayah Kedaleman Ketug. Saya berharap, seluruh rakyat Kedaleman Ketug patuh dan taat kepada Wirananggapati sebagai Dalem Ketug yang baru, dan tetap setia kepada Kerajaan Mataram. Perlu saya sampaikan pula, bahwa menantu saya yang bernama Wirananggapati itu ternyata masih keturunan raja Mataram.

b. Perlu hadirin ketahui bahwa saya bukan orang pribumi dari Ketug. Keberadaan saya di sini karena saya diangkat menjadi Dalem Ketug sebagai penghargaan dari Sultan Mataram kepada saya yang dianggap telah berjasa kepada negara pada masa lalu. Oleh karena itu sudah sewajarnya setelah jabatan saya dicabut lagi oleh Sultan, saya pun akan kembali lagi ke kampung halaman leluhurku.

c. Mungkin di antara hadirin ada yang bertanya-tanya, “Mengapa Kedaleman Ketug tidak diserahkan kepada putra sulungku yang bernama Wangsapraya?” Sebagaimana sudah saya jelaskan, saya menerima jabatan ini sebagai ganjaran atas jasa saya kepada negara, dan sekarang Sultan Mataram mencabut kembali ganjaran tersebut dan mengalihkannya kepada Wirananggapati, karena Wirananggapati telah dianggap berjasa besar kepada Kesultanan Mataram, sehingga Wirananggapati pantas menerima penghargaan itu, yaitu dalam wujud pengangkatan dirinya sebagai Dalem Ketug yang baru.

d. Pada kesempatan ini saya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh wakil rakyat Kedaleman Ketug yang telah membantu saya dalam menjalankan roda pemerintahan dan saya pun mohon maaf sekaligus mohon diri kepada seluruh rakyat Kedaleman Ketug, karena besok saya akan kembali ke tempat asal leluhur saya di Cijeruk Cilacap.

4. Dalem Ketug Mendapat Protes Dari Putranya
Laporan Wirananggapati yang telah diterima oleh Dalem Ketug, sangat jelas dan gamblang dan begitu pula tentang keberhasilan Wirananggapati dalam mengatasi permasahan yang timbul, khususnya huru-hara besar yang terjadi dalam acara seba di Mataram.

Dalem Ketug menilai bahwa menantunya cukup cakap dan mampu menjalankan tugas dengan baik, memiliki ilmu kanuragan yang hebat, serta memiliki sifat-sifat kepemimpinan untuk membina masyarakat, tambahan pula dia masih keturunan raja Mataram, sehingga pantas menerima jabatan sebagai Dalem Ketug menggantikan dirinya. Namun sikap Jabasraga seperti itu mendapat protes dari kedua putranya yang bernama Wangsapraya dan Wangsareka. Mereka menolak keputusan Sultan Mataram dan sikap ayahnya yang menerima Wirananggapati sebagai penggantinya.

Wangsapraya berpendapat bahwa dirinyalah yang lebih berhak menjadi pengganti ayahnya, karena biasanya jabatan seperti itu turun kepada anak lelaki yang paling besar dari pemimpin sebelumnya. Pendapat itu didukung oleh Wangsareka. Namun karena ayahnya tetap pada pendiriannya, maka Wangsapraya dan Wangsareka pun meninggalkan pertemuan tersebut.

Memang, Jabasraga pun sebenarnya menginginkan Wangsapraya-lah yang menggantikan dirinya sebagai Dalem Ketug. Namun karena itu sudah merupakan keputusan Sultan Mataram, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Maka sebagai protes terhadap keputusan Sultan Mataram itu, Jabaraga pun meninggalkan Kedaleman Ketug.

5. Jabasraga Meninggalkan Kedaleman Ketug.

Pada keesokan harinya Jabasraga dengan seluruh keluarganya, kecuali Rincik Manik yang sudah menjadi istri Wirananggapati sudah siap akan meninggalkan Ketug. Rakyat yang sangat mencintainya mengantarkan beliau sampai di Sawah Jati, yang lokasinya berada di seberang sungai Cisubang. Di Kampung Sawah Jati sudah banyak rakyat yang berkumpul, yang ingin melepas kepergian beliau.

Pada akhir pertemuannya dengan seluruh rakyat yang hadir di Kampung Sawah Jati, beliau berdiri tegak menghadap ke arah Barat. Beliau menyampaikan pidato perpisahannya sebagai berikut:

a. Sebagaimana telah saya sampaikan kepada wakil rakyat yang hadir di balai pertemuan Kedaleman Ketug, bahwa tugas saya sebagai Dalem Ketug sudah selesai, walaupun saya tahu kalian semuanya masih tetap setia kepada saya.
b. Hari ini saya akan pergi meninggalkan Kedaleman Ketug, mulih ka bali geusan ngajadi, mulang ka lemah cai, banjar karang pamidangan, muncang labuh ka puhu kebo mulih pakandangan. Saya akan kembali ke tanah leluhurku.

c. Saya meninggalkan Ketug tidak boleh membawa kalian, walaupun saya tahu kalian sangat mencintai saya, karena di sana saya tidak bisa menjamin kehidupan kalian. Kalian kalau ikut dengan saya mungkin akan mengalami kesulitan, mungkin akan sengsara bahkan mungkin akan mengalami kelaparan. Sekali lagi saya sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih atas kecintaan kalian kepada saya sekeluarga. Kami sekeluarga pun mohon maaf atas segala kehilafan dan kealpaan yang telah kami perbuat.

d. Kalian harus memilih masa depan yang lebih baik, mencapai kehidupan yang sejahtera. Bangunlah Ketug yang baru yang lebih baik bersama dengan Dalem Ketug yang baru.

Namun pada kesempatan ini, perhatikan permintaan saya kepada hadirin semuanya untuk yang terakhir kalinya akan hal-hal sebagai berikut:

a. Barang siapa yang mau ikut dan siap tinggal dengan saya, berdiri di sebelah Selatan saya. Namun perlu saya tegaskan lagi yang ada di sebelah selatan hanya istri dan beberapa orang yang bersedia mengantarkan saya sampai Cijeruk dan siap kembali lagi ke sini.

b. Barang siapa yang ingin kembali ke Ketug, tempat yang akan saya tinggalkan agar berada di sebelah barat saya.

c. Barang siapa orang yang akan bergabung dan berbakti kepada yang sedang berjaya berdirilah di sebelah Utara saya.
d. Dan barang siapa yang tidak akan ikut kepada siapa pun, saya minta agar berdiri di sebelah timur saya.

Saudara-saudara sekalian yang saya cintai, yang berada di sebelah Utara harus tahu bahwa kejayaan akan menyertai kalian. Keturunan kalian inilah yang nantinya akan memerintah rakyat di daerah ini. Namun demikian harus tahu diri, karena keturunannya harus ikut bertanggung jawab, dan akan menerima pembalasan atas segala perbuatannya sesuai dengan hukum sebab akibat.

Saya akan pulang, kembali bergerak ke arah saya datang dulu, ke tempat saya dilahirkan, dibesarkan dan ditugaskan oleh Sultan Mataram untuk memimpin Kedaleman Ketug. Hari ini saya sudah menyeberangi Sungai Cisubang yang membelah Wilayah Ketug. Saya sudah berada di sebelah Selatan Sungai Cisubang yang berarti saya sudah bebas sama sekali dari tanggung jawab saya sebagai Dalem Ketug, dan akan hidup sebagai rakyat biasa.

Sambil berdiri tegak Jabasraga menghadap ke arah barat, tangan kanannya dikepalkan di atas kepalanya, beliaupun mengakhiri pidatonya dengan mengucapkan sumpah (supata) yang berbunyi:

Pertama : Isuk jaganing pageto sing saha anu teu ngahargaan kana jasa sasama manusa, ka luhur moal sirungan ka handap moal akaran.

(Nanti, siapa saja yang tidak menghargai jasa seseorang, ke atas tak akan bertunas ke bawah tak akan berakar)
Kadua : Isuk baring supagi sing saha anu keur nyekel kalungguhan, ngaliwatan lebak ieu, bakal leupas tina kalungguhanana, supaya bisa ngarasakeun kana kapeurih kuring.

(Nanti, siapa saja yang sedang menduduki jabatan apabila melewati sungai ini akan lepas/turun dari kedudukannya, agar bisa merasakan kepedihan saya)

Supata yang diucapkan oleh Jabasraga sangat besar pengaruhnya terhadap masyarakat Ketug, terutama yang mendengarnya secara langsung pada waktu itu. Kalimat-kalimat supata di atas sangat membekas dan melekat pula pada masyarakat generasi selanjutnya.

Selesai berpidato dan mengucapkan supata, Jabasraga meninggalkan Sawah Jati, bersama dengan rakyat yang mengantarnya, menuju ke arah Timur. Setelah sampai di suatu tempat di lereng gunung, karena kondisi fisik Jabasraga yang sudah kelelahan akibat sudah lanjut usia, mereka pun berhenti dulu sebentar. Tempat itu sekarang dinamai Sindang, yang berarti berhenti sebentar.

Ketika sudah merasa segar kembali, rombongan Jabasraga pun melanjutkan perjalanannya. Mereka berbelok ke arah selatan, karena arah ke timur jalannya sangat curam dan sangat sulit, apalagi ditempuh oleh Jabasraga yang usianya sudah tua. Dalam perjalanan lanjutan ini mereka berhenti lagi di suatu tempat, bahkan di sini mereka bermalam beberapa malam, untuk memulihkan kekuatan fisik Jabasraga yang sudah melemah.

Beberapa hari kemudian, setelah kekuatan fisiknya merasa kuat untuk meneruskan perjalanan, Jabasraga pun berjalan lagi menuju ke arah Cipicung, yang merupakan daerah perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dari tempat pemberhentian itu para pengantar di suruh kembali. Mereka hanya boleh sampai tempat pemberhentian itu saja, sedangkan untuk selanjutnya Jabasraga tidak mau lagi didampingi oleh para pengantarnya. Tempat pemberhentian Jabasraga yang terakhir itu disebut Mandapa.

Akhirnya Jabasraga meneruskan perjalanannya hanya dengan istri dan beberapa orang yang mengantarkannya. Mereka menuju Dayeuh Luhur Jawa Tengah, dan terus ke Cijeruk. Di Cijeruk inilah Jabasraga dengan istrinya menetap sampai akhir hayatnya, sedangkan para pengantarnya kembali lagi ke Ketug.

Sedangkan kedua putranya yang bernama Wangsapraya dan Wangsareka sudah meninggalkan Kedaleman Ketug terlebih dahulu ketika mendengar laporan Wirananggapati tentang penggantian Jabasraga oleh Wirananggapati. Beliau berdua pergi ke Raja Desa, suatu tempat yang berada di daerah Galuh. Namun baik Wangsapraya maupun Wangsareka akhirnya kembali lagi. Wangsapraya tinggal di Ciketug sampai akhir hayatnya, dan setelah wafat Wangsapraya dimakamkan di Makam Pasarean Ciketug. Sedangkan Wangsareka tinggal di Cirahayu, dan setelah wafat dimakamkan di Makam Buyut Cirahayu.

6. Wirananggapati Tertegun Dalam Renungan
Begitu mendengar suara protes dari kakak iparnya dan kekecewaan dari mertuanya, Wirananggapati terdiam seribu bahasa. Dia berpikir menerawang jauh ke belakang masa hidupnya. Dia tertegun dalam renungan sambil mengenang masa silamnya yang sudah hampir terhapus dari ingatannya. Kini kenangan masa lalunya itu mencuat kembali ke permukaan dari bawah ambang sadarnya.

Dalam renungannya yang paling dalam dia berbicara lemah dan halus, “Dalam usiaku yang masih sangat muda, telah kutinggalkan ibuku tercinta demi keselamatan dari gangguan saudara seayahku yang ingin menguasai tahta kerajaan. Setelah dia berhasil menguasai tahta kerajaan dia pun berusaha untuk mengenyahkan diriku dari lingkungan istana. Dia hidup dalam ketakutan, karena dia menduduki tahta yang bukan haknya. Dia khawatir pada suatu saat aku sebagai orang yang berhak atas tahta itu akan merebutnya kembali.

Atas kejadian itu, aku yang pada saat itu masih kanak-kanak merasa takut dan merasa tidak berdaya dan tidak punya keinginan untuk melakukan perbuatan seperti itu. Tiba-tiba sekarang aku harus menerima jabatan dari mertua dan kedua kakak iparku yang selama ini saya segani dan saya hormati, sekarang mereka merasakan bahwa mereka sebagai orang yang dirugikan dan dikorbankan oleh diriku. Dunia terasa terbalik dan berputar-putar. Dulu diriku yang kehilangan hak karena direbut oleh saudara seayah, dan sekarang diriku sendiri yang dianggap oleh mertua dan kedua kakak iparku sebagai orang yang telah merebut hak orang lain, karena dalam keluarga itu aku hanya berstatus sebagai menantu Dalem Ketug.

Aku merenung lebih dalam lagi, dan berbicara sendiri dalam hati, “Mengapa peristiwa seperti ini harus terjadi, walaupun dalam kurun waktu yang berbeda antara dulu dan sekarang, dan tempatnya pun berbeda antara Mataram dan Ketug, namun masalahnya hampir sama dan pelakunya pun sama baik dulu maupun sekarang yaitu diriku.

Aku merasa tak mungkin untuk melakukan hal seperti itu, aku seperti orang yang melakukan tindakan balas dendam terhadap mertua dan kakak iparku yang tidak bersalah. Aku sama sekali tidak ingin menyakiti siapa pun, apalagi terhadap mertua dan kakak iparku sendiri. Aku berharap mertuaku dan kedua kakak iparku pulang kembali dari pengasingannya dan aku akan mempersilakan mereka untuk memangku tahta Kedaleman Ketug sebagai Dalem Ketug II sesuai dengan harapannya. Aku akan dengan suka rela meninggalkan Kedaleman Ketug warisan dari mertuaku dan sekaligus aku akan memimpin Trisuban untuk melanjutkan memimpin masyarakat tani di tempat lain.

7. Strategi Wirananggapati Sebagai Dalem Ketug
Setelah terjadi perselisihan paham dalam keluarga Jabasraga, dan perginya mertua serta kakak iparnya meninggalkan Kedaleman Ketug, Wirananggapati merasa tidak betah dan tidak tentram lagi tinggal di Kedaleman Ketug. Dia berniat ingin membangun pemerintahan Desa baru yang bernama Trisuban, sesuai dengan amanat Sultan Mataram, walaupun dia sendiri belum tahu harus dipindahkan kemana. Namun yang pasti demi ketentraman, keamanan dan kelancaran jalanan pemerintahan di Kedaleman Ketug, dia harus keluar meninggalkan Balai Pertemuan Kedaleman Ketug.

Akhirnya Wirananggapati dengan tekad yang kuat mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah mertuanya. Dia merasa tidak baik apabila tetap berada di rumah bekas tempat tinggal mertuanya, dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Situasi pemerintahan Kedaleman Ketug setelah ditinggalkan mertuanya dirasakan kurang kondusip. Perpecahan dalam keluarganya akan berpengaruh terhadap jalannya roda pemerintahan dan kerukunan masyarakat Kedaleman Ketug.

b. Sebagai Dalem Ketug yang baru, selamanya akan merasa tidak tenang dalam menjalankan tugasnya, karena dihantui rasa khawatir suatu saat kedua kakak iparnya akan kembali dari tempat pengasingannya dan membuat kekacauan di Kedaleman Ketug.

c. Demi kelancaran pemeritahan desanya, keutuhan masyarakat Kedaleman Ketug dan keutuhan serta keselamatan keluarganya, Wirananggapati berkesimpulan pusat pemerintahan Kedaleman Ketug harus segera dipindahkan ke tempat lain yang lebih baik.

d. Keuntungan yang dapat dipetik dari dipindahkannya pusat pemerintahan ke tempat lain, yaitu apabila kedua kakak iparnya pulang dan menuntut jabatan Dalem Ketug, hal ini bisa berjalan dengan baik dengan cara Kedaleman Ketug dipecah menjadi dua wilayah kerja, namun tetap berada di bawah kewenangannya.

Dengan penuh kepercayaan terhadap kemampuan dirinya dan atas saran serta pendapat dari penasihat spiritualnya yang bernama Ki Ageng Raksabaya yang menyarankan agar Wirananggapati memindahkan pusat pemerintahan Kedaleman Ketug ke arah Utara, dan nama Ketug tidak digunakan lagi.

Atas dasar itulah, maka pada suatu hari pagi-pagi benar Wirananggapati dengan menunggang kuda, pergi menuju ke arah Utara untuk mencari lokasi yang tepat sesuai dengan saran dan petunjuk dari Ki Ageng Raksabaya. Ia berangkat seorang diri tanpa didampingi Rincik Manik, karena kebetulan istrinya saat itu sedang hamil. Setelah sampai di pinggir Sungai Cimonte, di muara Sungai Cipatujah dia berhenti melihat ke arah sekelilingnya, kudanya dibiarkan minum dan merumput. Dia mendapat firasat daerah itu sangat cocok untuk persawahan. Arealnya sangat luas, dekat dengan sumber air, jadi sangat mudah diolah untuk lahan pertanian.

Setelah cukup lama dan merasa puas melihat keadaan tempat itu, dia naik lagi ke atas punggung kudanya, dia melanjutkan perjalanannya mengikuti aliran Sungai Cimonte. Sampai di muara Sungai Citiis, dia berhenti dan turun dari kudanya. Hari sudah siang, udara saat itu panas menyengat, karena kebetulan musim kemarau. Wirananggapati merasa sangat haus, ia pun minum air sungai yang terlihat sangat jernih dan bersih. Dari mulai masuk ke mulut, tenggorokan sampai di perut air itu benar-benar terasa tiis (dingin). Karena itu dia berucap ini “Sungai Cai Tiis”,(Sungai Air Dingin) yang kemudian berubah menjadi Sungai Citiis.

Air Sungai Citiis dia pilih untuk minum, karena air itu terlihat jernih dan bersih, tidak keruh seperti air Sungai Cimonte yang tadi dia lewati. Di muara sungai itu terlihat berbagai kemudahan, kalau tempat itu dijadikan lahan pertanian. Daerah itu adalah daerah Subang hilir sekarang, yang pada masa itu masih berupa kedungan, yang dilewati Sungai Citiis.

Selanjutnya dia kembali ke arah girang (hulu) Sungai Cimonte yang tadi dilaluinya. Dia berhenti di tempat yang teduh untuk melepaskan lelahnya. Di sana ia naik tanah yang agak tinggi untuk memperhatikan daerah sekelilingnya. Tempat itu disebut Hunyur Paniisan (tanah yang tinggi tempat meneduh), sampai sekarang hunyur itu masih ada di tengah persawahan, berada di sebelah Utara Sungai Cimonte berseberangan dengan Makam Cibabangsalan.

Dia turun dari hunyur, kemudian naik lagi ke atas punggung kudanya dan melanjutkan perjalanan melalui jalan yang tadi pagi dilewatinya. Ia berhenti lagi di suatu tempat yang datar dan cukup luas yang ditumbuhi tanaman liar yang disebut temulawak bercampur koneng bodas (temu putih). Sampai di sana hari sudah sore, ia memandang ke segala arah. Di sana tidak terlihat adanya pemukiman, masih berupa hutan belukar dan berbukit-bukit, jurang yang menganga dan sungai yang berliku-liku. Dia merasa daerah itu sangat cocok untuk dijadikan daerah pemukiman. Dia pun berkesimpulan ke tempat inilah Kedaleman Ketug akan dipindahkan.

Dengan penuh keyakinan, akhirnya Wirananggapati memindahkan pusat pemerintahan Kedaleman Ketug ke daerah pertanian di sebelah Utara Ketug lama dan di sebelah Timur Subang sekarang. Ketug dipindahkan ke sana dengan cara bedol desa, terutama pamong desa dan rakyat yang setia mendukung dirinya. Sedangkan rakyat yang tidak mau pindah dibiarkan tetap tinggal di Ketug Lama, terutama masyarakat yang bermukim di wilayah Ketug Selatan yang berada di seberang Sungai Cisubang. Masyarakat menyebut tempat baru itu Cibabangsalan.

Setelah berada di Cibabangsalan, nama Kedaleman Ketug tidak digunakan lagi tetapi diganti dengan nama Desa Trisuban yang selanjutnya disebut Desa Subang. Istilah Kedaleman diganti dengan desa, sedangkan panggilan Dalem terhadap kepala pemerintahan diubah menjadi akuwu, (di daerak kita biasa dipanggil kuwu) sesuai dengan jabatan kepala desa yang berada di wilayah Kesultanan Cirebon, karena mulai saat itu kekuasaan Kesultanan Mataram di wilayah ini telah berakhir dan beralih menjadi wilayah Kesultanan Cirebon.

Perpindahan dari Ketug ke Cibabangsalan ini terjadi sekitar tahun 1630, dan Wirananggapati merupakan Kepala Desa Subang pertama. Wirananggapati dengan arif dan bijaksana memimpin Desa Subang dari Cibabangsalan sampai akhir hayatnya. Beliau memerintah Desa Subang dari tahun 1630 sampai dengan tahun 1660.

Setelah meninggal beliau dimakamkan di Cibabangsalan. Selain beliau ada dua tokoh lainnya yang dimakamkan di Makam Cibabangsalan yaitu Rincik Manik, dan penasihat spiritualnya yang bernama Ki Ageng Raksabaya.

8. Silsilah Wirananggapati sebagai Dalem Ketug
Dari beberapa narasumber yang kami terima, Silsilah Wirananggapati sebagai Dalem Ketug, tidak berbeda dengan silsilah Jabasraga, dalam masyarakat muncul beberapa versi, diantaranya:

Versi I:
Versi ini didasarkan pada keterangan Bapak Suparman Wirananggapati, yang diketahui dan ditandatangani oleh Bupati Kabupaten Kuningan, Bapak Rd. Sumitra pada tanggal 24 Februari 1954.

Dari hasil pernikahan Raden Wirananggapati dengan Rincik Manik, mereka memiliki lima orang putra dan dua orang putri, yaitu:
a. R. Agus,
b. R. Wisantaka,
c. R. Wisantakajanah,
d. R. Tanubaya,
e. R. Bangsanangga,
f. Nyi R. Ajeng Gandes,
g. R. Serapaksa.

(Ada yang mengatakan bahwa R. Serapaksa itu tidak lain dari Nyi R. Ajeng Gandes, Beliau dinikahkan dengan tokoh masyarakat Legokherang, dan menurut cerita karena Nyi R. Ajeng Gandes tidak mau mengikuti suaminya, maka oleh Wirananggapati diserahkan secara paksa kepada suaminya, sehingga sejak itu dia dikenal dengan nama Serapaksa. Yang mengandung pengertian diserahkan secara paksa). Dari Serapaksa inilah lahirnya tokoh-tokoh yang memimpin desa Pamulihan.

Versi II:
Versi II menjelaskan bahwa dari hasil pernikahannya dengan Rincikmanik, Wirananggapati mempunyai satu orang putra dan dua orang putri, yaitu:
a. Wisantakajanah,
b. Nini Madura,
c. Nyi Mas Ajeng Gandes.

Versi III:
Versi III menguraikan bahwa dari hasil penikahannya dengan Rincikmanik, Wirananggapati mempunyai tiga orang putra, yaitu:
a. Bagusjaya,
b. Ampuhjaya
c. Dalem Agus.
Dari bebebrapa versi tersebut di atas tim penyusun tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Semua yang kami uraikan di atas merupakan fakta yang berkembang di masyarakat.

BAB III
LAHIRNYA DESA PAMULIHAN

A. PUSAT PEMERINTAHAN DESA PAMULIHAN DI SAWAH JATI

Setelah pusat pemerintahan Kedaleman Ketug pindah ke Cibabangsalan, Wirananggapati mengganti nama Kedaleman Ketug menjadi Desa Subang. Hal ini terjadi pada tahun 1630 dan merupakan tahun lahirnya Desa Subang dengan kuwu (Kepala desa) Pertamanya yaitu: Wirananggapati.

Ketika Wirananggapati wafat kekuasaan Kedaleman diturunkan kepada putranya yang bernama Wisantaka Djanah dan hal ini terus berlanjut sampai kepada generasi VIII tahun 1850 sampai dengan 1880.

Berdasarkan kesepakatan dan hasil musyawarah para tokoh masyarakat serta restu pemerintah Kewedanaan pada saat itu, dengan alasan wilayah pemerintahan Desa Subang sudah terlalu luas dan komunitas penduduknya pun sudah semakin bertambah banyak, maka pada tahun 1870 pada masa pemerintahan kuwu Raksamanggala (Kepala Desa Subang kedelapan) disepakati pemekaran desa Subang diarahkan ke wilayah Selatan, karena komunitas masyarakat, geografis, dan luas wilayah Selatan Desa Subang dianggap paling tepat untuk dijadikan lokasi pemekaran pemerintahan Desa Subang.

Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa pertanyaan, antara lain: “Setelah dimekarkan akan di mana dipusatkannya pemerintahan desa baru tersebut, dan apa namanya desa tersebut?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa usulan dari peserta musyawarah, di antaranya:

a. Usulan pertama pusat pemerintahan desa yang baru lokasinya di bekas pusat pemerintahan Kedaleman Ketug lama.

b. Usulan kedua meminta lokasinya dipindahkan dari lokasi pusat pemerintahan Kedaleman Ketug lama ke tempat lain yang lebih strategis, dan berada di tengah desa, atau berada pada titik sentral (Barat-Timur-Utara-Selatan) jaraknya relatif sama.

Peserta musyawarah sepakat untuk lokasi desa pemekaran yang dianggap paling tepat adalah di daerah Sawah Jati. Permasalahan yang ada tinggal masalah nama. Akan diberi nama apakah desa pemekaran tersebut. Ada beberapa usulan dari peserta musyawarah tersebut, diantaranya:

a. Desa Ketug, sesuai dengan nama pada masa kedaleman pertama, yaitu Kedaleman Ketug.
b. Desa Mandapa, dengan alasan komunitas penduduk yang ada relatif banyak.

Setelah para peserta musyawarah, menganalisis berbagai usulan dan masukan, baik berdasarkan sejarah, bahasa maupun budaya maka dihasilkanlah pengertian sebagai berikut:

a. Menghidupkan kembali Kedaleman Ketug menjadi Desa Ketug berarti kembali (mulih) ke wilayah Kedaleman Pertama yaitu Kedaleman Ketug.
b. Dalam masyarakat Sunda ada peribahasa “Kebo mulih pakandangan” yang mengandung arti kembali ke tempat asal.
c. Kata mulih (kembali) inilah yang kemudian menjadi cikal bakal nama desa baru tersebut.

d. Peserta musyawarah akhirnya sepakat dan menetapkan desa pemekaran tersebut diberi nama Desa Pamulihan Kata Pamulihan (pangbalikan) mengandung pengertian tempat mulih (tempat kembali). Ini berarti tempat kembalinya pemerintahan setingkat desa ke wilayah Kedaleman Ketug pertama, dan sebagai pusat pemerintahannya di Sawah Jati. Hal ini terjadi pada tahun 1870 (hari jadi, tanggal dan bulan belum diketemukan).

Sebagai bukti sejarah bahwa di Sawah Jati pernah dijadikan pusat pemerintahan desa Pamulihan yaitu adanya tempat pemakaman yang bernama Astana Pamulihan.

e. Kepala desa/Kuwu pertama yang mendapat mandat untuk memimpin Desa Pamulihan berdasarkan penunjukkan atasannya adalah Bapak Wiradinata, yang lebih dikenal dengan panggilan Bapak Kuwu Sajong. Beliau menjabat sebagai Kuwu Pamulihan tahun 1870-1895.

Wiradinata/Kuwu Sajong ternyata masih keturunan Wirananggapati, pada tingkat kelima Sangga Wareng seperti yang dapat dilihat pada silsilah Wirananggapati terlampir.

Kuwu Wiradinata/Kuwu Sajong mempunyai charisma yang tinggi dalam masyarakat, berwibawa, cerdas dan kaya. Bahkan menurut cerita, pada masa itu beliau merupakan orang terkaya di Desa Subang. Beliau memiliki puluhan lumbung padi.

Dalam menjalankan tugasnya Beliau tidak pernah membebani masyarakat dengan berbagai pungutan/iuran, seluruh biaya untuk menjalankan roda pemerintahan ditanggungnya sendiri. Sayang beliau tidak mempunyai keturunan alias gabug. Tempat tinggal Bapak Kuwu Sajong berada di Cukang Kanyere, lokasinya di sebelah selatan mesjid Desa Pamulihan. Tempat itu dulu di tempati oleh keluarga Bapak Ngabihi Wiraatmadja. (rumah Pak Bihi).

Bapak Kuwu Sajong wafat di Mekah ketika beliau sedang menunaikan ibadah haji, sehingga Bapak Kuwu Sajong dikenal juga dengan sebutan Bapak Kuwu Haji

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN WIRADINATA (SAJONG) 1870 – 1895

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu : Wiradinata (Sajong)
2 Wakades/Ngabihi:  Wiradisastra
3 Jurutulis : Madtoip
4 Lurah Ahad: Wiraatmaja
5 Lurah Senen:  Adma
6 Lurah Salasa : Sarma
7 Lurah Rebo:  Sastra Sasmita Arja
8 Lurah Kemis: Edon
9 Lurah Jumaah: Emur
10 Ketib :Muta’ad Reres
Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan.

Setelah terbentuk Pemerintahan Desa Pamulihan dan terpilihnya Bapak Wiradinata sebagai Kuwu/Kepala Desa Pamulihan, maka mulailah berbenah diri. Mulai dari penyusunan perangkat pamong desa sesuai dengan tugas dan fungsinya, serta menyusun rencana kerja sesuai dengan kebutuhan pada masa itu, dengan memperhatikan berbagai aspek kehidupan, terutama karakteristik masyarakat desa Pamulihan yang pada umumnya petani, dan pedagang. Kesemuanya itu dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program kerja desa.

Keadaan geografi Desa Pamulihan merupakan daerah pegunungan dan perbukitan yang terjal sehingga menyulitkan dalam penataan pembangunan jalan sebagai sarana transfortasi. Di samping itu Desa Pamulihan pun terletak di daerah yang rawan bencana tanah longsor. Hal ini pulalah yang menjadi kendala aparat desa untuk mempasilitasi masyarakat dalam mengangkut hasil pertaniannya ke pasar, serta menghambat dan mempersulit hubungan kerja aparat desa dengan kecamatan dan kewedanaan atau sebaliknya.

Jalan yang menghubungkan desa Pamulihan dengan kecamatan maupun dengan kewedanaan harus melintasi Sungai Cisubang yang mengalir di bawah perbukitan juga menjadi kendala cukup besar dalam menata sarana transfortasi, karena antara dasar sungai dengan bantaran atau pinggir sungai merupakan tebing batu yang terjal, sulit untuk dibuat jalan.

Sungai Cisubang merupakan sumber pengairan sawah yang berada di sepanjang aliran sungai tersebut, termasuk untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di pusat Desa Pamulihan dan areal persawahan di Sawah Jati dan sekitarnya.

Pusat pemerintahan Desa Pamulihan di Sawah Jati tanahnya labil karena berada di kaki bukit yang rawan longsor, sebagai bukti sejarah jalan menuju pusat pemerintahan desa melewati sawah yang rawan longsor dan sampai sekarang tempat itu dinamakan Sawah Urug.

Setelah Desa Pamulihan berjalan lebih kurang 25 tahun, penataan jalan sebagai sarana transfortasi masih mengalami kesulitan untuk diwujudkan, juga karena terjadi bencana longsor (urug) yang cukup besar di dekat pusat pemerintaha desa, maka atas usulan masyarakat dan dorongan dari pemerintah kecamatan, kewedanaan maupun pemerintah Kabupaten untuk memikirkan tentang pemindahan pusat pemerintahan Desa Pamulihan dari Sawah Jati ke tempat lain yang lebih aman, lebih strategis, lebih dekat dan lebih mudah berhubungan dengan pemerintahan tingkat kecamatan, kewedanaan maupun tingkat kabupaten.

B. PUSAT PEMERINTAHAN DESA PAMULIHAN DI CUKANG KANYERE TAHUN 1900

1. Masa Pemerintahan Kuwu Wiradisastra (Kuwu Nasmin, Tahun 1895 – 1931)
Bersamaan dengan keberangkatan Bapak Kuwu Sajong ke tanah suci Mekah, dan beliau meninggal dunia di sana, maka mulailah diadakan pembahasan tentang pemindahan pusat pemerintahan Desa Pamulihan tersebut dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Di antaranya agar terhidar dari bahaya tanah longsor, mudah dijangkau, dan apabila ada aparat kecamatan, kewedanaan maupun kabupaten mengadakan kunjungan ke Desa Pamulihan tidak melintasi Sungai Cisubang, karena pada masa itu orang masih percaya akan supata Jabasraga, bahkan hal itu dijadikan mitos atau kepercayaan yang tumbuh dalam masyarakat bahwa apabila ada pejabat dari kecamatan, kewedanaan atau kabupaten yang melintasi Sungai Cisubang, maka pejabat tersebut akan ditimpa berbagai musibah, sehingga pada saat itu apabila ada pejabat yang ingin mengadakan kunjungan ke Desa Pamulihan, mereka hanya melihatnya dari atas bukit Nagog saja.

Pernah terjadi pada masa itu ada pejabat yang mengadakan kunjungan kerja ke Desa Pamulihan di Sawah Jati, dan beliau melintasi Sungai Cisubang, mungkin secara kebetulan pejabat itu sepulangnya mengadakan kunjungan kerja tersebut ditimpa musibah, sehingga dari kejadian itu kepercayaan masyarakat terhadap mitos supata Jabasraga pun semakin kuat.

Lokasi pusat pemerintahan desa yang baru, harus lebih baik daripada Sawah Jati, lebih aman dan lebih strategis. Atas dasar pertimbangan tersebut maka kira-kira pada tahun 1900 pusat pemerintahan Desa Pamulihan dari Sawah Jati dipindahkan ke Cukang Kanyere. setelah Perpindahan itu dipimpin oleh Bapak Kuwu Wiradisastra/Nasmin, setelah beliau menjabat sebagai Kuwu selama 5 tahun. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Bapak Kuwu Pangsiun. Beliau adalah putra dari Bapak Tjandradiwangsa, yang juga masih keturunan Wirananggapati anak kakak Wiradinata.

Tempat tinggal beliau di Cukang Kanyere, letaknya di belakang balai desa, sekarang rumahnya Bapak S. Miharja. Setelah pensiun beliau tinggal di Cikolotok yang lokasinya sekarang ditempati Bapak Didi Mulyadi (Mantan Kuwu Jatisari).

Pada masa kepemimpinan Bapak Kuwu Wiradisastra Desa Pamulihan yang pemerintahannya berpusat di Cukang Kanyere, kehidupan masyarakatnya yang sebagian besar dari pertanian, peternakan dan sebagian kecil dari berdagang, banyak yang berhasil. Sebagai bukti keberhasilan mereka pada masa itu di ataranya banyak masyarakat desa Pamulihan yang memiliki sawah yang luas, kerbau, sapi, atau kambing yang banyak, serta memiliki lumbung padi lebih dari satu, bahkan ada yang memiliki lumbung padi lebih dari empat buah. Pemerintahan desa pun pada masa itu memiliki lumbung padi untuk persediaan pada musim paceklik.

Hubungan antara pemerintahan desa dengan pemerintahan tingkat kecamatan, kewedaan dan kabupaten sudah agak mudah dicapai, begitu pula perekonomian mulai meningkat. Jalan-jalan sebagai sarana transfortasi mulai dibangun. Diantaranya jalan yang menghubungkan Luragung – Kambangan – Cilebak – Pamulihan – terus ke Rancah di Kabupaten Ciamis, begitu pula jalan yang menghubungkan Kuningan – Subang – Pamulihan – Rancah.

Pusat Desa Pamulihan di Cukang Kanyere sangat tepat dan strategis. Lokasinya berada di segitiga emas antara Luragung sebagai Ibukota Kewedanaan lewat Kambangan, Cilebak ke Pamulihan, dan Kuningan sebagai Ibukota Kabupaten lewat Subang ke Pamulihan, serta Pamulihan ke Rancah di wilayah Kabupaten Ciamis. Jalur inilah yang menjadi urat nadi perdagangan, jalur penjualan hasil bumi, dan peternakan yang lebih populer biasa juga di sebut sebagai jalur perekonomian dari tiga penjuru yaitu Kuningan, Luragung, dan Rancah Ciamis semuanya melewati Pamulihan.

Dengan kehidupan yang stabil, kesejahteraan masyarakat yang meningkat, di Pamulihan banyak orang yang berkecukupan. Sebagai bukti kira-kira pada tahun 1931 Bapak Kuwu Wiradisastra berangkat ke Tanah Suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji mengikuti jejak Bapak Kuwu Wiradinata. Namun sayang beliau pun wafat di perjalanan menuju Mekah.

Dari dua peristiwa itu muncullah mitos atau kepercayaan yang hidup dalam masyarakat Desa Pamulihan bahwa orang Pamulihan jika berangkat menunaikan ibadah haji tidak akan kembali lagi karena meninggal dunia dalam perjalanan atau di Tanah Suci Mekah. (urang Pamulihan mah teu paya mangkat ka haji/Mekah). Namun sekarang mitos itu sudah tidak berlaku lagi kerena sekarang sudah banyak orang desa Pamulihan yang menunaikan ibadah haji dan mereka selamat kembali lagi ke kampung halamannya.

Akhirnya Kuwu Wiradisastra diganti dengan melalui proses pemilihan yang dilakukan oleh masyarakat. Dari hasil pemilihan tersebut Kuwu Wiradisastra digantikan oleh jurutulisnya yang bernama Bapak Martaatmaja.

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN WIRADISASTRA (NASMIN) 1895 – 1931

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu :Wiradisastra (Nasmin)
2 Wakades/Ngabihi: Madtoip
3 Jurutulis :Martaatmaja
4 Lurah Ahad: Wiraatmaja
5 Lurah Senen :Adma
6 Lurah Salasa: Sarma
7 Lurah Rebo :Sastra Sasmita Arja
8 Lurah Kemis :Edon
9 Lurah Jumaah:Emur
10 Ketib: Muta’ad Reres
Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan

2. Masa Pemerintahan Kuwu Martaatmaja (tahun 1931 – 1958)

Bapak Nasmin digantikan oleh Bapak Martaatmaja. Beliau menjadi Kuwu Desa Pamulihan dari Tahun 1931 sampai tahun 1958.

Di bawah kepemimpinan beliau, Desa Pamulihan mencapai masa gemilang. Bapak Martaatmaja sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Beliau hidup sederhana dan merakyat. Beliau memiliki kharisma yang tinggi, disegani dan dihormati baik oleh rakyat maupun oleh atasannya.

Rakyat yang sebagian besar hidupnya dari bertani dibinanya dengan baik. Misalnya untuk menghindari serangan hama tanaman, maka pola tanam padi pun diseragamkan. Raksabumi yang bertugas mengawasi pertanian berkeliling sambil memukul bareng/bende (sejenis gong kecil) mengumumkan kapan waktu mulai mengolah tanah, menyebar bibit, dan menandur.

Pada musim panen mereka bergotong royong mengangkut padi dari sawah. Pada masa itu masyarakat mengangkut padinya ada yang mengunakan rengkong (alat pikul padi yang terbuat dari bambu bulat yang dapat mengeluarkan suara yang nyaring. Suaranya bisa berirama mengikuti gerakan si pemikulnya). Setelah selesai panen masyarakat biasanya mengadakan sidekah bumi (acara doa bersama sebagai tanda bersyukur kepada Allah Swt. atas hasil panen yang mereka peroleh)

Apabila sawah mereka terserang hama tikus, maka mereka pun bersama-sama membasminya dengan diburu beramai-ramai atau dengan acara ritual yang biasa disebut tundan.1)

1) Suatu bentuk acara ritual yang diyakini dapat mengusir hama tikus. Bentuk ritual tsb. berupa iring-iringan dengan membawa puluhan ekor tikus hidup yang dimasukkan kedalam bumbung bambu. Bumbung bambu itu sepanjang jalan dipukuli beramai-ramai berirama seperti sedang ronda malam. Biasanya acara itu diiringi pula dengan berbagai atraksi dan tabuh-tabuhan, mirip karnaval 17 Agustus. Setelah sampai di Muara Sungai Cicapar dan Sungai Cisubang bambu-bambu yang berisi tikus-tikus itu pun dihanyutkan.

Begitu pula apabila timbul wabah penyakit, mereka mengadakan sidekah tutulak, (yaitu suatu acara doa bersama untuk memohon kepada Allah agar terhindar dari wabah penyakit tersebut).

Masyarakatnya hidup bergotong royong. Sebagai contoh manakala ada yang mendirikan atau memperbaiki rumah maka para tetangga dengan sukarela membantunya tanpa harus diminta bantuan, atau diberi upah. Para istrinya pun mengantar makanan untuk makan suaminya yang sedang membantu mengerjakan pekerjaan tetangganya tersebut agar tidak merepotkan orang yang sedang membangun atau memperbaiki rumah tersebut. Begitu pula apabila ada yang mengadakan hajatan/kenduri, para tetangga berdatangan untuk membantu atau keondangan. Mereka dengan sukarela datang membantu walaupun mereka tidak diundang atau diminta bantuan.

Pada masa itu ada keunikan dalam hal mengundang. Orang yang akan mengadakan kenduri apabila mengundang tetangga atau kenalan jarang yang menggunakan surat undangan seperti sekarang. Alat yang digunakan untuk mengundang biasanya cukup dengan menggunakan sebatang rokok. Orang yang ditugaskan mengundang, membagikan rokok sambil memberitahukan maksudnya dia membagi-bagikan rokok tersebut.

Pada sore hari, setelah solat Asyar biasanya anak-anak muda di depan mesjid atau mushola berlatih menabuh genjring (rebana besar) atau berlatih rudat. Kedua kesenian tersebut di samping sebagai sarana dakwah Islam, juga sebagai sarana hiburan melepaskan lelah setelah seharian bekerja di sawah atau di ladang. Pada malam harinya selepas solat Magrib mereka belajar mengaji, sehingga masyarakat desa Pamulihan pada umumnya tidak ada yang buta huruf, sebab walaupun ada di antara mereka yang buta huruf latin namun mereka bisa membaca Al Qur’an, dan selesai solat Isya, biasanya orang tua bermain gembyung/nyalawat. (Gembyung bentuknya seperti genjring/rebana namun lebih besar). Kesenian gembyung/nyalawat pernah dipanggil untuk mengisi acara hiburan di Luragung (ibukota Kewedanaan).

Baik genjring, rudat, maupun gembyung atau nyalawat karena keteledoran kita semua dalam melestarikan budaya leluhur, sekarang sudah tidak kita jumpai lagi, bahkan anak-anak sekarang mungkin sudah tidak tahu seperti apa kesenian tersebut.

Pada saat peringatan Maulid Nabi diadakan pawai keliling kampung. Tabuhan genjring dan rudat mengiringi pawai tersebut. Yang unik pada acara ini yaitu diantara peserta pawai ada yang menggotong rumah-rumahan berbentuk mesjid, di dalamnya biasanya terdapat tumpeng dan atap rumah-rumahan tersebut terbuat dari berbagai jenis makanan yang diberikan oleh masyarakat, ada yang berupa opak, rengginang, goreng ikan da lain-lain.

Mesjid atau mushola dihias dengan tandanan pisang yang sudah matang. Para pemuda seolah-olah berlomba untuk membawa tandanan pisang yang terbaik yang akan digunakan untuk menghias tiang-tiang mesjid atau mushola. Selesai acara pengajian dan pembacaan salawat nabi, (Biasanya pada acara tersebut ada bebepara orang anak yang melaksanakan khatam Al Quran) maka pisang-pisang itupun dibagikan kepada seluruh yang hadir. Begitu pula pada acara hari raya Islam lainnya, seperti Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha. Setelah selesai acara silaturahmi dari rumah ke rumah, para lelaki mengadakan sidekah di mesjid-mesjid atau mushola (acara makan bersama). Acara ini merupakan ajang saling tukar makanan, mengajak makan bersama orang-orang yang tidak mampu. Dalam acara makan bersama ini tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, atau antara pejabat dan rakyat jelata, mereka duduk bersama menghadapi makanan yang dipajang memanjang di dalam mesjid atau mushola.

Karena tidak memiliki lapangan sepak bola, maka setelah panen di sawah yang berpetak-petak dan berbentuk teras siring yang tidak terlalu tinggi mereka gunakan sebagai lapangan untuk bermain sepak bola. Sawah yang biasanya digunakan sebagai lapangan sepak bola antara lain Sawah Jati dan sawah Kadupugur di belakang SD Negeri Pamulihan I sekarang. Mereka bersukacita menikmati acara tersebut. Anak-anak biasanya bermain sepak bola dengan menggunakan jeruk bali (jeruk besar), karena pada waktu itu bola tendang yang seperti sekarang sangat susah didapat.

Untuk mengatasi kekurangan tenaga guru di Kabupaten Kuningan, akibat perubahan status dari Sakola Desa 3 tahun menjadi Sekolah Rakyat 6 tahun, maka pada masa pemerintahan Bapak Martaatmaja di Desa Pamulihan dijadikan tempat penyelenggaraan pendidikan Sekolah Guru Kilat (SGK). Pendidikan SGK tersebut dilaksanakan selama enam bulan, SGK ini satu-satunya di Kabupaten Kuningan. Yang menjabat Kepala Sekolah SGK pertama ialah Bapak Osa Maliki dan salah seorang gurunya ialah Bapak Upi Iskandar, sedangkan para siswanya yang pernah belajar di sana antara lain Bapak Ukan, Bapak Djuhri, Bapak Ento Sukartono, Bapak Djanta, Bapak Tarmadi, Bapak Usma, Ibu Sariah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua tamatan Sekolah Guru Kilat Pamulihan diangkat menjadi Pegawai Negeri untuk mengisi kekosongan guru di Kabupaten Kuningan.

Gedung Sakola Desa (SD) yang semula lokasinya berada di depan balai desa/mesjid (di sebelah Selatan rumah Ibu Sukilah sekarang) dipindahkan ke Kampung Sirnagalih dan namanya berubah menjadi Sekolah Rakyat (SR) dan pada kira-kira tahun 1953 sekolah SR itu pun dipindahkan lagi ke Kampung Kadupugur (tempat SD Pamulihan I sekarang). Tamatan dari SR ini banyak yang melanjutkan pendidikannya ke SGB (Sekolah Guru B, setingkat SMP sekarang), dan setelah tamat mereka kembali ke Pamulihan dan menjadi guru di SR tempat dulu mereka menuntut ilmu atau di SR yang berada di desa lain yang berdekatan dengan Desa Pamulihan.

Dalam bidang keamanan, Desa Pamulihan pernah dijadikan Markas Besar Tentara yang diberi nama Markas Besar Komando Djawa (MBKD) bertempat di Mandapa. Yang menjadi Kepala Stapnya pada waktu itu Bapak Letkol Sukanda Bratamanggala.

Setelah Yogyakarta dikuasai Belanda, di tanah air kita didirikan 4 Markas Besar Komando, yaitu 3 buah di Jawa dan 1 buah di Sumatra. Markas Besar Komando Jawa (MBKD) satu berada di Jawa Timur, satu di Jawa Tengah, dan yang satu lagi di Jawa Barat yang ditempatkan di Mandapa desa Pamulihan.

Tahun 1956 keamanan Desa Pamulihan mulai terusik dengan adanya pemberontakan DI TII pimpinan Kartosuwiryo. Beberapa orang rakyat desa Pamulihan menjadi korban keganasan DI TII, diantaranya jurutulis Desa Pamulihan yang bernama Bapak Tjandra dan pembantu Bapak Kuwu yang bernama Bapak Tahar, penjaga SD yang bernama Bapak Kamar, dan beberapa orang masyarakat lainnya dibunuh oleh DI TII di daerah Cidongkol. Dari hari ke hari keganasan DI TII makin menjadi, beberapa kali pos tentara di Pasir Nagog diserang gerombolan DI TII dan beberapa orang tentara pun meninggal terbunuh.

Tentara yang ditugaskan di desa Pamulihan jumlahnya tidak memadai, maka untuk memudahkan pengawasan dan menjaga keamanannya, rakyat yang berada di perkampungan diharuskan mengungsi ke dalam desa. Sekeliling desa dipagar dengan bambu yang tingginya kurang lebih dua meter dan bagian atasnya diruncingkan. Pagar tersebut dibuat berlapis-lapis (sampai tujuh lapis). Di samping itu di bawahnya pun dibuat pula pagar pendek yang hanya beberapa centi meter saja yang mencuat ke permukaan. Pagar pendek ini dinamakan burang. Setiap tiga bulan pagar itu diperbaiki dan diperbaharui. Ronda malam digiatkan. Sekeliling desa, mengikuti pagar setiap jarak 50 meter dipasangi lampu lentera, namun demikian DI TII masih saja bisa masuk dan membunuh rakyat yang tidak berdosa.

Karena keamanan yang dirasakan makin tidak kondusip dan juga karena usianya yang sudah lanjut, maka Bapak Martaatmaja selaku kuwu/kepala desa pun mengundurkan diri. Beliau bersama seluruh anggota keluarganya mengungsi ke Jakarta, Beliau tinggal di daerah Bukitduri Tanjakan. Setelah putranya yang bernama R. Sukarsa Wnp. pindah dari Bukitinggi Sumatra Barat ke Karawang beliau pun pindah ke Karawang. Beberapa tahun kemudian Bapak Martaatmaja meninggal dunia karena sakit dan tidak lama kemudian istrinya pun meninggal pula. Beliau dimakamkan di Teluk Jambe Karawang.

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN MARTAATMAJA 1931 – 1958

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu :Martaatmaja
2 Wakades/Ngabihi “Wiraatmaja
3 Jurutulis: Atmawisastra (Ukan)
4 Jurutulis: Tjandra
5 Jurutulis: S. Miharja
6 Lurah Ahad: Supanta
7 Lurah Senen: Sudarja
8 Lurah Salasa: Artaip
9 Lurah Rebo: Atmadireja (Ijut)
10 Lurah Kemis: Mustari
11 Lurah Jumaah :Madtari
12 Lurah Saptu: Karmadijaya (Karma Dongkol)
13 Lurah Cipicung: Wangsareja
14 Raksabumi :Jangin
15 Kulisi: Partadireja
16 Kulisi: E. Sukarma
17 Kulisi :Ahmad
18 Kulisi: S. Haryono
19 Ketib: Madhusni
Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan

3. Masa Pemerintahan Kuwu Kantadisastra (tahun 1958 – 1965)

Setelah Bapak Martaatmadja mengundurkan diri, maka diadakan pemilihan kuwu baru, dan dari hasil pemilihan kuwu tersebut terpilihlah Bapak Kantadisastra sebagai kepala desa Pamulihan yang baru menggantikan Bapak Martaatmaja. Beliau lebih dikenal dengan panggilan Bapak Deyo, beliau merupakan orang Pamulihan asli yang pertama menjadi Kuwu Pamulihan.
Pada masa pemerintahan dipimpin Bapak Kantadisastra masyarakat desa Pamulihan benar-benar mengalami kesulitan karena adanya gangguan keamanan dari gerombolan DI TII. Banyak rakyat Desa Pamulihan yang tidak berdosa dibunuh, dan banyak pula kampung yang dibakar. Masyarakat hidup dalam ketakutan dan kemiskinan.

Rumah kepala desa dijadikan markas tentara yang menjaga keamanan Desa Pamulihan. Namun sangat tragis rumah kepala desa yang lokasinya berada di tengah desa dan dijadikan markas tentara pun diserang gerombolan DI TII. Seorang tentara gugur ditembak dan senjatanya dirampas gerombolan DI TII.

Tanah pertanian mulai tidak terurus, banyak sawah dan lahan pertanian yang dibiarkan puso, tidak ditanami karena para pemiliknya tidak berani mengolah tanahnya. Masyarakat Desa Pamulihan betul-betul mengalami kesulitan baik ekonomi maupun keamanannya. Banyak penduduk Desa Pamulihan yang mengungsi ke Jakarta, Bogor, Bandung dan kota-kota besar lainnya.
Pada masa pemerintahan Bapak Kantadisastra, kegiatan belajar siswa SD pun dari kampung Kadupugur yang jaraknya dari balai desa hanya kurang lebih 500 meter terpaksa harus dipindahkan ke balai desa, karena guru dan orang tua murid mengkhawatirkan keamanan dan keselematan para siswanya.

Untuk mengatasi makin merajalelanya keganasan DI TII maka pada tahun 1962 masayarakat Jawa Barat termasuk masyarakat Desa Pamulihan secara serentak bahu membahu bersama-sama dengan TNI mengadakan gerakan penumpasan DI TII dengan cara mengadakan pagar betis. Dengan gerakan pagar betis ini ternyata hasilnya sangat memuaskan, seluruh gerombolan DI TII dapat ditumpas, mereka semuanya menyerahkan diri.

Setelah DI TII menyerahkan diri keamanan masyarakat Desa Pamulihan pun mulai pulih. Mereka yang selama ini mengungsi kembali ke kampung halamannya masing-masing dan tanah pertanian yang selama ini terlantar pun mulai digarap kembali. Kehidupan masyarakat Desa Pamulihan mulai menggeliat kembali, mulai muncul kembali seni budaya dalam masyarakat yang di koordinir oleh pemerintah desa. Seni budaya tersebut antara lain : Pencak Silat, Reog, Sandiwara, Pesta (ronggeng), Wayang Golek dan Pentas seni hasil kreasi anak-anak sekolah.
Bapak Kantadisastra memerintah Desa Pamulihan dari tahun 1958 sampai tahun 1965.

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN KANTADISASTRA (DEYO) 1958 – 1965

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu :Kantadisastra (Deyo)
2 Wakades/Ngabihi: Sudarja
3 Jurutulis: S. Miharja
4 Jurutulis: Madsuhli
5 Jurutulis: Samsudin
6 Lurah Ahad: Supanta
7 Lurah Senen: ………………….
8 Lurah Salasa: Artaip
9 Lurah Rebo: Tarmu Suminta D
10 Lurah Kemis: Prianta
11 Lurah Jumaah: Wirya
12 Lurah Saptu: Anda Sasmita/ Sukatma
13 Lurah Cipicung: Wangsareja
14 Raksabumi: S. Haryono
15 Kulisi :Amarta
16 Kulisi: Karsuhli
17 Ketib: Dulhadi
Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan

4. Masa Pemerintahan Kuwu Madsuhli (1965–1966)

Setelah Bapak Kuwu Kantadisastra habis masa jabatannya maka masyarakat Desa Pamulihan pun mengadakan pemilihan kepala desa yang baru. Dari sekian banyak calon kepala desa Bapak Madsuhli yang pada waktu itu menjabat sebagai jurutulis desa akhirnya terpilih sebagai kepala desa yang baru menggantikan Bapak Kantadisastra.

Pada masa pemerintahan Bapak Kuwu Madsuhli, di Negara kita terjadi pemberontakan G30 S/ PKI. Imbas dari peristiwa itu sampai pula ke desa Pamulihan. Pemerintahan Bapak Madsuhli tidak berlangsung lama, karena banyak rongrongan dan tantangan yang cukup berat. Berbagai permasahan dipolitisir dan sering dikait-kaitkan dengan pemberontakan G 30 S/PKI.

Karena dalam melaksanakan tugas pemerintahannya sering mendapat sandungan, dan merasa tidak ada ketenangan kerja, maka akhirnya beliau pun mengundurkan diri. Beliau memerintah Desa Pamulihan hanya satu tahun saja yaitu dari tahun 1965 sampai tahun 1966.

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN
MADSUHLI 1965 – 1966

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu: Madsuhli
2 Wakades/Ngabihi: Sudarja
3 Jurutulis I: S. Martadimeja
4 Jurutulis II: Kanta
5 Lurah Ahad: Supanta
6 Lurah Senen :Daryaman
7 Lurah Salasa: Didi Mulyadi
8 Lurah Rebo: S. Haryono
9 Lurah Kemis: Prianta
10 Lurah Jumaah: Wirya
11 Lurah Saptu: Sukatma
12 Raksabumi: S. Taryaman
13 Kulisi :Amarta
14 Ketib :Dulhadi
Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan

BAB IV

MASA PEMEKARAN DESA PAMULIHAN

1. Masa Pemerintahan Kuwu S. Suheri (tahun 1966 – 1978)

S. Suheri menjadi kepala Desa Pamulihan melalui proses pemilihan kepala desa yang kedua kalinya, sebab pada pemilihan kepala desa yang pertama beliau gagal, dikalahkan oleh Bapak S. Madsuhli. Beliau memerintah Desa Pamulihan dari tahun 1966 sampai dengan tahun 1978.

Pada masa pemerintahan S. Suheri Pemerintah Pusat yang dipimpin oleh Bapak Suharto mencanangkan program Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA). Sejalan dengan REPELITA tersebut maka dana pembangunan dari pusat pun banyak yang turun ke desa-desa, termasuk juga ke Desa Pamulihan. Dengan adanya dana yang turun dari pusat maka Desa Pamulihan pun mulai menata pembangunan, antara lain membangun sarana pendidikan, sarana Olah Raga, sarana transfortasi, sarana pertanian dan sarana peribadatan.

Dalam bidang pendidikan Desa Pamulihan pada saat itu mengalami kemajuan yang cukup pesat. Sarana dan prasarana pendidikan bertambah dengan didirikannya SD Negeri unit baru, yaitu SD Negeri Sukamulih. Dengan demikian anak-anak usia sekolah dasar dapat bersekolah dengan tidak usah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mereka dapat besekolah di tempat yang dekat dengan tempat tinggalnya. Tamatan sekolah dasar pun pada umumnya melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, antara lain SMP, PGA, Pesantren bahkan tidak jarang yang melanjutkan pendidikannya hingga memperoleh gelar sarjana.

Sarana olah raga yang dibangun adalah lapangan sepak bola di Pasir Nagog dan lapangan bola volly di Kampung Kadupugur dan kampung-kampung lainnya. Pretasi yang pernah diraih dalam bidang olah raga volly menjadi juara di tingkat kecamatan, dan prestasi sepak bola mencapai semi final tingkat kecamatan.
Para pemuda dan pelajar membentuk organisasi kepemudaan yang diberi nama Ikatan Pemuda Pelajar Pamulihan yang disingkat IPPP (IP3). Tokoh-tokoh pendiri IP3 ini antara lain: Edos Iman Saputra, Hartono Wnp, Uri Suhari, dan O.K. Zainudin.

Dengan terbentuknya organisasi kepemudaan ini banyak manfaat yang dapat dirasakan baik oleh para pelajar itu sendiri, maupun oleh masyarakat luas, misalnya saja penghijauan sepanjang jalan Pamulihan Subang dengan penanaman pohon mahoni, mengadakan gerakan aksi sosial, mengadakan kunjungan persahabatan ke desa lain dan mengadakan pentas seni untuk menghibur masyarakat. IP3 dikalangan pelajar tumbuh dengan pesat, namun ada juga yang berpendapat bahwa organisasi ini belum dapat menampung aspirasi semua lapisan, terutama generasi tua atau mereka yang sudah bekerja. Maka untuk dapat menampung semua aspirasi IP3 pun disempurnakan lagi, dan lahirlah organisasi baru yang diberi nama Ikatan Warga Ranggamulih yang disingkat menjadi IRGAM. Para tokoh pendiri organisasi ini antara lain:  S. Suheri (Kepala desa), Dadang Sudiana, Djudju Djuhriah, S. Haryadi dan Eman Sulaeman Akbar. Namun dalam perjalanannya organisasi ini mengalami kesulitan dalam mewujudkan cita-cita para pendirinya karena kekuasaan IRGAM dianggap tumpang tindih dan cakupannya terlalu luas, melebihi tugas dan wewenang pemerintahan desa, sehingga sulit membedakan antara hasil kegiatan IRGAM dengan hasil kegiatan pemerintahan desa dan kegiatan masyarakat. Begitu pula dalam pembinaan organisasi karena cakupan anggotanya pun terlalu luas mencakup seluruh warga Desa Pamulihan ditambah dengan warga perantau yang berada di luar desa Pamulihan.

Dengan bertolak dari berbagai kelemahan tersebut maka pada tanggal 04 April 1977 setahun sebelum berakhirnya masa kepemimpinan S. Suheri sebagai Kepala Desa Pamulihan, para tokoh perantau di Bekasi mengadakan musyawarah. Dalam musyawarah tersebut semua yang hadir sepakat membentuk suatu ikatan yang mengikat para perantau Pamulihan yang berada di Bekasi. Organisasi ini diberi nama Ikatan Kekeluargaan Warga Pamulihan disingkat IKWP. Para tokoh pendiri IKWP ini antara lain: E. Sukarsa Wirananggapati, O.K. Zainudin, Edos Iman Saputra, dan E. Rajaman.

IKWP terus berkembang, warga yang berada di luar Bekasi pun, seperti Jakarta, Tanggerang, Bogor dan Karawang ikut bergabung. Maka nama IKWP pun disempurnakan lagi menjadi IKWP JAKSI, yang mengandung pengertian Ikatan Kekeluargaan Warga Pamulihan Jakarta dan Sekitarnya.
Kegiatan yang dilakukan IKWP JAKSI ini antara lain:

a. Mempererat persaudaraan dan silaturahmi bagi warga Pamulihan yang berada di Bekasi, Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Karawang dengan mengadakan arisan, olah raga dan kesenian. Tempat penyelenggaraan kegiatan arisan dilaksanakan di rumah anggota arisan secara bergiliran.

b. Membantu para siswa tamatan SMP Negeri Subang yang ingin melanjutkan pendidikannya di SPG Negeri Tambun, Bekasi.

c. Mengumpulkan sumbangan untuk disumbangkan kepada Mesjid Desa Pamulihan.

d. Mengumpulkan sumbangan untuk disumbangkan ke mushola kampung Dayasari yang terkena musibah bencana alam.

e. Menyalurkan Zakat Fitrah dari warga IKWP Jaksi kepada warga desa Pamulihan yang berhak menerimanya.

f. Menyelenggarakan acara halal bil halal, baik di Bekasi maupun di Pamulihan.g. Membantu kegiatan pembangunan di Desa Pamulihan diantaranya membuat lapangan Sepak Bola di Pasir Nagog.

Pemerintahan desa terus meningkatkan pembinaan dalam bidang keagamaan. Hal ini dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat dengan adanya pembangunan rumah-rumah ibadah di kampung-kampung, juga memugar mesjid desa. Baik tajug/langgar maupun mesjid merupakan sarana untuk pembinaan moral, akhlaq, dan meningkatkan keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT.

Pada masa pemerintahan S. Suheri bidang keamanan dirasakan sangat kondusip. Gangguan keamanan boleh dikatakan tidak ada. Hal ini membuat masyarakat fokus pada kegiatan pembangunan dan peningkatan perekonomian.

Bidang pertanian pun mengalami peningkatan yang cukup pesat. Melalui BIMAS dan INMAS baik tanaman padi maupun palawija hasilnya terus meningkat. Terlebih-lebih dengan melalui program intensifikasi dan ektensifikasi pertanian. Penanaman padi yang biasanya hanya dilakukan satu atau dua kali saja setahun, dengan diketemukannya berbagai varietas unggul dapat ditingkatkan menjadi tiga kali setahun. Kehidupan perekonomian masyarakat pun terus meningkat. Begitu pula bidang peternakan dan perikanan. Dengan adanya bantuan presiden (BANPRES) dalam bidang peternakan, peternakan pun mengalami peningkatan pula. Bidang perikanan tidak mau ketinggalan. Dengan adanya bibit ikan mujaer nila dan lele dumbo yang cepat besar dan pemeliharaannya relative mudah telah menarik minat masyarakat untuk berlomba-lomba memelihara dan mengembangkannya.

Dengan giatnya melaksanakan pembangunan diberbagai bidang, tugas kepala desa dalam mengawasi pelaksaan pembangunan dirasakan semakin berat, karena Desa Pamulihan yang sangat luas dan letaknya berpencar-pencar serta keadaan geografisnya yang berbukit-bukit terjal susah dijangkau. Jarak pusat pemerintahan dengan kampung Cipicung saja kurang lebih 10 Km, dan jarak sejauh itu hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Maka untuk kelancaran pembinaan, pelayanan terhadap masyarakat dan pengawasan pembangunan serta atas dasar aspirasi masyarakat itu sendiri, maka Desa Pamulihan pun dimekarkan menjadi dua desa, yaitu Desa Pamulihan dan Desa Mandapa Jaya. Desa Mandapa Jaya yang merupakan desa pemekaran wilayahnya meliputi: Mandapa, Bulaklega, Palasari, Salem, dan Cipicung.

Berdasarkan hasil pemilihan kepala desa yang diselenggarakan oleh masyarakat Mandapa Jaya, maka terpilihlah Bapak Karso sebagai Kuwu/Kepala Desa pertama Desa Mandapa Jaya.

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN S. SUHERI 1966 – 1978

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu: Suheri
2 Wakades/Ngabihi :Sudarja
3 Jurutulis I :S. Martadimeja
4 Jurutulis II: Darman
5 Lurah Ahad: Sukari
6 Lurah Senen :Daryaman
7 Lurah Salasa :Didi Mulyadi
8 Lurah Rebo: S. Haryono
9 Lurah Kemis: Kahroip
10 Lurah Jumaah: Suryaman
11 Lurah Saptu :Sukanta
12 Raksabumi :S. Taryaman
13 Kulisi :Rusnadi
14 Kulisi :Suheryaman
15 Ketib :Carwan
Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan

2. Masa Pemerintahan Kuwu Didi Mulyadi (tahun 1978 – 1984)

Pada tahun 1978 di Desa pamulihan diadakan pemilihan Kepala Desa untuk menggantikan Bapak Suheri yang telah habis masa jabatannya. Dari hasil pemilihan tersebut terpilihlah Bapak Didi Mulyadi yang pada waktu itu menjabat sebagai Lurah Salasa menjadi Kuwu/Kepala Desa Pamulihan.

Transportasi pada masa itu masih sulit, perjalanan dari desa Pamulihan ke Kecamatan Subang ditempuh dengan jalan kaki yang jaraknya lebih-kurang 4,5 KM. Masyarakat dalam rangka menjual hasil pertanian dan peternakannya ke pasar Rancah Ciamis ditempuh dengan jalan kaki juga yang jaraknya lebih kurang 10 KM.

Pada masa pemerintahan Kuwu Didi Mulyadi pembangunan jalan desa ke Desa Pamulihan oleh pemerintah Kebupaten Kuningan mulai dikerjakan dan pada akhir tahun 1979, awal tahun 1980 kendaraan bisa masuk ke desa Pamulihan dan untuk kendaraan yang pertama kali menginjakan rodanya di desa Pamulihan mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Begitu kendaraan sampai ke depan Balai desa para tokoh masyarakat dan aparat desa sudah menunggu untuk melakukan saweran. Kendaraan tersebut disawer bagaikan tamu agung yang datang dari tingkat Provinsi, saweran tersebut merupakan permohonan (do,a) kepada Allah SWT, agar perjalanan kendaraan umum ke desa Pamulihan berlanjut terus dan membawa berkah manfaat bagi masyarakat Desa Pamulihan.

Pembangunan jalan tersebut dikerjakan secara bertahap dengan programnya sampai ke perbatasan antara Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Ciamis yaitu sampai ke desa Tangkolo. Jalan tersebut merupakan jalah penghubung perekonomian masyarakat desa Pamulihan dan sekitarnya.

Pada masa pemerintahannya tahun 1983, Desa Pamulihan dimekarkan lagi menjadi dua desa yaitu Desa Pamulihan sebagai desa induk dan Desa Jatisari sebagai desa pemekaran. Wilayah Desa Jatisari meliputi: Nanggerang, Cikolotok, Cibahu, Cisawah, Cikanyere, Citetel, Cikalong dan Dayasari, sedangkan Desa Pamulihannya sendiri meliputi Menda, Cikoneng, Cimaranggi, Sarangkole, Kembanglopang, Ciketug, Sukamulih, Ciguna, Kadupugur, Sirnagalih dan Kampung Pamulihan sendiri sebagai ibukota Desa.

Kampung-kampung yang masuk ke dalam wilayah Desa Pamulihan dibagi menjadi tiga dusun yang masing-masing dipimpin oleh Kepala Dusun. Ketiga dusun tersebut yaitu:

a. Dusun Manis, wilayahnya meliputi: Menda, Cikoneng, dan Cimaranggi.
b. Dusun Pahing, wilayahnya meliputi: Pamulihan sebagai ibokota desa, Kadupugur dan Sirnagalih.
c. Dusun Puhun, wilayahnya meliputi: Sarangkole, Kembanglopang, Ciketug, Sukamulih dan Ciguna.

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN DIDI MULYADI 1978 – 1984

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu :Didi Mulyadi
2 Wakades/Ngabihi :Sudarja
3 Jurutulis I :S. Martadimeja
4 Jurutulis II: Darman
5 Lurah Ahad: Sukari
6 Lurah Senen: Daryaman
7 Lurah Salasa: …………………
8 Lurah Rebo: S. Haryono
9 Lurah Kemis :Kahroip
10 Lurah Jumaah: Suryaman
11 Lurah Saptu: Sukanta
12 Raksabumi: S. Taryaman
13 Kulisi: Rusnadi
14 Kulisi :Suheryaman
15 Ketib: Carwan
Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan.

3. Masa Pemerintahan Kuwu Martadimeja/ Kuwu Sarkoma (tahun 1984 – 1992)

Setelah mengalami pemekaran menjadi Desa Pamulihan dan Desa Jatisari, Desa Jatisari dipimpin oleh Bapak Didi Mulyadi sebagai kepala desa Jatisari pertama yang melanjutkan jabatan Kepala Desa Pamulihan, sedangkan untuk kepala Desa Pamulihan (desa induk) diadakan lagi pemilihan kepala desa. Dari hasil pemilihan tersebut maka terpilihlah Bapak S. Martadimeja. Sebelumnya Bapak S. Martadimeja menjabat sebagai Jurutulis Desa Pamulihan. Beliau lebih dikenal dengan panggilan Kuwu Sarkoma.

Pada masa pemerintahan Kuwu S. Martadimeja, pembangunan di Desa Pamulihan terus berjalan. Kendaraan roda empat pun sudah bisa masuk ke Desa Pamulihan karena jalannya sudah cukup lebar dan cukup baik untuk ukuran di pedesaan. Begitu pula dalam pembinaan masyarakat cukup terbina dengan baik karena wilayahnya yang tidak terlalu luas.
Bapak S, Martadimeja memimpin Desa Pamulihan dari tahun 1984 – 1994. Pada waktu beliau memimpin Desa Pamulihan periode kedua dari tahun 1992 – 2000, pada tahun 1994 beliau sakit dan meninggal dunia. Sebagai penggantinya terpilihlah Bapak S. Wardjo.

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN S. MARTADIMEJA 1984 – 1994

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu: S. Martadimeja
2 Sekretaris Desa :Darman
3 Kaur Pemerintahan: Suherlan
4 Kaur Ekbang: S. Taryaman
5 Kaur Keuangan :Didi Taryandi
6 Kaur Kesra :Carwan K
7 Kaur Umum: Kurja
8 Kep. Dusun Manis: Suherman
9 Kep. Dusun Pahing :Sukanta
10 Kep. Dusun Puhun: Karyo

Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan

4. Masa Pemerintahan Kuwu S. Wardjo (tahun 1994 – 2010)

Sebagai pengganti Bapak S. Marta Dimeja, terpilihlah Bapak S. Warjo. Sebelumnya Bapak S. Wardjo sebagai pembina desa dari TNI/AD

Pada masa pemerintahan S. Warjo Desa Pamulihan sudah bukan desa terisolir lagi. Jalan dari Kota Kabupaten Kuningan menuju Kecamatan Subang dan Desa Pamulihan, begitu pula dari Desa Pamulihan menuju Rancah, Ciamis sudah diaspal dengan baik dan berkat upaya aparat pemerintah desa bersama Panitia pemasangan listrik, pada tahun 1996 listrik mulai masuk dan bersinar menerangi desa Pamulihan.

Pada tahun 1997 Desa Pamulihan meraih juara K3 tingkat Kabupaten Kuningan, sedangkan untuk tingkat provinsi tidak dilaksanakan sehubungan dengan adanya krisisi moneter.

Mendekati berakhirnya masa pemerintahan S Warjo diadakan pembangunan Balai Desa Pamulihan. Dalam waktu yang hamper bersamaan di Desa Pamulihan pun dibangun Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri yang diberi nama SMP Negeri 2 Subang yang terletak dekat Kampung Kembanglopang. Dan mulai beroperasi pada tahun pelajaran 2009/2010.
Perekonomian masyarakat terus meningkat. Pendidikan generasi muda pun terus ditingkatkan. Banyak generasi muda Desa Pamulihan yang sudah meraih gelar sarjana. Penduduk Desa Pamulihan pun banyak yang mencari nafkah di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung , Bogor, dan Surabaya.

Namun disayangkan generasi muda yang merupakan generasi penerus, setelah meraih sukses di perantauan mereka pada umumnya tidak mau kembali lagi ke Desa Pamulihan, mereka memilih menetap di perantauan, sehingga lahan-lahan pertanian yang ada di Desa Pamulihan tidak dapat dikelola secara maksimal.

S. Warjo memimpin Desa Pamulihan selama dua periode. Periode pertama dari tahun 1994 sampai tahun 2002 dan periode kedua dari tahun 2002 sampai tahun 2010.

PAMONG DESA MASA PEMERINTAHAN S. WARDJO 1994 – 2010

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu: S. Wardjo 1994 – 2002
2 Sekretaris Desa :M. Suherman
3 Kaur Pemerintahan: Darsoman
4 Kaur Ekbang :Dadi Setiawandi
5 Kaur Kesra :Tajudin
6 Kepala Dusun Manis: T. Taryaman
7 Kep. Dusun Pahing :Supriyadi
8 Kep. Dusun Puhun: Karyo

Pamong Desa
1 Kepala Desa/Kuwu :S. Wardjo 2002 – 2010
2 Sekretaris Desa: ………………………………….
3 Kaur Pemerintahan :Dadi Setiawandi
4 Kaur Ekbang: Aan Rusgandi
5 Kaur Kesra: Tajudin
6 Kepala Dusun Manis: T. Taryaman
7 Kep. Dusun Pahing :Yodi
8 Kep. Dusun Puhun R. Rusdayat
Sumber data : Dokumen Desa Pamulihan

BAB V

PENETAPAN HARI JADI LAHIRNYA DESA PAMULIHAN

Hasil penelusuran alur-alur sejarah yang telah diuraikan di atas merupakan karya putra dan putri warga Desa Pamulihan, khususnya putra putri yang berada diperantauan yang memiliki rasa cinta ke tanah kelahirannya yang tinggi, mempunyai ikatan batin yang kuat dan merasa senasib seperjuangan dalam mewujudkan cita-citanya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di perantauan.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, para perantau yang berada di Bekasi pada tanggal 4 April 1977 berkumpul di rumah Bapak E. Sukarsa Wirananggapati. Dari pertemuan tersebut mereka sepakat untuk membentuk suatu organisasi yang mengikat para perantau dari Desa Pamulihan yang berada di Bekasi. Organisasi tersebut diberi nama Ikatan Kekeluargaan Warga Pamulihan yang disingkat menjadi IKWP yang menjadi visi dari organisasi ini yaitu “kesempurnaan rohani, kesempurnaan jasmani dan kesempurnaan sosial.”

Sampai saat ini IKWP yang telah disempurnakan menjadi IKWP Jaksi (Ikatan Kekeluargaan Warga Pamulihan Jakarta dan sekitarnya) merupakan satu-satunya organisasi kekeluargaan warga Desa Pamulihan yang berada di Bekasi, Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Karawang, dan Cilegon yang dapat menggerakan berbagai kegiatan sosial keagamaan dan sosial kekeluargaan. Kegiatan tersebut antara lain: mengadakan acara arisan sebagai ajang silaturahmi, memberikan santunan atau bantuan, peningkatan kesejahteraan para anggota, membantu dalam bidang pendidikan, mencari pekerjaan, serta memikirkan dan memberi bantuan baik moril maupun material untuk kemajuan Desa Pamulihan.

Dalam rangka mempererat dan menjaga tali silaturahmi agar tetap terjalin, anggota IKWP selain mengadakan arisan juga mengadakan kegiatan kesenian, olah raga dan acara halal bihalal.

Kegiatan halal bihalal ini di samping untuk memupuk dan meningkatkan rasa cinta tanah kelahiran dan menjalin silaturahmi yang lebih luas, juga sebagai ajang untuk dapat memberi dan menerima berbagai informasi, serta untuk dapat menumbuhkembangkan rasa percaya diri para anggotanya. Dengan berkumpulnya anggota IKWP di satu tempat dalam jumlah yang cukup besar, dapat memberikan motivasi ke dalam jiwa masing-masing untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan di perantauan yang serba globalisasi dan penuh persaingan.

Pada masa kepengurusan IKWP Jaksi dipegang oleh: Ketua : Edos Iman Saputra Wakil Ketua : Taryo Eman Sukmana Sekretaris I : Kardjo Karmasasmita Sekretaris II : E. Kartama Bendahara I : O.K. Zainudin Bendahara II : Tjarwa Hermana.
Kegiatan acara halal bihalal diprogramkan diadakan dua tahun sekali dan mulai tahun 1995, 1997, 1999, 2001 acara halal bihalal ini selalu dilaksanakan di Bekasi dengan pesertanya para anggota IKWP dari Jakarta, Bekasi, Karawang, Depok, Bogor dan Cilegon.

Berdasarkan musyawarah para pengurus IKWP dan peserta arisan, acara halal bihalal tahun 2003 akan dilaksanakan di Desa Pamulihan pada tanggal 26 November 2003 bertepatan dengan tanggal 2 Syawal 1424 H bertempat di alun-alun Balai Desa Pamulihan. Acara halal bihalal ini merupakan gabungan antara warga perantauan dan masyarakat desa Pamulihan.

Panitia penyelenggaraan acara ini pun merupakan gabungan dari warga perantau dan masyarakat Desa Pamulihan. Yang ditunjuk sebagai panitia disepakati :

Ketua : Kardjo Karmasasmita (dari Bekasi)
Wakil Ketua : Yusuf Ediyanto (dari Pamulihan)
Penasehat : a. S. Wardjo selaku Kepala Desa Pamulihan, b. Edos Iman Saputra selaku Ketua IKWP.

Dalam rapat persiapan, panitia mendapat mandat dari para tokoh masyarakat dan aparat/pamong desa Pamulihan, agar dapat menetapkan hari jadi (hari ulang tahun desa Pamulihan), dan sekaligus pada acara halal bihala tanggal 26 November 2003 dapat mengumumkannya kepada masyarakat, karena acara halal bihalal ini merupakan musyawarah paling lengkap, gabungan antara warga perantau dan masyarakat Desa Pamulihan.

Panitia bersama pamong desa dan beberapa tokoh masyarakat sebagai nara sumber beberapa kali mengadakan rapat antara lain di rumah Ibu Juju Juhriah, di rumah Bapak Yusuf Ediyanto, dan di Balai Desa. Agenda utama rapat tersebut adalah membahas data dan fakta sejarah yang ada, serta menelusuri para kuwu dan pamong desa pertama sampai sekarang. Dari hasil penulusuran tersebut diketahui bahwa kuwu pertama yang menjabat kepala Desa Pamulihan adalah Bapak Wiradinata, yang lebih dikenal dengan panggilan Bapak Kuwu Sajong. Beliau diangkat menjadi Kuwu Desa Pamulihan kira-kira pada tahun 1870 M, dengan demikian pada tahun 2003 Desa Pamulihan sudah berumur 133 tahun.

Dari Data dan fakta itulah panitia menyusun konsep Keputusan Kepala Desa Pamulihan. Karena tanggal dan bulannya sulit diketemukan, maka panitia menyampaikan usulan tanggal dan bulan untuk diperingati sebagai hari ulang tahun Desa Pamulihan yaitu tanggal 2 bulan Syawal, dengan pertimbangan pada tanggal 1 dan 2 Syawal pada umumnya warga perantau pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama sanak saudaranya di Pamulihan.

Pada hari Rabu tanggal 26 November 2003 bertepatan dengan tanggal 2 Syawal 1424 H acara halal bihalal dilaksanakan dimulai pukul 8.00 WIB. Acara tersebut dihadiri oleh para ketua RT, Ketua RW, Tokoh masyarakat (sesepuh dan alim ulama), masyarakat Desa Pamulihan utusan dari tiap dusun dan masyarakat yang berada di sekitar balai desa serta para perantau. Acara dibuka dengan sambutan ketua panitia halal bihalal, dilanjutkan dengan sambutan Bapak Kuwu dan siraman rohani dari tokoh agama. Selesai acara sambutan dan siraman rohani dilanjutkan dengan acara musyawarah penetapan hari ulang tahun (hari jadi) desa Pamulihan.

Konsep keputusan kepala Desa Pamulihan tentang Hari Jadi Desa Pamulihan yang telah disusun oleh panitia dibacakan oleh Bapak S. Wardjo selaku Kepala Desa Pamulihan. Penjelasan pendukung yang didapat dari para nara sumber dijelaskan kepada forum halal bihalal dan sekaligus meminta tanggapan dari hadirin.

Yang pertama memberikan tanggapan, Bapak Uri Suhari. Beliau menyatakan bahwa prosedur penetapan suatu peraturan desa atau keputusan kepala desa apalagi menyangkut sejarah dan hari ulang tahun (hari jadi) desa, tidak bisa dalam forum seperti ini, tetapi harus melalui rapat-rapat pendahuluan, rapat lanjutan dan rapat paripurna yang dilaksanakan secara resmi. Jadi untuk menentukan hari ulang tahun desa ini tidak bisa disahkan pada hari ini. Namun usulan dan tanggapan tersebut tidak mendapat respon hadirin.

Tanggapan selanjutnya disampaikan para tokoh masyarakat, baik dari tokoh masyarakat desa Pamulihan maupun dari wakil warga perantau. Pada umumnya mereka memberi dukungan dan desakan kepada Bapak S. Wardjo selaku Kepala desa, agar konsep tersebut ditetapkan dan disahkan pada hari ini juga. Dengan pertimbangan forum ini merupakan forum musyawarah desa yang paling lengkap karena dihadiri oleh seluruh pamong desa, tokoh masyarakat, seluruh Ketua RT dan Ketua RW, perwakilan masyarakat desa Pamulihan dan masyarakat perantau. Para tokoh yang memberikan dukungan dan persetujuan antara lain: Iman Sukirman, Junadi, A. Hartono Wirananggapati, O.K. Zainudin, Yusuf Ediyanto, Tardi termasuk Bapak Suheri (mantan kepala Desa), Ibu Djuju Djuhriah dan Bapak S. Haryadi.

Panitia halal bihalal sebagai penyusun naskah yang sekaligus sebagai peserta dan pelaksana musyawarah memberikan pertimbangan kepada Bapak S. Wardjo yang masih berdiri di atas podium sebagai berikut:

1. Dorongan dan desakan tokoh masyarakat yang menyetujui agar panitia memberikan saran kepada Bapak S. Wardjo untuk segera mengambil keputusan.
2. Suara yang menyetujui ditetapkannya Hari Ulang Tahun Desa (hari jadi) Desa Pamulihan telah memenuhi korum.
3. Yang memberi sanggahan hanya satu orang, berarti yang lainnya mendukung dan menyetujuinya.

Berdasarkan pertimbangan yang disampaikan panitia halal bihalal, maka Bapak S. Wardjo selaku Kepala Desa Pamulihan dan pemimpin musyawarah, mengajuka pertanyaan kepada hadirin. “Apakah Ibu, Bapak, dan Hadirin sekalian setuju bahwa Desa Pamulihan pada tahun 2003 ini sudah berusia 133 tahun, dan tanggal 2 Syawal dijadikan sebagai hari jadinya Desa Pamulihan?” Hadirin menjawab secara sepontan dengan ucapan “setuju” dibarengi dengan tepuk tangan yang meriah. Setelah mendengar sambutan hadirin yang menyatakan persetujuannya, maka Bapak S. Wardjo selaku Kepala Desa pun menanda tangani konsep Keputusan tersebut menjadi Keputusan Kepala Desa Pamulihan.

Dengan Keputusan Kepala Desa Pamulihan yang menetapkan usia Desa Pamulihan pada tahun 2003 berusia 133 tahun dan tanggal 2 bulan Syawal sebagai hari jadinya Desa Pamulihan, maka konsekuensinya aparat desa bersama-sama dengan masyarakat Desa Pamulihan setiap tanggal 2 Syawal berkewajiban untuk memperingatinya sebagai hari jadinya Desa Pamulihan.

Setelah acara halal bihalal selesai pada sore hari berikutnya panitia mengadakan rapat pembubaran panitia. Pada Acara tersebut para tokoh masyarakat Desa Pamulihan menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada IKWP Jaksi yang telah memprakarsai musyawarah untuk menetapkan hari jadinya Desa Pamulihan.

Data dan fakta hasil penelusuran alur sejarah para Kuwu Desa Pamulihan diserahkan kepada pengurus IKWP Jaksi untuk ditindak lanjuti, disusun dan dilengkapi serta dijadikan buku sejarah lahirnya Desa Pamulihan.

Berlandaskan mandat tersebut pengurus IKWP Jaksi mengadakan beberapa kali rapat, bertempat di Yayasan Mandalahayu. Rapat tersebut membentuk Tim Penyusun Sejarah Lahirnya Desa Pamulihan, pembagian tugas secara kelompok untuk mencari data pendukung, menyusun out line atau kerangka penulisannya serta masing-masing kelompok mulai menulis.
Susunan Tim tersebut adalah sebagai berikut:

Pengarah :

1. H. E. Achmad Lazuardinour.
2. Edos Iman Saputra.

Ketua : Kardjo Karmasasmita.

Sekretaris : O.K. Zainudin.

Anggota :

1. E. Kartama.

2. Ujang Dulhadi

3. Tjarwa Hermana

4. Siti Hunah

5. Momon Suratman

6. Waryoma.

Tim penyusun dengan data yang ada terus berupaya mencari data lainnya sebagai pendukung data yang sudah ada, terutama data dan fakta masa pra Desa Pamulihan dari para tokoh masyarakat baik yang berada di Jakarta dan sekitarnya, di Kuningan, di Subang, maupun yang berada di Desa Pamulihan, yang sedikit banyak mengetahui perjalanan sejarah Desa Pamulihan.

Ternyata penulisan sejarah ini tidaklah mudah, dan memerlukan waktu yang cukup panjang, karena tidak adanya bukti-bukti tertulis dan tokoh masyarakat yang mengetahui sejarah perjalanan Desa Pamulihan pun jumlahnya tidak banyak. Namun demikian dengan waktu yang cukup lama kurang lebih 6 tahun, ahamdulillah akhirnya Sejarah Lahirnya Desa Pamulihan terwujud juga.

Apabila data dan fakta sejarah yang ditulis tim penyusun dalam buku sejarah ini ternyata salah dan ditemukan data dan fakta sejarah yang sebenarnya dan dengan ditunjang bukti tertulis atau tokoh masyarakat yang mengalaminya, kami tim penyusun dengan senang hati akan merevisi buku sejarah ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT memberkati kita semua. Amin.

About pamulihan

Editor

Posted on July 29, 2012, in Sejarah. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. alhamdulilah, ini adalah kebanggan kita bersama

  2. Almarhum bapak sya bernama Atmawisastra,apakah ada hubungannya dengan desa ini. Kami semua putra putrinya lahir di Medan,jadi tidak memahami silsilah.mohon petunjuk

  3. mungkin kisah sejarah ini ada samanya di kisah kami…
    coba di cari di scribd.com ( kisah panembahan agung giri – manggala )
    atau di blog badungbanget.com ( wangsit mataram islam )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 546 other followers

%d bloggers like this: